Untuk Dorith, anak-anak dan cucu-cucu kami

Pengarang: Fried Muller. Di terjemahkan dari Bahasa Belanda oleh Sugihardjo Adirono.

 

 

Kisah ini adalah satu halaman web, sekarang masih 141 KByte teks dan 2.522 KByte gambar.

Ada navigasi: "bab" Daftar Isi memberi daftar link-link ke bab-bab berikut. Kalau di klik atas salah satu link, maka bab terpilih muncul dalam jendela browser.

Setiap titel bab adalah link kembali ke Daftar Isi.

Kisah ini juga bisa di print: pukul Ctrl+p .

Daftar Isi

Kenangan masa kecilku melayang kembali ke pulau Jawa, Indonesia, dan mencakup periode tahun 1937-1951.

Ejaan kata-kata Indonesia dalam kisah ini disesuaikan dengan yang dipakai waktu itu; untuk itu saya minta maaf.

Di sana-sini ada lelucon-lelucon dan terkadang kisah sedih yang saya tuliskan di atas kertas untuk pertama-tama diteruskan kepada keluargaku dan juga para calon pembaca tentang apa yang terjadi pada waktu itu di wilayah yang dulu bernama Hindia Belanda di sekitar kehidupanku yang bergolak.

Banyak orang yang pernah tinggal di Indonesia saat itu tidak merasa asing dengan kisah pengalamanku. Mungkin mereka akan merasakan banyak kesamaan dengan kisah hidup mereka sendiri.

Saya ingin agar keturunanku nantinya mengetahui apa yang telah mendorongku sehingga mengisi kehidupan seperti ini, dan bahwa sebagian besar telah berhasil. Semua itu diperoleh tidak dengan mudah, melainkan banyak darah, keringat dan air mata tercurahkan. Tidak selalu ada wewangi mawar dan sinar bulan, tetapi aku tidak pernah membiarkan kemunduran mendominasi.

Adalah kemunduran-kemunduran ini yang telah membentuk karakterku, dan sekali target telah kupilih maka tak akan aku dapat dibelokkan lagi.

./beeld/stoomloc.jpg
Lokomotif uap, pelari cepat

Tentunya ini mulai tahun 1937 saat aku bisa ingat bahwa kami tinggal di Cibatu (Tjibatu). Cibatu adalah sebuah desa kecil yang terletak di persimpangan jalan kereta api Bandung-Yogyakarta dan juga menuju Garut.

Ayahku menjadi masinis kereta api, dan waktu itu ditempatkan di Cibatu. Untuk perkeretaapian, Cibatu adalah tempat yang penting.

Di sini kereta-kereta api dengan lokomotif uap ditukar. Kereta api tujuan Bandung dipasangi lokomotif gunung, dan kereta dari Bandung ke Yogyakarta mendapat lokomotif pelari cepat untuk tanah datar.

Di sana ada bengkel tempat lokomotif-lokomotif diservis atau diperbaiki. Di tempat itu ada juga meja putaran besar tempat lokomotif-lokomotif dapat diputar arahnya. Jika ada dua lokomotif perlu durubah-arahkan secara berturut-turut untuk menarik kereta api berat di pegunungan atau menarik kereta api panjang ke Yogya, maka bagian depannya perlu dihadapkan ke arah yang benar. Hal ini untuk mencegah supaya masinis dan tukang penuang batu bara di lokomotif kedua tidak terbakar badannya kalau kabin tempat kerjanya terbuka menghadap ke arah yang salah.

Ayahku tidak hanya bekerja sebagai masinis, tetapi juga sebagai tenaga mekanik di bengkel bersama rekan-rekannya saat perbaikan lokomotif.

./beeld/stoomloc2.jpg
Wijk dengan topi di tangan.

./beeld/cibatu_stat_13ap09.jpg
Setasiun Cibatu 13 April 2009

Cibatu juga merupakan tempat dari mana dikirimkan semua produk perkebunan-perkebunan teh, kopi dan kina di sekitar Garut ke kota-kota besar yang ada pelabuhannya.

Cibatu terdiri dari sebuah stasiun kecil dengan lapangan kecil yang bulat di depan setasiun dan agak jauh ada sebuah jalan panjang dengan deretan rumah-rumah tinggal para pekerja kereta api.

Sejauh yang saya ingat, yang tinggal di sana hanyalah orang-orang yang bekerja di perkereta-apian, dan di ujung jalan ada toko-toko dan pasar dan selanjutnya sebuah kampung.

Tidak ada listrik, dan di malam hari dinyalakan lampu-lampu Petromax (dengan penyala spiritus). Bagiku hal ini selalu sangat menarik bagaimana melakukannya, mungkin karena berbahaya bisa kebakaran.

Waktu itu aku sekolah di Garut (Garoet); mula-mula di taman kanak-kanak Cina. Aku ingat bahwa tak satu kata pun kupahami dari apa yang dikatakan dan dibicarakan. Kerjaku banyak menempel-nempel dan merwarna-warnai.

Abangku Ries duduk di sekolah dasar tempat saya nantinya juga pergi. Kami berangkat pukul 7 pagi naik kereta api ke Garut, tetapi terlebih dahulu di setasiun membeli semacam wafel, kue pukis (kue berbentuk pukis yang terbuat dari santan kelapa) untuk dimakan selama perjalanan di kereta. Aku sangat menyukainya, dan itu menjadi kebiasaanku tiap pagi. Tanpa wafel ini aku tak akan naik kereta.

Perjalanan makan waktu hampir satu jam dan kami diantar oleh seorang jongos (pembantu rumah). Pukul 4 sore kami melaju pulang dan perjalanan makan waktu hanya setengah jam karena jalanan menurun.

Rumah-rumah pekerja kereta api berupa sebuah bangunan utama dari batu (lihat foto 1) di mana kami tinggal dan bangunan samping tempat para pembantu rumah tinggal. Dapur, kamar mandi dan toilet juga ada di sana. Dekat kami tinggal keluarga-keluarga Erdzik dan Breuer.

./beeld/huizemuller.jpg
Duduk memakai kimono adalah bibi saya.

Banyak rumah di daerah tropis berbentuk demikian. Rumah-rumah tembok batu bata dan ubin berwarna merah. Bangunan utama kebanyakan terdiri dari sebuah ruang makan/duduk, tiga kamar tidur dan ruangan tamu terbuka yang biasanya untuk duduk-duduk atau pada saat ada pesta digunakan sebagai ruang dansa.

Untuk ruang masuk kami pasang korden dari anyaman pandan, yang tergantung sampai ke atas lantai, dan bahkan sebagian tergeletak santai di lantai, tetapi malahan untuk tidur-tiduran, namun akibatnya korden menjadi tegang karena tertarik bila ada yang tiduran.

Itulah sebabnya mengapa begitu cepat ada tongkat rotan datang padaku bila ibuku melihatku tiduran di atas korden anyaman karena di lantai terlalu dingin.

Semua tamu dan kenalan diterima di ruang tamu. Ibu-ibu tetangga suka di sini pada hari-hari main kartu dan bergosip pagi hari. Kalau paman-pamanku datang, di situ kami selalu makan atau main musik, dan menjadi ruang budaya.

Sejauh yang aku ingat, di Cibatu tidak ada penjual sate atau mie seperti di kota-kota besar, tempat berbagai penjaja makanan menjual dagangannya setelah pukul 6 sore di sepanjang perumahan. Lewat pukul 6 sore suasana jalanan depan rumah kami di Cibatu biasanya mati. Di belakang rumah kami juga ada jalanan, namun aku tidak pernah tahu menuju ke mana jalan itu. Di situ selalu sepi sekali.

Di rumah makanan selalu dimasak sendiri karena kami mempunyai tukang masak yang pandai yang bernama Rukisah. Dia sulap segala macam hidangan keluar dari lengan bajunya. Dia seorang perempuan muda yang cekatan, tidak begitu cantik, tapi sangat baik. Dia banyak melindungi adik perempuanku, Reina.

Rukisah biasanya juga yang belanja di pasar lokal, suatu tugas serius, mengingat banyaknya anggota keluarga yang tinggal di akhir minggu dan yang sengaja datang untuk makan enak. Begitulah setiap akhir minggu. Rasanya tidak ada minggu yang berlalu tanpa ada tamu.

Pada hari Minggu kami sering pergi ke danau Bagendit yang terletak begitu indah di sela-sela pegunungan. Atau pergi ke Cipanas (Tjipanas) yang ada sumber air panas dan sebuah kolam renang kecil beratap dengan air hangatnya yang jernih berbau belerang. Seluruh daerah tempat kami tinggal sangat vulkanis dan dimana-mana ditemukan sumber air panas.

./beeld/bagendit.jpg
Danau Bagendit dekat Cibatu.

Mengenai gereja, saat itu kami tak pernah mendengarnya, apalagi mengunjunginya. Di rumah kami tidak pernah berbicara tentang gereja atau agama. Terlebih lagi, tak ada tempat atau jalan di sekitar Cibatu di mana dapat ditemukan gereja. Sungguh mengherankan, masjid juga tak ada meskipun penduduk setempat sangat fanatik dalam berkepercayaan.

Di belakang rumah kami banyak bebek, ayam dan angsa dan bahkan seekor anak kambing ada di kebun kami. Angsa-angsa dipakai sebagai anjing penjaga melawan pencuri dan ular.

Orang bisa mati karena ular. Terutama di musim hujan, ular-ular keluar dari semak-semak di sekitar rumah. Adikku lelaki pernah digigit ular dan terpaksa lama dirawat di poliklinik Garut. Di sana aku selalu berjalan membawa tongkat rotan bulat dan belajar dari tukang kebun kami bagaimana melumpuhkan ular dengan satu pukulan yang tepat. Aku menjadi ahli di bidang itu.

Seluruh wilayah di sekitar Cibatu dan Garut merupakan wilayah penganut Islam fundamentalis dan belakangan menjadi sarang gerakan Darul Islam serta gerakan teroris yang menentang semua yang bukan Muslim, sebuah kelompok ekstremis yang sangat ekstrim.

Cibatu juga tempat di mana selama periode Siaga perang kemerdekaan Indonesia banyak orang dibunuh oleh Darul Islam.

Saya juga dilatih, meskipun saat itu masih kecil, untuk belajar seni bela diri pencak. Ayahku telah menyewa seorang pelatih pria dan sekali seminggu kami diajari pencak silat selama setengah jam.

Aku tidak ingat apakah aku pernah menggunakannya karena terpaksa; bahkan di kemudian hari pun. Kepandaian ini memberikan kepada Anda rasa lebih aman bila berjalan-jalan dan tidak merasa takut kalau sampai di sekolah ada anak yang lebih besar mencoba-coba.

Di sana kalau Anda menjadi pendatang baru di sekolah dasar, Anda akan berhadapan dengan para jagoan (djago - ayam jantan sabungan) yang ada dan ditantang untuk mengetahui apakah Anda berani melayani rasa haus mereka.

Mereka pernah mencobaku sekali, dan beberapa jurus pencak-silatku dapat menghalau mereka jauh-jauh dariku untuk selamanya. Ada baiknya juga waktu itu karena ayahku sangat menghkhawatirkan keadaan kami.

Kami juga mempunyai babu perempuan tukang cuci pakaian bernama Cuci; "c" dibaca seperti "tj". Sementara itu aku juga punya kakak lelaki bernama Ries dan adik perempuan Reina, tetapi akulah yang sejak usia dini selalu mendapat pukulan; itulah yang ada dalam pikiran dan perasaanku waktu itu.

Pukulan-pukulan yang aku terima dari ibuku sebanyak yang kuterima dari tante-tanteku yang selalu banyak jumlahnya tinggal di rumah kami. Babu Cuci selalu menjadi tempat pelarianku. Aku selalu lari kepadanya untuk bersembunyi jika ada yang karena alasan tertentu ingin memberi pukulan padaku atau karena alasan lain apapun.

Dia melebihi ibuku sendiri. Aneh rasanya bila menceritakan hal itu, tetapi begitulah aku tumbuh, karena dialah yang selalu memberiku makan dan asuhan. Kalau ada bahaya dialah tempatku berlindung.

Babu Cuci mengajar aku bicara bahasa Indonesia. Dia juga memberiku nama "Sinyo", yang berarti "anak muda" dalam bahasa Melayu. Kata ini berasal dari bahasa Portugis tatkala mereka merupakan orang Eropa pertama yang datang ke Hindia sekitar tahun 1590.

Bahasa Melayu waktu itu merupakan bahasa oriental yang dibumbui dengan banyak kata dari bahasa Barat, Arab dan Cina, dari masa lalu kolonial Indonesia, dan karena itu mudah dipelajari.

Kami mempunyai tiga orang pelayan seperti halnya di Indonesia dan di negara-negara tetangga, setiap keluarga yang berada mempunyainya, dan begitu juga kami. Ini tidak ada hubungannya dengan kolonialisme, karena orang-orang Cina dan Indonesia juga mempunyainya, itu adalah gaya hidup tropis

./beeld/penjual_anak.jpg
Belum ada becak di Cibatu.

Itu adalah kebiasaan hidup yang normal. Hakekatnya itu adalah kebiasaan sosial, karena pembantu rumah kebanyakan termasuk dalam kelompok termiskin dalam masyarakat, dan dengan mempekerjakan mereka maka Anda memberi mereka makan setiap hari dan pada akhir bulan sejumlah uang dan saat Lebaran, yaitu periode setelah Ramadhan, mereka mendapat uang untuk membeli pakaian baru dan hadiah untuk keluarganya.

Dari ayahku mereka menerima tiket kereta api sehingga mereka dapat melakukan perjalanan ke keluarga mereka naik kereta api. Jika mereka tidak mempunyai keluarga, maka mereka tetap tinggal di rumah dan pergi dengan kenalan-kenalan dan teman-teman mereka yang bekerja di tetangga-tetangga kami ke tempat-tempat perayaan. Perayaan ini kebanyakan hanya berupa makan-makan dan minum-minum enak. Minuman keras yang mengandung alkohol jarang dipakai oleh para pelayan. Setidaknya tidak dipakai oleh pelayan-pelayan kami.

Ayahku pada waktu itu mempunyai sebuah mobil Ford (tidak tahu dari siapa).

./beeld/auto_muller.jpg
Wijk dan Paula duduk di anak tangga dan Tine di bangku

Kami jarang bepergian naik mobil, setidak-tidaknya dengan ayah, dan ibu membereskan semuanya sendiri dan menaikkan kami ke dalam mobil. Mobil melaju melalui tikungan-tikungan sepanjang jalan-jalan sempit ke tempat-tempat yang tidak dikenal.

Kami selalu merasa tegang karena ketakutan dan rasa haus tanpa mengeluarkan kata-kata protes. Rasa sesak nafas bukan karena kekurangan udara.

Jalanan di waktu itu sempit-sempit dan dpakai oleh para petani yang membawa barang-barangnya ke pasar untuk dijual.  Barang-barang dagangan itu kebanyakan ditempatkan dalam keranjang-keranjang yang dikaitkan di ujung pikulan bambu dan dipikul di atas pundak mereka.

Dengan demikian banyak keranjang pikulan melintang jauh ke tengah jalanan dan akibatnya kalau ada mobil atau bis lewat bisa menyerempet keranjang hingga hilang keseimbangannya dan membuat si petani jatuh terpelanting ke dalam selokan. Itulah buat pertama dan terakhir kali kami jalan-jalan naik mobil bersama ibu.

Belakangan, ketika kami sudah tinggal di Belanda, ibu sampai delapan kali mengikuti tes pengemudi mobil tanpa berhasil dan itu terjadi karena penglihatannya buruk namun dia tidak mau menyerah dan lebih baik tidak mengendarai mobil.

Kami biarkan semua berjalan demikian dan ibu boleh terus ikut bepergian bersama kami.

Kami tinggal di sebuah rumah milik jawatan kereta api di satu-satunya jalan di Cibatu di antara para pekerja kereta api lainnya. Ernst Frank (lihat foto) tinggal persis di sebelah stasiun. Ayahnya adalah kepala stasiun. Keluarga Croese mempunyai dua anak laki-laki, Ronald dan Beke yang seumurku. Keluarga Baron mempunyai banyak anak. Ada juga keluarga Bierhuis.

./beeld/ries_ernst_fried.jpg
Ernst Frank di antara kakak-beradik Ries dan Fried Müller.

Seingat saya di sana hanya tinggal orang-orang yang bekerja di jawatan kereta api. Di ujung jalan ada toko-toko kecil dan pasar. Toko yang terbesar milik Kung Ju Lung, seorang Cina. Di belakang pasar terletak kampung.

Di depan dan di belakang rumah kami ada kebun yang agak besar. Kebun di belakang rumah berbukit terjal dengan pagar yang rapat. Merapat di pagar dibuat kandang ayam dan di situ kami pelihara juga angsa untuk mencegah ular dan pencuri masuk.

Sebetulnya waktu itu pencuri tidak ada sama sekali di tempat kami dan di rumah-rumah sekitarnya. Pada waktu itu saya tidak pernah mendengar bahwa ada tetangga yang kecurian. Mereka tidak akan berani kalau saja mereka tahu bahwa banyak penghuni yang memiliki pistol (schrootgeweer) di rumahnya.

Anak kambing berkeliaran dan melahap segala sesuatunya, bahkan pakaian cucian, membikin jengkel babu Cuci. Babu cuci perempuan kami, yang juga ibu pelindungku, lantas menjerit-jerit keras dan anak kambing itu diusirnya dengan tongkat.

Untuk menyenangkan hatinya, aku letakkan sebuah tangga rendah di bawah talang, dan dengan bantuan kakakku kami taruh kambing itu di talang sebagai hukuman karena menarik-narik jemuran dan bahkan mencoba memakannya.

Para pembantu perempuan berlarian keluar rumah dan berteriak-teriak kasihan melihat anak kambing itu dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengadu karena tidak bisa menurunkan hewan itu. Akhirnya tukang kebun naik tangga dan membawa turun kambingnya.

Karena ada keributan maka ibuku keluar rumah dan langsung tahu siapa yang melakukan dan sebagai hasilnya aku merasakan pedihnya bekas pukulan tongkat rotan.

Kami tahu dari omongan bahwa penduduk setempat adalah orang-orang Islam yang taat tetapi juga percaya tahayul, seperti juga semua orang di Indonesia. Tempat kami tinggal dinilai oleh pemerintah sebagai wilayah fundamentalis dan sampai jaman Indonesia modern juga.

Di seluruh Indonesia, tanpa memandang agamanya, ada kepercayaan yang kuat bahwa semua orang sudah dari kecil dibesarkan oleh keluarga. Dunia roh sangat kuat dihormati dan sudah ada jauh sebelum semua kepercayaan baru mulai masuk.

Pohon beringin besar dengan akar yang bergantungan di udara merupakan tempat tinggal ideal bagi roh-roh jahat, yang secara teratur harus dihormati dengan persembahan dan doa-doa. Biasanya dipakai asap dupa dan makanan serta bunga, termasuk darah ayam atau darah kambing yang disembelih dipakai juga.

Tak seorang pun pernah menyaksikan munculnya hantu, baik di siang atau malam hari, tetapi di sana kisah-kisah hantu yang mengerikan ini diterima terutama oleh penduduk yang masih primitif dan yang berpendidikan rendah.

Mereka percaya akan adanya endas glundung, yaitu kepala yang menggelinding dan perempuan kuntil anak dengan lubang besar di punggungnya. Sebagian besar penduduk Indonesia mempercayainya.

Belakangan ketika aku sudah diberitahu oleh orang-orang Indonesia, aku selalu menjawab bahwa tahu di mana ada perempuan berlubang besar, tetapi tidak di punggungnya. Kebanyakan sering tidak mengerti maksudku, mungkin karena bahasa Indonesiaku tidak terlalu baik, tetapi yang tahu jatuh terguling-guling di tanah sambil tertawa terbahak-bahak.

Demikian pula jika hujan, Anda tidak boleh masuk ke dalam rumah sambil membiarkan payung terbuka karena bisa timbul masalah. Pokoknya ada ratusan tahayul.

Jika anda benar-benar percaya dan si sana masih ada beberapa tahayul, lebih baik anda membeli tali yang panjang untuk mempercepat akhir dari semua bahaya yang akan muncul.

Jika anda menanyakan petunjuk jalan kepada penduduk setempat, sedangkan mereka ingin anda tidak mengambil arah itu karena alasan tertentu, maka anda akan dibelokkan karena ada kemungkinan salah satu dari kedua bencana di atas akan Anda temui di jalan. Bahkan jika Anda mengajak mereka untuk menemani, mereka akan menolak.

Aku dengar dari para pelayan berbagai cerita horor untuk menutup-nutupi berbagai kejadian atau kejahatan lainnya. Banyak yang berjuang melawan racun, dan di Indonesia banyak macam racun, misalnya rambut bambu yang tercampur dalam makanan yang dapat membawa kematian penuh kesakitan akibat pendarahan internal.

Kepercayaan animisme lebih unggul sebelum semua agama dibawa masuk ke Indonesia, seperti Budisme, kemudian Hinduisme, terus Islam, dan setelah tahun 1600 juga agama Kristen di bawah pimpinan para Jesuit dengan bantuan pemerintahan kolonial.

Meskipun semua agama ada, namun animisme tetap mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan keagamaan orang-orang Indonesia.

Mengingat asal-usul campuran kami antara nenek-buyut Indonesia dan kakek-buyut Jerman, maka kami termasuk dalam kelompok Jerman dan selama di koloni asal-usul ini penting artinya.

Kami yang memiliki nenek moyang Jerman, dianggap sebagai kelompok superior. Mengapa, kami tidak tahu, tetapi begitulah kami diberitahu. Bukan oleh ayahku, melainkan oleh keluarga ibuku karena nenek moyang mereka tidak mempunyai darah Jerman, melainkan darah Belgia dan Indonesia.

Aku sendiri bimbang. Aku tidak bisa membayangkan bahwa kedudukan saya lebih unggul dari semua teman dan dari semua orang Indonesia. Waktu itu aku juga tidak bisa mengerti, tetapi saat itu orang-orang dipisah-pisah berdasar asal-usulnya, dan itulah tempat Anda dalam masyarakat kolonial.

Aku pikir sistem kolonial sendiri harus dilihat sebagai penyebabnya. Semua orang dalam koloni sibuk mementingkan silsilahnya sebisa mungkin sebab sistem kolonial adalah sistem berkasta seperti yang dialami orang India di negerinya.

Orang-orang Indonesia sebagai kasta terendah, tetapi ada masalah bagi kelompok berdarah campuran tempat aku berada, yang berasal dari kasta terendah dan kasta tertinggi, dan bila Anda dalam kelompok campuran terbagi-bagi, jadilah anda berada dalam kasta tertinggi sampai ke kasta terendah, dan sebaliknya dari kasta terendah sampai ke kasta tertinggi.

Jika Anda berada di antara dua kasta, maka anda ingin selalu berada dalam kasta yang tertinggi. Mengingat kedudukan dalam masyarakat yang dicapai di tingkat itu jauh lebih tinggi dari yang bisa dimiliki oleh kasta terendah.

Bagi saya itu adalah rasisme murni yang muncul dalam kehidupan sebagai akibat dari sistem kolonial. Kelompok campuran kami ditentukan tidak hanya oleh silsilah kelahiran, tetapi juga oleh warna kulit anda yang diwariskan oleh orang tua.

Dalam keluarga yang sama jumlah anak yang lahir dan berkulit putih bisa sebanyak yang lahir berkulit hitam, tetapi dalam sistim kolonial yang berkulit putih masalahnya jauh lebih sedikit dalam perkembangan karir mereka dibanding saudara laki atau perempuan mereka yang kulitnya lebih gelap.

Semakin banyak orang Eropa dikirim ke koloni, semakin banyak anak campuran yang lahir, maka semakin besar dan kuat kelompok campuran berperan dalam kehidupan masyarakat.

Aspek positif dari perkembangan ini adalah bahwa anak-anak campuran seringkali sangat tampan. Seringkali mereka lebih bagus dari orang tuanya. Namun dalam sistem kolonial, mereka otomatis di diskualifikasi dari kedudukan-kedudukan tertinggi karena tidak berdarah Eropa murni.

Kelebihan lain yang dimiliki kelompok campuran adalah bahwa mereka biasanya bisa berbahasa Belanda sehingga sangat cocok menjadi perantara antara penjajah dan kelompok penduduk Indonesia, tetapi sebelumnya kelompok campuran dianggap sebagai kasta budak, dan pada tahun 1869 tatkala perbudakan dihapuskan maka kelompok campuran, karena penilaian berdasar si ayah, maka mereka diakui sebagai kelompok Eropa.

Namun di mata orang Eropa, anda tetap dianggap sebagai kulit berwarna meskipun anda kawin resmi dengan pegawai negeri tingkat tertinggi. Ini adalah aturan hidup tak tertulis di koloni seperti Hindia.

Sebelum sampai ke tahap ini, telah terjadi proses pertumbuhan yang memakan waktu lama. Sejak kecil aku selalu sadar akan hubunganku dengan orang-orang Indonesia. Perasaan ini timbul sejak usia dini lebih alami daripada orang-orang Belanda yang jauh.

Oleh karena itu pertanyaannya adalah: kami ini orang Indonesia campuran atau Belanda campuran. Menurut perasaanku, kami termasuk kelompok pertama. Sebanyak yang menyangkut karakter, kami lebih tergolong pada keluarga ("clan") Asia.

Meskipun banyak grup orang Indo (campuran Indonesia-Belanda) yang merasa lebih Belanda meskipun warna kulit coklat mereka. Saya rasa ini karena perasaan kompleks rendah diri. Sebenarnya dengan cara itu mereka ingin memberi kesan bahwa mereka ingin diterima dalam kelompok orang Belanda karena upah kerja yang didapat bisa lebih baik atau supaya bos Belanda tidak menilainya sebagai orang imigran.

Kami di rumah dan di sekolah sering diindoktrinasi bahwa kami lebih cerdas daripada orang Indonesia. Aku sampai sekarang tak tahu mengapa selalu dibandingkan dengan orang Indonesia, sedangkan kami secara visual dan budaya lebih dekat ke grup ini daripada ke grup Belanda.

Jika aku ditanya siapa aku sebenarnya, aku selalu mengatakan bahwa aku adalah orang Indonesia dan aku bangga dengan jawaban itu. Jika Anda mencampur kelompok kami dia antara orang-orang Belanda atau orang-orang Indonesia, maka akan terlihat di antara orang Belanda siapa yang mempunyai darah campuran, tetapi hal ini tidak akan nampak kalau Anda berada di antara orang Indonesia. Itu tidak berarti bahwa kami, orang berdarah campuran, tidak terintegrasi di Negeri Belanda, tetapi sebaliknya.

Ada banyak klub orang Hindia. Pasar-pasar malam diadakan setiap minggu di Belanda. Di sana disajikan makanan Indonesia, dan pernak-pernik serta tekstil Indonesia dijual. Anda dapat membandingkan pasar-pasar itu dengan pasar-pasar Belanda yang biasa, di mana sebagian penduduk memperoleh uang.

Pasar-pasar malam ini menampilkan pada diriku gambaran bahwa kelompok Hindia kehilangan budaya aslinya dan melalui kesempatan-kesempatan itu mereka ingat kembali akan budaya makan dan asal-usul mereka.

Kami sering dikunjungi oleh para tetangga kami, van Erdsiek dan van Breuer. Kebanyakan mereka adalah ibu-ibu yang banyak bicaranya, dan rumah kami selalu penuh dengan keluarga perempuan pihak ibuku. Mereka selalu berbicara dan tertawa dengan suara yang keras. Aku tidak mengerti sama sekali perihal apa yang dibicarakan, dan hal itu membuat aku penasaran.

./beeld/buurvrouwen.jpg
Permainan kartu dengan perempuan-perempuan tetangga

Biasanya aku menjadi bosan bila ada di dekatnya, karena lalu ada pembicaraan dan cerita yang tidak boleh aku dengar. Aku tidak pernah bisa memahami apa yang diomongkan. Aku kira itu adalah gosip dan masalah keluarga yang terbaru. Waktu itu adalah dosa kalau gosip-gosip disampaikan kepada anak-anak.

Maka aku pun menjadi tahu mengapa kejadian yang dialami oleh kakek dari fihak ayahku tidak boleh dan tidak pernah dibicarakan, karena dilarang.

Kakek-buyutku adalah seorang petani keju Jerman bernama Gottfried Müller, berasal dari Bavaria dan sekitar tahun 1876 pindah ke Indonesia dan mempunyai seorang perempuan Indonesia. Tidak jelas apakah sudah dinikah, tetapi aku asumsikan tidak.

Namun demikian kakek saya memperoleh nama keluarganya, yang berarti kakek-buyut telah mengakui anak laki-laki yang lahir secara alamiah sebagai anaknya, dan dia telah didaftarkan di balaikota Depok.

Begitulah kakekku lahir, dan dia nikah dengan nenekku Oma "gemuk" Anna Sophia, dan mereka telah memperoleh tujuh orang anak. Oma Dik juga lahir dari pasangan campuran Jerman-Indonesia. Nama keluarga mereka adalah Knödler dan juga berasal dari Jerman selatan seperti halnya kakek-buyutku dari pihak ayah, keluarga Müller.

./beeld/fam_muller.jpg
1913 Keluarga-keluarga Müller, Ehrenkrohn dan Filet

Foto keluarga ini diambil pada tahun 1913 dengan Opa dan Oma M・ler dikelilingi oleh 4 orang anak-perempuan dan 3 anak lelakinya. Ke empat anak-perempuan adalah: Lotte, Trees, Toetoe dan Tottoh (berdiri di baris belakang dan satu yang duduk) dan anak lelaki mereka: Vent, Wijk dan Tinus. Ke tiganya ada di tengah foto, dari atas ke bawah. Wijk duduk paling depan di tanah dengan kaki telanjang. Waktu itu tidak ada anak yang memakai sepatu, apalagi kalau di rumah.

Opa dan Oma berdandan untuk difoto. Opa adalah pegawai di Kementerian Peperangan dan menduduki jabatan yang sangat bagus.

Perbedaan umur antara anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan cukup besar. Itulah sebabnya mengapa anak-anak lelaki ketika masih kecil tidak boleh memanggil saudara perempuannya dengan nama kecilnya, melainkan memanggilnya dengan bibi (tante) dan baru kemudian menyebutkan nama mereka. Jika tidak, mereka bisa dipukul di celana.

Jika anda memisahkan foto di atas menjadi tiga bagian dan menarik garis vertikal, maka di sebelah kanan Opa berdiri dan duduk seluruh keluarga Ehrenkrohn dengan 6 orang anak. Garis vertikal di sebelah kiri Oma duduk dan berdiri keluarga Filet dengan 3 anak. Miring di belakang Oma nampak berdiri Toetoe, anak perempuannya.

Mengapa aku tidak pernah bertemu kakek, adalah suatu kisah tersembunyi, tetapi tidak seorangpun boleh tahu, termasuk para cucu, karena malu terhadap keluarga, tetangga dan teman-teman yang datang belakangan dan kebanyakan tahu perkaranya lebih lanjut dibanding kami, para cucu.

Belakangan kami tahu bahwa kakekku lari dengan adik perempuan nenekku, dan itu adalah rahasia dalam keluarga, dan itulah perkara keluarga kami.

Walhasil semua itu untuk melindungi agar nenekku tidak kehilangan muka akibat perkara keluarga ini. Saya pikir orang Indonesia juga akan berbuat begitu. Masalah-masalah keluarga tetap dirahasiakan, hal itu dianggap tabu, dan juga dalam budaya kami.

Kehilangan muka di negeri tropis merupakan azab malu yang besar, orang-orang melakukan segala usaha pencegahan agar tidak terjadi.

Jadi, ibu saya sebagai yang tertua dalam keluarganya, banyak saudara perempuannya - dan salah satu dari mereka benar-benar aku anggap sangat cantik, sering dikunjungi dan mereka tinggal bersama kami. Pada suatu hari ada obrolan di antara saudara-saudara perempuan ibuku di rumah, dan kami anak-anak disuruh pergi ke kebun. Obrolan mereka berlangsung sekitar satu jam.

Bertahun-tahun kemudian ketika saya sendiri sudah menjadi kakek, saya diberitahu bahwa suatu saat ayahku dan tante Geertje yang cantik (mula-mula menikah dengan paman Emiel Top馥, kemudian dengan wartawan Loebis) berbuat serong sehingga dia hamil, tetapi dia tidak tahu dari siapa, dan itu setidaknya yang diceritakan kepada saudara-saudara perempuannya.

Pada waktu itu belum ada pil untuk mengatasi situasi problematis serupa, tetapi alam memaksa mereka untuk mengambil risiko-risiko tertentu.

Waktu itu nenekku dari fihak ibu, meskipun sudah melahirkan sampai tujuh anak, masih tetap tidak tahu bagaimana dia setiap kali bisa hamil. Bisa jadi itulah usahanya untuk membuat kita menjadi bijak.

Daripada anak-anak tahu, lebih baik mereka merahasiakannya. Itulah cara yang ditempuh waktu itu supaya anak-anak tetap bodoh tentang kejadian-kejadian seperti ini. Itu pula yang terjadi pada bibiku yang juga tidak tahu bagaimana dia bisa menjadi hamil padahal dia belum nikah.

Dia diharuskan oleh keluarganya supaya cepat-cepat nikah dengan orang yang mereka pilih. Nah, hal itu terjadi karena bibiku tersayang yang sedang hamil tergoda kenakalan ayahku sewaktu ibuku tidak ada di rumah.

Pada waktu itu, barang siapa yang dalam keluarga secara finansial mempunyai kedudukan terhormat, maka semua dibolehkan; begitu pula dengan ayahku.

Namun ada saudara-saudara perempuan bibiku yang menganggap ayahku berbuat kesalahan besar. Mereka tidak melakukan kunjungan keluarga lagi, bahkan pada ulang tahun dan saat kelahiran.

Masalah keluarga ini juga di kemudian hari baru aku dengar dari salah satu saudara perempuan ibuku yang masih hidup.

Tidak banyak yang terjadi dalam keluarga kami. Kami mencari-cari berita biasanya dari teman-teman.

Aku jarang melihat ayahku, kebanyakan ketika dia pulang kerja. Biasanya aku menunggu dia di kebun sambil main kelereng dengan teman-teman. Biasanya aku berlari mendekat hanya untuk menyentuhnya sejenak agar yakin bahwa itu betul ayahku. Rasanya seperti aku merasakan getaran-getarannya. Biasanya dia membelai rambutku dan aku merasa sangat nyaman.

Hal itu menjadi seperti ritual. Terjadi berulang-ulang sampai perang tiba dan dia ditangkap oleh polisi militer (Kempetai) Jepang, dan pada saat itulah kebiasaan itu tiba-tiba hilang terhenti. Aku rindukan ritual itu sejak hari pertama dia ditangkap, saat aku berumur 8 tahun.

Ayahku sering membawa kami ke tempat kerjanya, tempat lokomitif-lokomotif diperbaiki, dan kami terkadang boleh berdiri di atas salah satu lokomotif uap yang ada. Sungguh suatu pengalaman besar karena boleh naik di atas mesin sebesar raksasa itu.

./beeld/stoomloc1.jpg
Seperti yang tua bernyanyi, yang muda mencicit.

Salah satu hobi saya sekarang adalah memberikan deskripsi teknis mengenai kereta api yang ditarik oleh lokomotif uap dari seluruh dunia. Saya sangat yakin bahwa apa yang dipelajari waktu masih kecil dan kemudian dilanjutkan, maka di usia lanjut akan tetap tertarik.

Aku pikir begitu juga dengan agama. Sekarang aku mengerti mengapa di daerah sekitar Cibatu para Muslim sangat kolot dalam beragama. Mereka mengajarkan kepada anak-anaknya sejak masih kecil apa arti agamanya bagi kehidupan mereka. Islam tetap menyala dalam diri anak-anak mereka dan mereka mempercayainya.

Hal ini terjadi pada semua orang beragama. Mula-mula, tatkala bagi orang-orang Indonesia tidak ada sekolahan, maka anak-anak diajari agama oleh para Imam. Bagi mereka tidak ada yang lain. Kemudian Indonesia menjadi koloni Belanda selama lebih dari 300 tahun, dan orang-orang mulai ingin melepaskan diri karena sudah terlalu lama dijajah.

Dua hal di atas secara bersama telah menumbuhkan pejuang-pejuang kemerdekaan yang religious. Begitu para pejuang kemerdekaan jenis itu mengulurkan tangannya yang bebas, maka korban pun berjatuhan.

Namun di sisi lain para pelopor (pemberontak) ini seperti burung bebas bisa digiring tanpa ampun oleh tentara kolonial Hindia Belanda.

Beberapa politisi Indonesia yang terkenal diasingkan ke Irian Barat (New Guinea) ke daerah Boven Digoel (di atas Digul), yang sangat jauh dari pantai sehingga tak mungkin melarikan diri.

Hal itu dialami oleh Sukarno yang kemudian menjadi presiden Indonesia yang pertama, dan juga oleh Moh. Hatta dan lainnya yang belakangan menjadi menteri-menteri Indonesia yang terkenal, dan semua itu terjadi pada tahun 1923.

Bahkan untuk tempat tinggal dan makanan mereka harus mengusahakannya di tengah hutan belantara. Hal itu menjadi salah satu tuntutan yang oleh penduduk setempat diajukan kepada pemerintah kolonial, seperti halnya kebebasan yang lebih besar dan sekolahan yang lebih banyak pernah dibicarakan, maka masalah-masalah revolusioner diajukan kepada pemerintahan lokal, dan itu dilarang sama sekali.

Apartheid dalam bentuk yang paling murni dan pembedolan bahan-bahan baku dari bumi dengan cara-cara yang legal harus tetap ada demi kepentingan ibu pertiwi, Nederland.

Kami belajar main layang-layang dari tukang kebun kami. Aku mendapat uang dari ayahku untuk membeli layangan dan benang untuk membuat benang gelas/kaca. Benang kaca ini diperlukan agar layangan Anda bisa tetap mengudara tanpa dapat diserang oleh layangan lain dengan cara memutuskan tali layangan Anda.

Untuk membuat benang gelas maka kaca harus ditumbuk halus-halus dengan menggilingnya sampai menjadi bubuk sehalus tepung. Kemudian bubuk tadi dicampur dengan lem perekat khusus yang dibuat dari "kah" yang dilarutkan dalam air panas. Sebuah gulungan benang dicelup ke dalam cairan lem yang masih hangat dan kemudian digantung di antara dua tiang jemuran atau pohon di kebun sampai menjadi kering. Setelah itu benang yang sudah terlapis bubuk kaca digulung pada bulatan kaleng kosong bekas.

Bermain layang-layang pada waktu itu sama halnya dengan bermain perang-perangan. Cibatu hanya mempunyai sebuah jalan dengan beberapa buah rumah sehingga sedikit sekali layang-layang nampak di langit. Berbeda dengan kota-kota besar, di sana ratusan layang-layang mengudara.

Sekali layangan Anda ada di udara, maka dia akan terus berlomba dan baru berhenti kalau dia terlepas karena benangnya terputus atau sampai dia merupakan satu-satunya layangan yang masih bisa bertahan. Aku sangat bangga bila aku yang terbaik di tempat itu. Itu membuatkan senang. Tetapi bila layanganku terputus saat di udara, maka aku menangis karena iri hati.

Jika ada benang layangan tetanggal yang berlapis kaca tergantung melintasi kebun kami, maka kami mencoba menangkapnya, lalu mencelupkannya ke dalam kolam atau pada kotoran ayam, sehingga tetangga akan menggulung benang yang basah dan kotor di kaleng gulungannya yang masih kering dan bagus. Benang bersih yang masih bersisa di kaleng juga akan menjadi kotor dan basah sehingga dia hanya tinggal membuang kalengnya yang penuh terisi benang gelasnya.

Daerah tempat kami tinggal merupakan tempat aduan layang-layang. Begitu mengasyikkan, dan aku bisa masa bodoh dengan pekerjaan yang lain demi bermain layang-layang. Setelah lewat masa layangan, aku sendiri bisa membuat layang-layang yang indah, bahkan sekarang juga masih bisa.

Perang layang-layang seperti jaman dahulu tidak ditemukan lagi di Eropa. Di sini orang suka layang-layang besar yang berwarna-warni dan bagus dalam berbagai bentuk, yang melayang pelahan karena sangat berat.

Kadang-kadang terlihat juga layang-layang ganda berkecepatan tinggi khusus yang hanya buat tontonan, tetapi tanpa diadu.

Kami suka menggoda orang-orang yang baru pulang kerja naik kereta api setelah pukul 6 sore -saat sudah gelap, dan mereka masih harus jalan kaki jauh sampai ke rumah mereka melewati rumah kami.

Kami ikat ujung kain putih lebar pada benang layangan yang kami temukan terkait di kabel telepon dan tergantung di atas pal telpon di depan rumah. Kain putih itu kemudian kami lemparkan supaya melampaui kabel listrik setelah dikasih batu pemberat terlebih dahulu. Kain itu akan turun ke bawah bila benangnya dibiarkan kendur.

Siang harinya kami lemparkan kain putih yang terlipat dan terlilit tali benang itu sehingga melewati kabel listrik, dan ujungnya kami sembunyikan di balik pagar depan rumah. Malamnya setelah makan kami buru-buru pergi sembunyi ke tempat benang dan kain putih lebar yang sudah diikat erat dan kemudian menunggu sampai ada penumpang kareta api yang berjalan lewat.

Kami dengar kereta api tiba dan kami tetap menunggu sampai ia melewati tempat kami berada. Sebenarnya sembunyi di belakang pagar di malam seperti itu berbahaya karena ada ular, tetapi waktu itu kami tidak takut.

Nah, di kejauhan kami dengar suara berisik dan kami biarkan beberapa orang lewat sebelum kami lepaskan ujung tali pengikat kain yang terus meluncur jatuh ke bawah dalam keadaan terbuka. Teriakan orang-orang segera terdengar, dan semua berlarian sekenanya.

Alangkah senangnya kami, tetapi ayahku lantas datang dari belakang dan kami ditegur lagi meskipun tanpa maki-makian. Untunglah ibuku tidak dikasih tahu, kalau tidak maka duniaku bisa mengecil.

Kadang-kadang kami juga pergi berburu, dan ayahku membawa kami ke sungai Citarum (Tjitarum) dimana banyak biawak, iguana berbaring di tanggul sungai mengeringkan badan di bawah sinar matahari. Ayahku lantas menembak beberapa ekor dan memberikannya kepada penduduk kampung setempat yang suka memakannya. Hewan-hewan ini bukan babi, jadi tidak haram bagi Muslim.

Ketika aku berumur 6 tahun kami pindah dari Cibatu ke ke Jakarta (Batavia) dan tinggal di Jalan Pasar, Jatinegara (Meester Cornelis), di tengah-tengah perkampungan orang Cina, di belakang perusahaan pembuatan roti.

Itu adalah jalan buntu, cabang Jalan Pasar yang hanya ada empat buah rumah, dan kalau kita masuk ke jalan ini maka yang pertama di sebelah kiri adalah rumah kami. Di tiga rumah berikutnya tinggal orang-orang Cina totok yang hanya bicara bahasa Cina.

Di Pecinan semua toko milik orang Cina. Waktu itu ada dua kelompok Cina, masing-masing dikenal sebagai Cina-Indo dan Cina-totok.

Orang-orang Cina-Indo merupakan orang-orang Cina yang sudah berabad-abad berimigrasi dan sudah terintegrasi, dan sebagian bercampur dengan penduduk setempat dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Kebanyakan papan nama mereka di tokonya tertulis dalam bahasa Indonesia.

Para Cina-totok umumnya berbicara bahasa Cina dan papan nama gantung mereka hanya dalam bahasa Cina.

Antara ke dua kelompok itu tidak dapat bergaul dengan mudah. Selain itu kami yang berbahasa Belanda tidak banyak berhubungan dengan orang-orang Cina. Terlebih-lebih dengan Cina-totok.

Sering kali orang-orang Cina yang berbahasa Indonesia pergi ke sekolah-sekolah yang berbahasa Belanda, dan itulah satu-satunya cara mereka mengadakan kontak dengan komunitas yang berbahasa Belanda.

Banyak orang Cina-Indo yang menjadi dokter atau dokter gigi, dan di daerah tropis kelihatannya mereka lebih baik bekerjanya dibanding rekan-rekan Eropa mereka, terutama di rumah-rumah sakit. Dokter-dokter gigi Cina sangat dihargai di Indonesia.

Kami pergi ke sekolah naik dokar (dalam bahasa Inggris: dog car), semacam kereta yang ditarik oleh kuda. Waktu itu kalau naik dokar aku merasa tidak aman, selalu takut kudanya selip, dan jika itu terjadi bagaimana keselamatan kami.

Di seberang Jalan Pasar, arah lawan jalan buntu tempat kami tinggal, ada sebuah bangunan besar tempat para biarawati dari Ordo Gembala Yang Baik tinggal.

Aku lihat mereka setiap pagi di berjalan-jalan di taman, berpakaian gelap, tetapi kami tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan dan aku tak sekali pun pernah berjumpa untuk bisa bicara-bicara.

Dari cerita-cerita ibuku dan teman-temanku, mereka tidak melakukan apapun selain berdoa. Bahkan saat itu aku pun tidak mengerti apa gunanya. Hal itu tetap menjadi tanda tanya bagiku, kemana mereka dibawa dan apa yang dapat mereka capai dengan doa-doa itu.

Di rumah kami tumbuh dan dibesarkan juga tidak dengan doa-doa dan cerita-cerita keagamaan. Belakangan aku tahu bahwa ribuan jam yang telah dihabiskan untuk berdoa hanyalah sia-sia.

Waktu mereka akan lebih baik jika dipakai untuk kerja sosial di mana saja, dan jika perlu di desa-desa untuk membantu orang sakit supaya sembuh. Tidak, dari usia dini aku tidak pernah mengerti.

Aku pikir setelah itu dan hingga sekarang makin yakin bahwa agama Kristen hanyalah sesuatu yang terasa manis bagi umat manusia, seperti semua kepercayaan lainnya.

Kini, bagi mereka yang sudah masuk ke dalam komunitas gereja, dan saya menulis begini, maka para pembaca yang telah menikmati pendidikan agama sudah pasti tidak akan setuju. Dahulu gereja mempunyai kekuasaan besar dan kepada anak-anak diberikan kisah-kisah Alkitab, yang kadang-kadang menarik, tapi tidak bagi anak-anak non-gereja.

Kami berdua dengan kakak laki-laki saya menjadi anggota perkumpulan anak-anak muda sejenis pandu yang kegiatannya diadakan di lapangan Gereja Protestan Betel. Disana kami tidak belajar banyak. Pada akhir kumpul-kumpul yang lamanya satu setengah jam, dengan berdiri dalam satu lingkaran kami harus memekikkan seruan yel kami. Bunyinya: "Akela, kami melakukan yang terbaik dan selebihnya kami tidak akan berbuat jahat!" Itu yang aku ingat dari perkumpulan anak-anak tersebut.

Saya tidak pernah sadar bahwa seruan yel tersebut mestinya berbunyi lain, tetapi tak seorangpun dari pimpinan pernah mengatakannya. Saya harus mengakui bahwa mereka tidak pernah membujuk saya untuk masuk ke gereja. Saya pikir mereka sudah melihat perilaku saya, bahwa anak ini lebih baik tetap berada di luar gereja saja daripada di dalam.

Apa yang aku sukai waktu tinggal di lingkungan orang Cina adalah di Tahun Baru kami dan Tahun Baru Cina banyak sekali petasan yang dinyalakan. Bunyinya memekakkan telinga. Bagi kami makin dahsyat bunyinya makin baik.

Di jalanan menjadi berwarna kemerah-merahan oleh ribuan petasan yang dinyalakan. Banyak sekali kertas beterbangan sampai setinggi mata kaki kami, dan kami membolak-baliknya untuk memeriksa supaya jangan sampai ada petasan yang meledak.

Kalau ada petasan sepeti itu tentu saja kami tidak mau ketinggalan. Kami juga ikut membeli beberapa pak petasan.

Kakakku mengayuh sepeda dan aku duduk di bagasinya dengan petasan di tangan kanan dan obat njamuk yang terbakar di tangan satunya.

Kakakku berteriak keras-keras, "Sekarang!" Dan aku melemparkan petasan ke tanah dan biasanya jatuh di belakang orang-orang yang berlarian di trotoar. Seringkali ada penjual kerupuk udang dengan tong-tong besar bergelantungan di pikulan bambu di atas bahunya, dan serta merta kakakku berteriak "Sekarang!" Maka aku pun melemparkan petasan, dan oleh ledakan itu maka penjual kerupuk melemparkan pikulan dan kaleng-kaleng kerupuknya.

Kadang-kadang juga tidak ada orang, tetapi abangku tetap berteriak: Sekarang! Aku lantas melemparkan petasan sebisanya dan terlihat tak ada orang melainkan hanya anjing-anjing gelandangan yang berkaing-kaing lari ketakutan.

Waktu itu banyak juga oplets, mobil taksi bentuk bulat yang kebanyakan penuh sesak penumpang, dan timbul pikiran untuk melemparkan petasan di antara mereka. Karena sadar apa yang akan terjadi, kami tidak pernah melakukannya. Semua ini hanyalah pertanyaan atas suatu problema, karena anda bisa melakukannya sekali tetapi tidak beberapa kali.

Agen-agen polisi juga sering datang ke rumah kami. Ayahku marah dan berjanji akan memberikan hukuman keras jika kami melakukan lagi. Ayahku tidak sering mengancam kami, tetapi sekali berkata maka kemudian selalu dia lakukan.

Rumah kami bersebelahan dengan toko roti Cina, dan di situ aku mulai berteman dengan Kim Yuk. Dia menungguku di sore hari saat aku pulang sekolah dan selalu memberiku kue bulat yang masih hangat.

Aku tidak bisa bicara banyak dengan dia karena oleh ibu atau neneknya dia dilarang terlalu lama dengan aku di pintu gerbang, dan aku tidak pernah tahu siapa mereka dan mengapa tidak boleh.

Bahwa kami tidak bisa bermain bersama, itu sangat aku sayangkan. Aku pikir dulu Kim Yuk pada usia seperti itu selalu memberi aku kue hangat merupakan suatu kehangatan dari bentuk persahabatan yang tak terlukiskan.

Lantas aku membeli seekor burung gelatik dan ditaruh dalam kurungan yang aku gantung di atas gang penghubung antara bangunan utama dan kamar-kamar pembantu.

Ketika jam lima ayahku pulang, dia melihat ada kurungan tergantung. Dia langsung mendekati dan membuka pintunya dan burung gelatik segera pergi terbang. Ayahku bilang bahwa aku sekali-sekali tidak boleh memelihara burung dalam kandang dan berjanji akan membelikan aku sepasang merpati. Dan itu dia lakukan.

Kami hanya satu tahun tinggal di Jakarta ketika ayahku dipindah kembali ke Yogyakarta. Di sana kami masuk sekolah dasar Kristen, yang letaknya dapat dicapai dengan berjalan kaki dari tempat kami tinggal.

Rumah kami dekat stasiun kereta api utama Tugu (Toegoe). Rumah kami milik SS-jawatan kereta api pemerintah, dan juga berdekatan dengan bengkel lokomotif.

Dalam waktu singkat aku sudah punya teman yang tinggal dekat rumah kami, dan Charles Lapréwaktu itu menjadi sahabat karibku, dan tinggalnya selang satu rumah. Dia punya dua saudara perempuan, dan sama kakaknya yang tertua saya langsung jatuh cinta. Badannya tinggi, rambutnya hitam panjang, wajahnya sangat cantik, benar-benar tipe saya. Tapi cintanya hanya datang dari pihak aku karena dia lebih tua dan punya kepentingan yang berlainan dari anak kecil sembilan tahun, dan keadaan itu tidak pernah berubah.

Charles pintar main kelereng, sedang aku tidak tahan kalau kalah sehingga setiap kami main selalu berakhir dengan keributan bahkan tangisan, tetapi karena aku ingin main kelereng maka aku sering bermain dengan dia sambil menahan perasaan jengkel.

Di situ aku tahu bahwa kalau ingin jadi pandai kita mesti banyak berlatih. Tanpa latihan, kita tak akan punya kepandaian. Ini kemudian menjadi motto saya sampai sekarang Di samping rumah kami ada pohon sawo besar dengan buahnya yang besar-besar dan rasanya manis sekali dan saya berikan ssekali-sekali kepada temanku Charles. Dari dia aku dikasih sebatang ranting bercabang bentuk cagak dan aku bikin darinya sebuah ketapel (catapult).

Itulah senjata rahasiaku yang pertama. Berhari-hari bahkan mingguan aku berlatih sehingga aku menjadi pandai membidik dengan ketapel.

Waktu itu kalau siang ada juga siesta, tetapi tidak untuk aku dan Charles, dan kami lantas pergi mencari buah-buahan di lingkungan dekat rumah. Di musim mangga, tentu banyak mangga. Aku bidikkan kepatel sampai buahnya berjatuhan dari pohon, dan Charles yang memungutinya.

Dengan membawa buah curian itu kami pulang dan membuat rujak, salad buah yang pedas tetapi manis karena diberi saus cabe dan gula Jawa dari aren kelapa serta asam, trasi dan kencur. Kami makan hanya untuk membuktikan diri bahwa makan buah milik orang lain itu rasanya pedas.

Ayahku bertanya padaku apakah ia boleh melihat ketapelku, dan saya dengan bangga memperlihatkannya. Dia tidak pernah mengembalikannya. Rupanya para pemilik pohon mangga yang buahnya aku curi telah mengadu kepada ayahku dan sebagai buntutnya maka ketapelku disita.

Berseberangan dengan keluarga Lapréjes, tinggal keluarga van den Broek, orang-orang yang sangat baik bila aku datang. Namun interes anak-anak lelaki van den Broek jauh berbeda dengan tingkatan kami. Badan mereka semua sangat kecil, seperti halnya keluarga liliput.

Armand Hoop tinggal di seberang rumah mereka, tetapi kami tidak punya kontak sama sekali. Sekolahnya sama dengan kami, sekelas denganku dan hanya itu yang bisa saya katakan. Aku punya perasaan bahwa dia oleh orang tuanya dilarang bergaul denganku karena perbedaan "kelas". Ayahnya kepala setasiun sedang ayahku bekerja di bengkel lokomotif.

Abangku Ries dan aku kadang-kadang pergi ke rumah keluarga Vermaes yang tinggal di Bumijo Lor (Bumijo utara), tidak jauh dari rumah kami. Dengan siapa kami waktu itu berteman, aku tidak ingat. Satu hal yang selalu menarik bagiku adalah seekor kambing jantan besar di kebun yang diikat pada sebuah pohon besar. Kalau kami datang maka kepalanya selalu digeleng-gelengkan dan tanduknya diarahkan kepada kami sambil kaki depannya dicakar-cakarkan ke tanah yang kering. Aku selalu lari menghindar dari tanduk yang besar dan menakutkan itu.

Di jalan dari rumah kami di Gowongan Tengah ke rumah Avé di Jalan Diponegoro (waktu itu namanya Jalan Tugu) kami selalu melewati pabrik es. Semua orang di Yogya tahu dimana letak pabrik es.

Pabrik itu betul-betul tertutup di balik pagar besi dengan pintu besinya yang kokoh. Direkturnya adalah tuan Heubelt, dan anaknya Helmut sekelas dengan aku. Mereka adalah imigran Jerman dari kelompok pekerja Jerman dan di rumah mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa Jerman.

Mereka sama sekalu tidak bergaul dengan orang lain dan akibatnya Helmut tidak punya teman. Di sekolah dia tanya padaku apakah aku mau datang ke rumahnya untuk bermain kereta api listrik. Itu aku lakukan dan aku sering ke rumahnya untuk mengamati mainan apa saja yang dia punyai.

Dia punya kereta api Märklin yang paling bagus dan puluhan mobil Chuko serta berbagai peralatan sport. Aku boleh ikut bermain puas-puas.

Kami juga bermain badminton di kebun. Kalau kami dipanggil masuk rumah, ibunya yang pirang menunggu kami dengan membawa kue dan minuman limonade.

Tentu saja bagiku sangat menyenangkan bisa bermain dengan mainan yang modern, meskipun mandi-mandi di kali dan menjelajah lingkungan sambil membawa ketapel jauh lebih menegangkan, sayangnya dia tidak diperbolehkan oleh orang tuanya.

Dia ingin aku datang lebih sering ke rumahnya, karena kalau bermain-main sendirian tentu tidak enak meskipun mainannya bagus-bagus dan banyak jumlahnya.

Dia berjanji padaku untuk memperlihatkan rahasinya. Rupanya itu saat orang tuanya sedang tidur atau bercumbuan, dan kami mengintip melalui jendela samping. Kamarnya ada di atas kamar orang tuanya.

Aku tak mengerti apa aku dengar. Di bidang itu nampaknya dia lebih dewasa dibanding aku. Aku suka melihat perempuan-perempuan cantik, tetapi untuk melakukan sejauh itu, belum. Sedangkan di pihaknya dia harapkan reaksiku akan lain. Namun demikian persahabatan kami berlangsung sampai saat keluarga Heubelt bersama keluarga-keluarga Jerman lainnya yang tinggal di Hindia ditangkapi oleh polisi dan tentara Belanda.

Setelah Jerman menduduki Belanda,pada bulan Mei 1940, semua etnis Jerman diasingkan ke pulau Onrust di depan pelabuhan Jakarta dan ditahan.

Apakah mereka pro atau kontra Hitler, bedanya tidak besar, setiap orang Jerman yang diasingkan dan tinggal di sana sampai Jepang menaklukkan Hindia Belanda.

Yang aku ketahui, kebanyakan orang Jerman dikirim kembali ke Jerman melalui Jepang dan Cina. Pastinya aku tak tahu.

Sejak itu aku tidak pernah mendengar lagi kabar Helmut. Aku sekarang masih ingin berjumpa dia lagi, ingin mendengar pengalaman hidupnya.

Lantas mengenai anak-anak lelaki keluarga Avé dengan Joop aku berteman lama. Joop tetap tinggal di Indonesia dan pernah menjadi Kepala Protokol jaman Sukarno. Kemudian di bawah Suharto ia menjadi Menteri Pariwisata. Tetapi ia ditolak masuk ke Australia karena dicurigai pedofil.

Pamannya Joop Avé dan ayahku berteman baik. Mereka ingin agar kami semua bisa ketemu. Sayangnya ketika kami ditahan oleh Jepang, oom Joop seperti halnya ayahku ditangkap juga oleh polisi rahasia Jepang (Kempetai). Oom Joop tidak selamat.

Tante Tina Deighton adalah perawat ibuku dan menikah dengan Harry Deighton yang juga bekerja di perkeretaapian. Waktu itu dia menjadi pemeriksa jalur rel dan melakukan inspeksi yang panjang dan dengan rute tertentu untuk diperiksa.

Waktu itu dia ditempatkan di sebuah setasiun yang sangat kecil, di Jenar (Djenar). Kemudian tinggal di Malangbong. Rumah tante Tine dan oom Harry dekat dengan persimpangan jalan.

Selebihnya di seluruh wilayah hanya ada persawahan padi dan peternakan sapi perah dan babi milik keluarga Susenaar. Ada pula keluarga Groningers. Oom Harry pernah pergi ke sana tatkala ada seekor babi gila yang harus ditembak.

Kita sering tinggal di keluarga Deighton, tapi lebih dari itu tak ada lagi yang bisa dilakukan. Oleh tante Tina kami diajari menembak dengan senapan angin. Kami seharian menembaki ular-ular yang kepalanya muncul di atas rerumputan tinggi, tetapi tembakanku selamanya tidak ada yang tepat. Aku pikir senapan itu larasnya melengkung karena sekarang dengan senapan M1 yang ada teleskopnya hasilnya jauh lebih baik.

./beeld/jacht.jpg
Paula dan Tine dengan senapan angin dalam Andong pulang dari berburu.

Waktu Tine masih pacaran, dia sering tinggal bersama kami karena tunangannya Harry bekerja dan tinggal di dekat kami, yakni di Malangbong. Oleh karena itu, Paula dan anak-anak bisa dikatakan selalu berada dekat-dekat kemana mereka pergi untuk mencegah yang sedang jatuh cinta berbuat dosa.

Itu terjadi seperti halnya orang-orang Arab sekarang. Jaman dulu perkawinan-perkawinan kebanyakan merupakan kerepotan.

Dahulu kucing-kucing tetangga juga tidak pernah merasa aman. Aku betul-betul seorang pengganggu kucing. Semua kucing tetangga menghindari kebun kami seperti halnya terhadap wabah penyakit. Mereka tahu bahaya yang menantinya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku dengan kucing, tetapi setiap berkunjung ke famili maka semua kucing bersembunyi menghindari masalah.

Suatu hari kami pergi ke keluarga yang sebelumnya tidak pernah ketemu. Mereka tinggal sekitar 30 km dari rumah kami, di sebuah rumah bertingkat.

Waktu tiba kami disambut oleh segerombolan kucing, besar-kecil dari berbagai warna dan jenis. Aku sama sekali tidak heran dengan kucing sebanyak itu. Apa yang tanteku kerjakan dengan kucing sebanyak itu? Terpikir olehku, mungkin aku bisa membantunya baik-baik.

Setelah kue dan minuman limonade disajikan maka semua orang sibuk dengan berita-berita keluarga, dan aku bisa menyelinap pergi.

Aku cari semua anak kucing dan aku masukkan ke dalam lemari es. Kebetulan pembantu lewat di dekat lemari es dan dia mendengar meong-meong kucing di dalamnya. Dia membukanya dan nampaklah 6 ekor anak kucing di dalamnya.

Kemudian dia berteriak-teriak dan tanteku datang berlarian langsung kepalaku dihujani maki-makian. Ibuku datang berlarian dengan membawa tongkat rotan dan akupun dihadiahi pukulan. Dalam keluarga aku dikenal sebagai penyiksa kucing.

Ayahku membuatkan kandang merpati yang bagus dan merpati-merpatiku dengan cepat memenuhinya serta dalam waktu setengah tahun mereka berkembang biak menjadi 8 ekor.

Kebanyakan warnanya putih berjambul, tetapi bagiku terlalu membosankan. Aku membeli peluit di pasar untuk dipasang di ekor merpati. Bunyinya macam-macam, ada yang melengking dan ada pula yang rendah lagi lembut.

Kami beli yang bunyinya tinggi melengking dan kami pasang di ekor merpati. Dengan bunyi di belakangnya maka merpati itu terbangnya lebih cepat.

Namun kami belum puas. Kami lihat di berbagai majalah pesawat terbang Spitfire milik RAF (Inggris), dan lantas itu kami menirunya. Kami beli cat air berbagai warna. Kemudian kami tangkap semua merpati untuk diberi warna seperti halnya Spitfire.

Lantas mereka dijemur di atap rumah supaya kering dan bentuk merpati-merpati kami pun berubah secara dramatis.

Sekarang aku mempunyai merpati-merpati berwarna kamuflase. Aku tidak pernah melihat orang lain yang mempunyainya, dan akulah satu-satunya di Yogyakarta. Semua teman memperbincangkannya. Itu jelas merupakan kenangan yang indah bagiku.

Di sekolah Kristen aku duduk tidak lama. Kami pindah pada tahun 1940.

Pada tahun 1941 semua sekolah ditutup karena akan datang invasi Jepang. Di rumah kami diajar oleh Hetty Valenbreder, tetapi dia mengalami kesulitan untuk mengajarku. Aku selalu gelisah dan punya berbagai rencana lain di kepala selain mata pelajaran.

Sehabis les aku selalu lompat pagar untuk pergi ke rumah George Loth (nama panggilannya Tji). Biasanya kalau di rumah aku temukan dia di kamarnya. Biasanya dia tidak sendirian tetapi bersama satu atau cewek lain di tempat tidur. Kalau aku memanggilnya dari depan jendela kamarnya yang terbuka, maka dia suruh aku masuk untuk mengagumi petualangannya yang terakhir.

Dia juga punya seorang saudara perempuan Lena, wanita yang sangat cantik. Dia lebih tua dari Tji dan mempunyai rambut hitam panjang yang indah, dan dia senang kalau aku datang dan selalu menyesalkan aku karena masih sangat muda. Saya selalu dikasih wajik yang rasanya manis dan air limun tanpa bertanya apakah aku mau. Sama halnya seperti yang dialami Ilse Lapré Rasanya aku ingin jadi lebih tua waktu itu, karena aku merasa semakin tegang dan tak tahu apa yang harus dilakukan jika setiap kali suara-suara bujukan dibisikkan di telingaku.

Tji baru saja selesai sekolah teknik dan pasti sudah berumur sekitar 18 tahun dan boleh mulai kerja sebagai teknisi di bandara Maguwo. Kalau ia nganggur, ia panggil kami, Ries dan aku supaya datang. Lalu ia mengajari kami main boksen dengan memakai sarung tinju betulan. Awalnya kami saling memukul sesukanya di tempat-tempat yang diperbolehkan sampai menangis, namun lama-lama kami mulai lebih baik menguasai teknik tinju. Namun boksen bukan olahragaku.

Ketika perang mulai, Tij di Maguwo ikut sebagai bagian militer dari pertahanan udara, dan setelah kapitulasi, seperti semua prajurit lainnya, menjadi tawanan dan kemudian dipindahkan ke kamp Ngawi.

Ayahku pada tahun 1942 ditangkap oleh Kempetai, polisi rahasia Jepang, bersama dengan banyak rekan kerja perkereta-apian lainnya. Dari kelompok kereta api sebanyak 74 orang, 9 orang meninggal. Kebanyakan mati karena siksaan dan penyakit. Ke sembilan orang itu juga dikirim ke Ngawi dan di sana ayahku bertemu dengan Tji Lot yang bekerja di dapur karena berotot sangat kuat dan bisa kerja berat. Dia juga diselamatkan ayahku dari kematian karena tatkala ayahku tiba dia sudah sangat kurus, dan tanpa bantuan dan makanan tambahan tentu dia tidak akan bisa bertahan lama. Sejak ia bertemu Tji secara kebetulan dan sejak pertemuan itu semua menjadi lebih baik karena ayah mengusahakan makanan ekstra buat dia.

Lena bernasib sangat malang setelah Jepang menyerah, di masa siaga. Karena urusan administrasi yang bobrok ia dan ibunya tidak diungsikan ke wilayah sekutu yang bersahabat. Ibu dan anak terpaksa menjelajahi perkampungan dekat Bumijo Lor, terputus dari semua bantuan dan sumber keuangan. Saat meledak wabah pes, Lena tertular dan meninggal dengan memilukan.

Eropa sedang berperang dan Belanda, "ibu pertiwi" kami waktu itu, seperti yang diajarkan kepada kami, tengah diduduki oleh Jerman.

Pada tahun 1941 kami tidak bisa sekolah lagi. Sekolah-sekolah dirubah menjadi barak-barak untuk tentara Australia dan Inggris. Tentara Belanda waktu itu mempunyai barak-barak mereka sendiri.

Sejak saat itu sampai Jepang menyerah tidak ada sekolah. Ayahku tidak ikut jadi tentara karena semua pekerja kereta api punya peran sangat penting untuk tentara.

Belakangan aku tahu bahwa ayahku diberi sebuah kotak isi dinamit oleh tentara untuk meledakkan semua lokomotif. Untungnya dia tidak lakukan, kalau tidak tentu dia tidak akan tetap hidup.

Dinamit itu kemudian dibakar dan sekering-sekeringnya dibuang ke dalam sumur, dan dia beruntung karenanya.

./beeld/data_wijk.jpg
Kartu identitas Jepang milik Lodewijk Muller.

Jepang tahu bahwa ada sabotase dan ingin tahu siapa yang melakukannya. Jadi pada hari yang sama banyak pegawai kereta api ditangkapi dan dimasukkan ke penjara setempat oleh Kempetai, polisi militer Jepang.

Satu per satu mereka didengar keterangannya dalam persidangan Jepang. Banyak yang tidak dapat bertahan hidup, temasuk ayah Charles dan Joop.

Charles tidak pernah datang ke rumah untuk main kelereng lagi, dan aku takut datang ke rumahnya, dan aku sekarang tahu betapa susahnya pada umur semuda itu kehilangan ayah.

Ayahku membuat sebuah tempat perlidungan di kebun belakang, berupa sebuah lubang galian panjang dengan grendel pada pintu di ujung masuknya, dan atapnya ditutup dengan kayu bantalan rel kereta api yang berat dan dilapisi tanah liat setebal satu meter.

Nampak sangat mengesankan meskipun sebetulnya hanya sebuah tempat perlindungan yang tidak berarti. Kami hanya sekali saja memakainya tatkala ada sebuah pesawat terbang Jepang yang menyerang setasiun kereta api utama yang tak jauh letaknya dari rumah dan menjatuhkan sebuah bom kecil.

Pada suatu pagi di waktu invasi Jepang, sirene berbunyi meraung-raung dan kami masuk ke tempat perlindungan. Kami dengar sebuah pesawat terbang berputar-putar di atas kami dan ayahku berkata bahwa dia akan pergi melihatnya. Belum sampai ia keluar, ia melompat kembali ke dalam. Dia berkata bahwa pesawat itu akan menyerang kami dan langsung setelah itu kami mendengar ledakan besar, tapi agak jauh dari tempat kami, di stasiun kereta api.

Hanya itulah kejadian yang kami alami selama periode tersebut.

Selama masa pendudukan setiap pagi pesawat-pesawat pembom bermotor dua milik Jepang terbang di atas rumah kami mencari sasaran yang masih ada.

Waktu itu aku ingin menerbangkan Spitfire punyaku, namun aku sadar bahwa itu bukanlah lawan pesawat pembom. Pesawat-pesawat pembom Jepang dicat warna hijau dengan sebuah bundaran merah di sayap dan di badannya.

Ketika pendudukan Jepang sudah sekitar sebulan, ayahku seperti biasa masih pergi ke tempat kerjanya seperti halnya pekerja-pekerja perkeretaapian lainnya.

Suatu pagi aku lihat dan dengar ada mobil tank dan tentara Jepang berlarian masuk ke jalan tempat kami tinggal serta menahan orang-orang di beberapa tempat.

Dua orang opsir datang ke rumah kami dan minta ibuku ke luar rumah. Mereka mau menggeledah kamar orang tuaku, dan itu mereka lakukan serta menyegel lemari pakaian ayahku.

Ibuku diperintahkan pergi dari rumah dalam waktu dua jam. Para pelayan kami juga disuruh meninggalkan rumah dan dikasih tahu kemana harus pergi.

Waktu perang mulai, kami masing-masing mempunyai ransel diisi pakaian untuk jaga-jaga kalau sewaktu-waktu diperlukan.

Para pelayan telah menerima sejumlah uang dari ibuku untuk mencukupi kebutuhan utama selama tinggal di kampung.

Kami pergi ke rumah keluarga Flohr yang tinggal di Pakuningratan. Mereka mengenal baik ibuku dan menawarkan sebuah kamar untuk melewati hari-hari pertama di tempat mereka.

Kami hanya mendengar bahwa ayah dan orang-orang lain dari jawatan kereta api telah ditangkap oleh Kempetai, polisi militer Jepang.

Di seberang rumah tempat kami ditampung tinggal sebuah keluarga Belanda yang suaminya juga dipenjara, tetapi di rumah itu para opsir Kempetai pada datang dan nyonya rumah bertindak sebagai perempuan pendampingnya.

Pada minggu-minggu pertama kami tidak mendengar apa-apa, tapi kemudian ternyata bahwa perempuan itu setiap malam dilecehkan sedang tangis dan teriakan dapat terdengar.

Seringkali ia berlari menyeberang jalan dan berteriak minta tolong di depan pintu gerbang kebun kami, tapi tidak ada yang berani menolongnya.

Lalu datanglah salah satu dari orang Jepang menjemputnya. Dengan satu-dua jurus tangkapan yudo dia diseret masuk ke dalam rumah sambil mengerang-erang.

Demikian berlangsung berminggu-minggu, dan tak seorang pun dapat tidur lagi, sehingga ibuku pergi mencari tempat lain. Aku sangat terkesan dengan apa yang terjadi. Aku merasa tidak aman.

Melalui kenalan-kenalannya orang Cina, ibuku berdagang segala sesuatunya, tetapi ada risiko besar untuk berjualan barang-barang orang.

Keluarga Flohr yang kami tempati tidak ingin rumah tangganya terlibat dalam praktek jualan ibuku dan meminta kami untuk mencari tempat tinggal lain.

Kami pindah ke keluarga Schoew di Gowogan Lor dan boleh tinggal di paviliun.

Di situ kita bisa mati oleh tikus-tikus dan kepinding yang menyerang di malam hari. Badan kami penuh dengan bekas-bekas gigitan kepinding, dan satu-satunya pencegah gigitannya adalah dengan menjemur kasur-kasur di matahari, meskipun tidak banyak menolong.

Aku tidak hanya merasa jijik, tetapi aku hampir tidak bisa tidur sebab binatang-binatang itu berdatangan saat semua gelap dan menggigit semua di kiri-kanannya yang bisa digigit.

Mereka di kebun punya banyak pohon manga, dan buahnya begitu banyak sehingga kami bisa memetik sebanyak yang kami inginkan, sebab kalau tidak maka buah-buahan itu akan dimakan kalong, si anjing terbang.

Keluarga Schoew terdiri dari ibu, tiga anak perempuan, Maggie, Lies dan Ernie dan dua anak laki-laki Theo dan Ferry.

Kami tidak sering ketemu mereka sehingga tidak bisa juga bicara banyak sebab kami semua berada dalam posisi yang serba salah, sebab meskipun sama-sama bekerja di perkeretaapian tetapi mereka tidak tinggal di perumahan SS (Staats Spoor - jawatan kereta api milik pemerintah), tetapi kami sekarang tinggal di rumah mereka.

Tuan Schoew juga ditangkap oleh Kempetai Jepang dan dibunuh.

Sejak kami harus meninggalkan rumah, kami tidak memiliki penghasilan lagi. Ibuku mengenal banyak pedagang Cina dan mulailah dia berdagang dengan mereka.

Apa yang mereka lakukan adalah menjual barang-barang milik orang yang butuh uang tetapi tidak tahu bagaimana atau tidak mau menjual sendiri barangnya karena takut ditangkap Jepang.

Ibuku menjual peralatan mobil dan alat-alat listrik milik orang-orang kepada siapa saja yang mau membayarnya. Dia menjadi begitu dikenal sehingga dia didatangi oleh orang-orang dari bagian pembelian militer Jepang karena barang-barang yang dicari adalah material teknis yang sudah tersebar di masyarakat yang kemudian mereka jual agar uangnya dapat dipakai untuk membeli bahan makanan untuk hidup selama beberapa bulan.

Ketenarannya justru menjadi nasibnya, karena oleh kecemburuan maka ibuku diadukan entah oleh siapa sebagai mata-mata Sekutu sehingga dia ditangkap dan ditawan di kantor polisi Yogya di mana dia menghabiskan sisa masa perang sampai ke saat kapitulasi Jepang.

Apa yang dialami selama ditawan, ibuku tidak pernah mau menceritakan kepada kami. Aku juga tidak ingin tahu karena aku sendiri selama 3,5 tahun juga mengalami kesengsaraan.

Hanya supaya bisa hidup maka anda harus terjaga siang dan malam untuk mengetahui apa yang esok harinya akan anda lakukan supaya ada makanan.

Untuk tidur biasanya tidak ada masalah karena lingkungan kenalan kami cukup besar, tetapi untuk makan merupakan masalah lain. Mengingat orang-orang Indonesia sendiri semakin banyak menghadapi masalah dan kami dianggap sebagai orang Belanda, maka dari sisi mereka tidak banyak bantuan yang bisa kami harapkan.

Selama 3,5 tahun peperangan, tidak ada satu pun orang Indonesia yang pernah menawarkan kepadaku makanan atau bantuan. Bagi mereka kami tidak ada sama sekali, jadi masalah kami yang terbesar adalah Hindia kolonial.

Dari kecil aku tidak pernah mengerti mengapa kami selalu memilih fihak Belanda, padahal kami oleh orang-orang Belanda dianggap sebagai warga negara kelas dua. Bahkan waktu aku ditahan di kamp juga diperlakukan begitu.

Aku tidak punya rasa benci terhadap orang Indonesia, tetapi sebaliknya. Aku merasa adanya ikatan alamiah. Mungkin itu terjadi karena ayahku juga memperlakukan orang-orang Indonesia dengan hormat.

Saat hari-hari raya mereka, aku harus mengantar kue dan menyampaikan hormat ayahku kepada kepala stasiun (orang Indonesia) yang tinggal di jalan yang sama.

Aku rasa kami membiarkan mereka mempunyai perasaan bahwa kami tidak menganggap mereka sebagai musuh. Itu membuatku senang karena aku bisa merasakan dan mengetahunya. Aku tidak tahu apakah anggota-anggota kelompok lainnya merasa seperti aku juga.

Jadi kami pindah ke sebuah rumah yang berada di jalan yang sama dengan rumah penjara. Setiap hari aku naik sepeda sepanjang bangunan penjara melalui tempat Kempetai sampai ke Benteng, Fort Vredenburg, di mana banyak orang juga ditahan. Sambil berharap bisa menemukan ayahku di sana.

Di rumah penjara aku tidak pernah menanyakan apakah ayahku ditahan di situ, bagiku sangat menakutkan. Dari kantor Kempetai aku menjauh setelah mendengar berbagai cerita horor yang pernah diberitahukan. Jadi hanya ke benteng saja.

Di pasar yang letaknya dekat di sebelah benteng, aku membeli makanan yang dibungkus dengan daun pisang, dan pisang goreng. Semua aku bawa ke benteng.

Dari jalan utama sampai ke pintu utama benteng ada jalan masuk yang diaspal, dan di sebelah kiri ada tempat berteduh dari kayu untuk para tentara Jepang penjaga pintu masuk.

Aku mendekati tempat penjagaan dan kepada perwira pertama terbaik aku bertanya dalam bahasa Indonesia apakah bisa menemui ayahku. Dia bangkit dan berjalan ke arahku dengan memegang tongkat bambu, dan sebelum aku sadar aku sudah dihadiahi beberapa pukulan di paha untuk mengajarku bahwa aku harus menunduk terlebih dahulu sebelum mulai berbicara.

Pukulan itu tidak keras, tetapi tongkat bambu itu pecah ujungnya, sehingga dapat menembus celana pendek tipis yang aku pakai, dan kulitku tersayat menjadi luka yang terbuka. Bekas luka itu terus kubawa sampai sekarang.

Aku kira maksud pukulan itu bukan untuk menyakiti, namun akibatnya malahan lebih buruk.

Ayahku tentu saja tidak aku temukan di situ, dan orang Jepang itu menyuruh aku segera pergi dengan pantat berdarah, sedangkan makanan yang aku bawa boleh ditinggal di tempat penjaga, dan aku kira mereka sendiri yang makan.

Keluarga tempat kami menginap adalah suami-isteri Lipshart. Kebun dan rumah mereka seluruhnya dikelilingi tembok setinggi tiga meter dan tertutup dengan pintu kayu ganda di depan. Di kebun ada beberapa pohon kelapa dan beberapa pohon buah lainnya.

Ada juga pergola (rumah taman), di mana aku temukan kembali kotak kayu tempat alat-alat pertukangan ayahku. Anehnya, bagaimana barang itu sampai di sana, aku tetap tidak tahu.

Anak muda yang menjadi tukang kebunnya tuli dan bisu, tetapi sangat berotot. Dia mengajar kami merokok dan segala macam trik lainnya.

Di jalan yang sama juga tinggal Charles, namun letaknya di sisi lain dari penjara dan bila aku pergi ke rumahnya, aku selalu melalui sawah yang ada di belakang rumahnya. Di situ selalu nampak hijau indah.

Suatu hari aku berjalan ke rumah Charles melalui sawah lagi, saat itu panen tengah berlangsung. Jerami berserakan di mana-mana dan semuanya nampak coklat kekuning-kuningan.

Terdengar di belakangku suara gemeresik yang keras dan ketika aku menoleh nampak seekor ular Python besar yang panjangnya kira-kira tiga meter, menuju arahku. Aku langsung melarikan diri menjauh dan terus berlari sampai rumah Charles.

Sungguh menakutkan. Sejak saat itu aku selalu berjalan di jalanan biasa tanpa mendapat gangguan ular atau binatang lain.

Kini ibuku juga dipenjara, dan juga tidak ada uang penghasilan yang masuk. Suami-isteri tua tempat kami tinggal hanya bisa menyediakan tempat berteduh, sedangkan makanan harus kami cari sendiri.

Amin, nama tukang kebun, sering memanggang bubur dan kue-kue sejenis roti dalam batang bambu, dan ia bagikan kepada kami. Rasanya tidak enak, tetapi mungkin bergizi.

Dia mengajar kami memanjat pohon kelapa dan kami menjadi ahli dalam memanjat pohon kelapa. Dia mengajari kami, saat kami ada di pohon, agar berhati-hati pada lipan berkaki-seribu yang beracun, dan bagaimana membunuhnya.

Amin mati terbunuh pada periode siaga karena tidak menanggapi perintah berhenti waktu berjalan melewati sebuah pos penjagaan Indonesia.

Adikku laki-laki yang berumur dua setengah tahun menangisi ibu terus-menerus. Aku lihat tukang kebun sedang menggulung sebatang rokok dengan menggunakan daun kelapa tipis sebagai kertas rokoknya.

Aku bertanya apakah daun kelapa tanpa diisi tembakau bisa dirokok, dan dia mengiyakan. Kami menggulung rokok dari daun kelapa dan menyalakannya dan membiarkan adikku mengisapnya sebentar.

Wajahnya berseri-seri dan kami biarkan dia merokok sendiri. Ini satu-satunya cara untuk membuatnya diam. Sejak hari itu dia tidak pernah berhenti merokok.

Aku merasa khawatir karena kami tidak sekolah begitu lama. Aku tidak mengenal orang yang bisa mengajar agar dapat melewati kelas-kelas sekolah dasar. Di rumah pasangan tua tempat kami tinggal aku menemukan tumpukan buku-buku "Masa Lalu dan Sekarang" (-Toen en Nu-), yang aku baca setiap hari keras-keras dan semuanya aku telan.

Tidak pernah ada orang yang datang mengunjungi orang tua itu dan mereka tidak pernah menceritakan kepada kami apakah mereka punya keluarga di Yogyakarta. Aku tidak pernah melihatnya, sangat aneh.

Amin kadang-kadang memang pergi keluar dari pintu dan berjalan kesana-kemari. Dia pernah mengajak kami untuk ikut dan kami berjalan ke seberang jalan tempat kami sebelumnya tinggal melalui sebuah kampung sampai ke dua buah kolam ikan besar dengan ikan-ikan gurami besar yang berenang.

Langsung terpikir olehku untuk datang kembali membawa pancing, tetapi aku kecewa karena kolam itu milik Kraton Kesultanan dan di situ aku tidak mau berurusan.

Tetapi memancing di malam hari masih mungkin. Bagaimanapun itu tidak pernah terjadi. Itu akan menjadi selingan bagi semua makanan kotor yang ada. Anehnya adikku tidak pernah mengalami kesulitan dengan makanan. Ia makan sama dengan apa yang kami makan, bahkan dia kami perbolehkan merokok semaunya asalkan dia menyukai waffelnya.

Dari Charles aku dengar bahwa ada broeder/brother Hongaria bernama Csizmazia (mudah-mudahan ejaan namanya betul), yang kerjanya mengumpulkan anak-anak piatu dan memberi mereka makan.

Jadi kakakku, Charles dan aku pergi ke tempat broeder tersebut yang tinggal di bangunan samping gereja di Lempuyangan di Jalan Andong.

Dia bertanya apa yang ingin saya lakukan, karena "Voor wat hoort wat." adalah motto hidupnya. Aku punya pilihan untuk melengkapi anggota paduan suara gereja (kor) atau menjadi anak altar (mezbah) nantinya.

Aku pikir menyanyi itu untuk anak perempuan, jadi aku pilih menjadi anak altar. Aku langsung dikasih buku misa tipis dalam bahasa Latin yang harus dihafalkan, dan aku bisa. Sampai sekarang aku masih hafal di luar kepala doa confiteor (pengakuan dosa) secepat dulu. Rupanya apa yang waktu kecil dipelajari, selama hidup tak akan lupa.

Jadi setelah seminggu mendengarkan semuanya dari Bruder, maka aku boleh membantu pastor sebagai misdinar pada saat misa.

Setiap kali aku juga boleh ikut menikmati makan nasi di pastoran kalau datang di misa hari itu.

Di jaman perang minuman anggur tidak ada dan kami membikin anggur tapé dari beras ketan yang lengket. Bagiku itu sangat enak.

Selama Ekaristi aku bisa bergerak bebas dan biasanya aku berjalan sepanjang tiang tembok yang kokoh serta mengambil sebuah gelas besar diisi anggur tapé dan meneguknya sampai habis.

Di rumah oleh orang tua kami tidak pernah diberi pendidikan keagamaan. Yang aku tahu hanyalah saat aku dan Charles pada hari Minggu ikut misa Ekaristi di sebuah gereja Katolik tempat kami tinggal.

Aku tidak pernah tahu apa saja yang mereka lakukan. Aku lihat mereka semua berdoa dengan khusuk. Pastor dengan jubah yang megah membacakan berbagai doa di gereja serta semua umat atau para petugas menyahutnya.

Sekarang saat aku sudah tahu isi buku berbahasa Latin itu dan bisa menjawab pertanyaan pastor, aku masih menghadapi masalah besar. Untuk apa mereka lakukan itu semua. Bagaimana bisa mendapatkan hubungan rohani dengan semua orang kudus dan Allah. Aku tak pernah tahu semua itu. Sampai sejauh ini aku tidak melihat cahaya yang begitu terkenal.

Namun sebaliknya, Charles sudah melihat cahaya itu dan sebisa mungkin sangat saleh. Sejak itu aku mencoba berdoa pada Yesus yang disalib, namun aku selalu punya perasaan untuk apa aku melakukannya, tetapi siapa tahu.

Aku setiap minggu selama satu jam juga harus mengikuti Katekismus dan mendengarkan semua cerita indah dari jaman dahulu dari negeri-negeri asing serta mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus di seluruh Palestina. Mengapa mukjizat-mukjizat itu hanya dilakukan di Palestina dan tidak di tempat lain di dunia.

Mengapa tidak di sini sekarang, di waktu yang hampir kacau ini. Jika Tuhan bisa melakukan apa saja, mengapa ia membiarkan orang-orang begitu menderita dan kelaparan - itulah yang aku sudah pikirkan pada usia itu dan semua kisah besar masa lalu sepetinya telah dibuat untuk menjaga kita agar tetap manis. Semua supaya kita percaya bahwa iman Kristen itu lebih baik dari semua kepercayaan lainnya dan bahwa kita lebih pasrah kepada Tuhan dibanding yang lain. Pada waktu itu kita sudah dicuci otaknya.

Biarawan itu kadang-kadang menyelenggarakan untuk semua anak perjalanan pendakian pegunungan yang letaknya dua puluh lima kilimeter dari kota kami. Dia mengikuti kami dengan naik gerobak sapi dengan membawa semua peralatan liburan.

Tempat itu adalah sebuah rumah petani dan dipakai sebagai penginapan kami. Udaranya dingin sekali dan letaknya tinggi di pegunungan. Pada siang hari kami berjalan jauh, dan malam harinya membuat api unggun untuk menghangatkan badan.

Di sana kami tinggal hanya tiga malam, dan kami berangkat pulang pagi-pagi sekali, rasanya berjalan menuruni gunung jauh lebih cepat. Di hari-hari yang kami lewati di desa pegunungan kami sama sekali tidak merasa bahwa perang sedang berkecamuk. Tak seorang Jepang pun terlihat.

Di seberang gereja di Lampuyangan ada rumah-rumah bagus yang dari luar ditutup dengan pagar kawat berduri. Di sana aku lihat kebanyakan anak-anak pirang berjalan-jalan. Selama menjadi anak altar, aku tidak pernah bergaul dengan anak-anak itu. Anda tidak boleh datang ke situ. Tahun-tahun berlalu tanpa ada perubahan. Aku melihat semakin banyak orang berpakaian compang-camping dan pengemis berpenyakit beri-beri berkeliaran di jalanan.

Ada yang bilang kepadaku bahwa babu Cuci (tukang cuci yang menjadi ibu keduaku) ada di rumah penampungan orang miskin tidak jauh dari tempat tinggalku. Aku segera melompat ke atas sadel sepeda ayahku dan pergi ke rumah miskin yang untuk orang Indonesia. Aku lihat banyak orang di sana, di atas sebidang tanah kering dan aku bertanya-tanya pada mereka apakah bisa ketemu Babu Cuci.

Saat itu tengah hari yang panas terik serta berdebu. Tempat itu berpagar kawat berduri dan aku berdiri di jalan. Tak lama aku berdiri menunggu di sana sambil meneriaki orang-orang agar memanggilkan Cuci tatkala aku tiba-tiba mendengar teriakan "Nyo!" dan tiba-tiba di situ sudah berdiri Cuci yang kurus sekali tetapi masih bisa dengan jelas dikenali.

Aku menangis sejadinya dan bertanya apakah ia mau datang ke luar untuk pergi serta tinggal bersama denganku. Atau apakah mereka cukup memberi minum dan makan. Aku katakan padanya bahwa aku akan pergi buat mengambilkan air dan makanan, dan dia harus menunggu aku kembali.

Selama hidup rasanya aku tidak pernah secepat itu bersepeda, dan sesampai di rumah segera aku penuhi air sebotol dan kututup dengan sumbat gabus. Di dapur aku taruh nasi dan sisa makanan sedikit dalam daun pisang dan kubungkus dengan serbet, dan aku langsung meluncur kembali.

Sesampai di sana Cuci tidak terlihat lagi; aku lama berdiri di sana sambil berteriak-teriak dan menangis menjerit-jerit memanggilnya, tetapi Cuci tidak datang lagi.

Aku pikir dia ada di suatu tempat sambil duduk tenang-tenang. Dia sudah ketemu cucunya lagi, dan sekarang dia boleh mati dengan tenang. Alangkah mulianya dia bagiku, betul-betul seperti seorang ibu. Hal ini selalu menyakitkan karena merindukan dia. Bahkan saat ini saya tidak bisa menahan air mata agar tidak keluar bercucuran.

Saat aku bertemu dengan dia dan bahkan berbicara dengannya telah berdampak besar pada hidupku, dan menjadi bagian dari trauma penderitaan perangku. Ayahku tidak bisa diketemukan lagi, ibuku masih tetap di tempat tahanan, tidak bisa melihat Cuci lagi dan 3 tahun telah lewat dan kami hidup seperti orang gypsies gelandangan dan tidak tahu buat berapa lama akan berlangsung.

Hampir sudah tidak mungkin ada sesuatu yang dapat kuperoleh pada umur itu. Aku tidak menyadari bahwa pikiran seperti itu datang begitu saja dari atap rumah, tetapi kadang-kadang aku menjadi putus asa. Aku disarankan oleh teman-teman dan Bruder Csizmazia agar berdoa pada Yesus yang disalib, tetapi dari situ tidak ada sesuatu yang terjadi.

Aku bisa menjadi gila karenanya. Untuk mencari makan menjadi semakin sulit. Aku tidak sendirian, melainkan kami berempat. Kami harus pergi mencari tempat lain karena keluarga Lipscharts tidak bisa lagi membantu kami dan mereka mau menjual rumahnya.

Kami tidak tahu apa alasan yang sebenarnya, pokoknya kami pergi mencari tempat tinggal lagi.

Jantungku makin berdebar-debar, mungkin karena makan yang tidak teratur dan kekurangan vitamin. Aku harus beristirahat dan tidak boleh terlalu lelah. Bagaimana mungkin melakukannya dalam keadaan seperti itu.

Lewat perawat ibuku kami mendapatkan sebuah kamar di rumah mertuanya. Rumah itu letaknya tidak jauh dari gedung-gedung pemerintahan dan stasiun radio.

Dari pagi buta sampai sore tatkala panas matahari berkurang, aku duduk-duduk saja, dan kemudian aku masuk kembali ke kamar kami.

15 Agustus: Jepang menandatangani penyerahan tanpa syarat setelah bom atom dijatuhkan Hiroshima dan Nagasaki.

17 Agustus 1945: Soekarno menyatakan berdirinya Republik Indonesia (dari rumah orang tuanya di Blitar?) dan melalui siaran radio yang tidak jauh dari tempat kami tinggal berita ini disebarluaskan ke seluruh Indonesia.

Bahwa stasiun radio yang sama yang sebelumnya biasa digunakan untuk menyiarkan berita-berita harian Nirom dan sekarang dipakai untuk Republik Indonesia, terasak sebagai duri yang menusuk mata oleh otoritas Belanda yang saat itu berada di wilayah yang ditaklukkan.

Pada suatu pagi aku kembali duduk di bawah sinar matahari di tempat biasanya ketika tiba-tiba lewat dua kapal terbang air (hydroplane) dengan terbang rendah. Kemudian mereka melakukan "Immelman" dan sepertinya nampak terbang menukik. Rentetan bunyi senjata kanon dan roket yang diluncurkan tampak menuju ke arahku, meskipun sebetulnya diarahkan ke arah stasiun radio.

Pesawat-pesawat itu menghilang secepat mereka datang. Roket-roketnya tidak mengenai sasaran dan sebuah gedung lain nampak terbakar. Hal itu dapat terjadi terutama dalam perang. Setengah jam setelah pesawat menghilang, jantungku masih tetap berdebar-debar.

Kami boleh datang menjemput para tahanan di kantor polisi Ngawi. Kemungkinan ayahku juga berada di sana. Aku pergi ke kantor polisi bersepeda dan di sana berjejer delapan atau sembilan tubuh kurus seperti jerangkong berpakaian compang-camping dengan jenggot dan rambut panjang.

Aku tidak menjumpai satupun dari kelompok itu yang mirip ayahku dan aku mulai berteriak-teriak karena aku tidak menemukannya di antara kelompok tersebut. Sungguh sangat menakutkan karena di situ ia tidak ada.

Saya tidak bisa membayangkan dan tak tahu bagaimana rasanya setelah menyadari bahwa ayah pergi. Aku panik dan mulai merengek-rengek. Saat itu satu kerangka hidup bertanya, "Siapa kamu?" Aku menjawab Muller! Kemudian ia berkata: "Lihat lurus di depanmu, itu Muller!"

Aku ingin langsung terbang ke dalam pelukannya, tetapi ia berteriak padaku agar tidak menyentuhnya, karena badannya penuh dengan kutu dan hama penyakit yang lain. Rupanya dia juga tidak mengenali aku lagi setelah 3 tahun berlalu.

Maka kami pun menyewa sebuah andong dan pergi ke rumah seorang bibi tempat kami belum lama tinggal.

Di kebun pakaian ayahku kami tanggalkan dan langsung ditaruh di kamar mandi untuk direndam dalam berbagai macam deterjen dan desinfektan. Pakaian lama dari kamp tawanan dibakar dan setelah rambutnya dipotong barulah kami dapat mengenalinya kembali.

Ada beberapa keluarga di rumah itu yang bersatu kembali dan semua orang berusaha untuk mengatasi pengalaman yang dialami dan mengumpulkan tenaga lagi.

Tak lama setelah kami berkumpul kembali dengan ayah dan ibu, pada suatu malam terjadilah tembak-menembak seru di dekat rumah kami dan berjalan terus selama dua hari.

Untunglah tak ada peluru nyasar masuk ke rumah kami, sungguh suatu keajaiban. Tidak satupun pernah mengalami kejadian seperti itu dan kami semua bertiarap di bawah meja-meja yang ada dengan badan gemetaran karena takut.

Rupanya itu tentara Heiho Indonesia yang sewaktu jaman perang menjadi relawan dan dilatih oleh Jepang untuk nantinya dikerahkan guna melawan Sekutu, tetapi kemudian dibubarkan setelah kapitulasi Jepang.

Para prajurit Heiho ini dimaksudkan oleh Soekarno untuk bertindak sebagai tentara pembela kemerdekaan Indonesia dan karena itu mereka memerlukan senjata yang adanya di tangan tentara Jepang. Inilah serangan Heiho terhadap barak-barak Jepang untuk merebut senjata, dan oleh Jepang tidak bisa begitu saja diserahkan.

Beberapa minggu setelah Jepang menyerah, kami datang kembali ke kantor polisi untuk melapor dengan berpakaian yang pantas. Laki-laki dewasa dan anak laki-laki yang berumur lebih dari 14 tahun dipisahkan dari kaum perempuan dan anak-anak. Laki-laki diangkut ke kamp Pundung dan perempuan dengan anak-anak ke kamp Sewu Galur.

./beeld/kamp_sewugalur_mrt46_web.jpg
Di depan tengah, setengah berlutut Fried Muller, di sisi kanannya duduk Wim Stuyver.

Aku pergi bersama ibu, saudara-saudara lelaki dan saudara perempuanku ke kamp Sewu Galur, di pantai selatan. Kami dimuat ke dalam truk barang dan langsung dibawa ke kamp Sewu Galur.

Kamp ini pada awalnya dipakai sebagai gudang pabrik gula. Sebelum perang tempat itu dijadikan penampungan penderita lepra, dan selama pendudukan Jepang dibangun menjadi barak-barak untuk penjaga pantai selatan terhadap serangan Sekutu.

Kamp ini terdiri dari lusinan barak berbagai ukuran dan lantainya setinggi 70 cm di atas permukaan tanah. Aku kira karena pertimbangan banjir dan hama. Di luaran berkeliaran tikus dan ular serta kalajengking yang membuat hidup kami sengsara.

Kamp itu dipagari dengan kawat berduri dan pagar bambu setinggi 2,5 m sehingga penglihatan sulit untuk menerobosnya. Di sudut-sudut kamp didirikan rumah-rumah jaga yang mula-mula dijaga oleh tentara Heiho dan kemudian oleh para pemuda di bawah pimpinan polisi setempat.

Kami masing-masing mendapat tikar anyaman untuk alas tidur dari bahan ilalang (rumput harimau). Kami berlima, yaitu ibuku dan empat orang anak, berbagi kamar berukuran 4 x 4 meter dengan tante Tina dan tiga anaknya: Jimmy, Nancy, Grace serta nenek Correwor - dari sisi ibu.

Correwor adalah seorang nenek yang tabah, yang dulu tinggal di Ungaran dekat Semarang. Dia memiliki perkebunan dengan lumbungnya. Dulu dia sering naik kuda dengan menyandang senapan angin di atas bahunya untuk pergi ke perkebunan dan kadang-kadang bermalam di sana.

Rumah perkebunan tersebut mempunyai jendela-jendela berjeruji kayu dan bukan jeruji besi. Menurut cerita, Correwor tidur di bawah jendela dan di sampingnya ada sebuah parang besar.

./beeld/tine_10jaar.jpg
Keluarga van Dietz di Ungaran. Duduk di kanan, Tine, 10 tahun.

Pada suatu malam ia mendengar suara di atasnya seperti ada orang yang mencoba mematahkan jeruji jendela dengan tongkat bambu yang panjang melalui tali jemuran. Karena kain jemuran berada lebih jauh dari batang bambu, maka lengan orang itu ikut masuk di sela-sela jeruji supaya bisa lebih panjang.

Correwor menyambar parangnya dan dengan satu gerakan cekatan dia mengayunkannya ke lengan lawannya dan dengan lengkingan tinggi terdengar batang bambu jatuh di atas tanah. Bacokannya mungkin tidak cukup keras, karena esok harinya tidak ditemukan bercak darah secara berlebihan.

Correwor menceritakan kepada cucu-cucunya bahwa dulu dia pernah menembak babi-babi hutan dan seekor harimau. Tapi yang terakhir ini tidak kami percayai karena kami selalu berpikir bahwa cerita ini disampaikan hanya untuk cucu-cucunya.

Dia tidak pernah menceritakan kepada kami kisah-kisah hantu. Itu merupakan kelemahannya karena ia sendiri sangat mempercayainya.

Dia setiap kali juga bertukar kepercayaan. Mula-mula dia Protestan, lantas berubah dan terakhir dia menjadi anggota gerakan Pantekosta yang dia rasakan cocok.

Jadi kami bersepuluh menempati ruangan yang berukuran 16 meter persegi. Mengingat anak-anak tanteku masih kecil-kecil, maka dengan cepat timbul masalah tangis bayi karena alasan-alasan tertentu akibat kurang makan atau karena kotoran.

Untungnya, setelah satu bulan tinggal bersama penuh derita, kakakku dan aku boleh turut memakai sebuah toilet tertutup berukuran 3 x 2 meter, yang untungnya dengan saluran pembuangan kotoran yang tertutup semen rapat.

Tak seorang pun mau tinggal dengan toilet bekas rumah sakit penderita kusta. Kami satu-satunya di kamp yang mempunyai tempat privasi. Kami benar-benar bebas dari dari rengekan anak-anak, sedangkan mengosongkan ember air seni dan tinja dari anak-anak kecil setiap pagi dapat kami lakukan di seberang kamp.

Saya biasanya berlari sambil mau muntah ke toilet terbuka untuk mengosongkan dan membilas dengan air ember isi kotoran. Pekerjaan ini menghabiskan banyak tenagaku, sebagian tentu saja karena stres sebab harus berlarian melewati lapangan kamp sambil membawa ember isi kotoran.

Di luar ada dua toilet terbuka yang dibuat di atas selokan, satu untuk pria dan satunya untuk wanita di kamp yang berisi 350 orang. Toilet-toilet ini berada di sisi lain dari kamp seperti halnya barak kami berada. Jadi, dalam keadaan darurat bisa dipakai.

Bicara tentang toilet, maka jembatan bambu panjang yang itu dilubangi di beberapa tempat di mana Anda dapat melakukan kebutuhan dengan terlindung. Dengan kaleng besar yang diikat dengan tali, Anda dapat menimba air dari selokan untuk mencuci pantat Anda. Air selokan cukup bersih dan mengalir deras serta berasal dari pegunungan.

Masalahnya, air itu mula-mula melewati toilet perempuan dan kemudian toilet pria. Jadi air bersih untuk cuci-cuci tidak pernah Anda peroleh, tapi Anda sudah terbiasa.

Ada dua sumur untuk menyediakan air minum dan air mandi yang memadai. Ada dapur umum dengan kayu api dan di situ semua orang mendapat makanan yang dibagikan.

Orang-orang dapat membeli barang-barang dengan cara menukarkan pakaian dengan barang kebutuhan hidup melewati atas pagar, atau menjualnya ke penduduk setempat. Bisa juga menjual cincin emas dan perak, tetapi hasil yang diperoleh tidak banyak karena petani-petani sendiri waktu itu hidup dalam kemiskinan.

Aku segera menawarkan tenaga untuk melakukan berbagai pekerjaan dan perbaikan, tapi tidak ada yang berarti, dan satu-satunya yang aku bisa lakukan adalah mengangkut bundel-bundel kayu bakar dari pintu utama ke kantin. Setiap hari aku berjalan lima belas kali sejauh sekitar enam puluh meter bolak-balik. Ada sekitar lima belas onggokan yang perlu diangkut.

Aku lakukan ini sampai suatu hari waktu aku berjalan ke kantin dengan memikul bundelan di bahu aku rasakan leherku terbakar nyeri dan balok-balok kayu bakar segera aku taruh di tanah.

Ini pasti sengatan kalajengking. Setelah kejadian itu aku hanya mau mengangkat ikatan-ikatan kayu bakar itu kalau berdua.

Selama tinggal di kamp aku sama sekali tidak bergaul dengan teman-teman sebaya, bahkan benar-benar tidak dengan siapa pun. Apakah itu ada hubungannya dengan umurku, aku tidak tahu.

Satu-satunya keluarga yang telah mengundangku adalah keluarga Vermaes tatkala mereka mengundang datang untuk berdoa rosario di sore hari. Aku lakukan hanya satu kali. Kekayaan doa itu tidak bisa aku lihat dan aku dengan tegas lantas berhenti melakukannya.

Para ibu terus menjaga anak-anak perempuannya dalam rumah dari bahaya anak-anak seperti aku, sedangkan anak-anak muda tidak nampak. Aku kira mereka takut kalau-kalau ada yang menggiring anak-anak perempuan itu ke kamp laki-laki.

Ada seorang anak yang tampan dengan siapa saya sering bergaul, namanya Benno Mensink. Seorang Belanda totok yang hidup sendirian dengan neneknya. Benno belakangan menjadi seorang kapten Angkatan Laut Kerajaan seperti ayahnya.

Aku pergi keluar-masuk blok hunian sambil bertanya-tanya kalau aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka. Jawabannya kebanyakan negatif, jadi aku menganggur saja.

Satu-satunya hal yang saya lakukan di pagi hari adalah urusan ember toilet, membawanya dari ruangan tempat ibu dan bibi dengan anak-anak kecil tinggal ke tempat toilet terbuka; membuang isinya di sana dan membilasnya. Sampai sekarang aku masih bica menceritakannya karena ingatanku cukup baik. Ember itu harus dibawa menyeberangi kamp, suatu hal yang tidak selalu menyenangkan karena biasanya isinya sangat penuh.

Tidak ada buku-buku untuk dipelajari atau sekedar untuk dibaca. Sementara itu aku sudah empat tahun tidak sekolah sedang keadaan jelas menjadi lebih buruk. Aku betul-betul khawatir kalau sampai ketinggalan jauh, tetapi tidak seorang guru pun yang ada di kamp mau mengajar. Mereka hanya mau mengajar anak-anak mereka sendiri.

Setiap kali terpikir sampai kapan penderitaan ini akan berhenti dan kapan aku akan kembali ke dalam kehidupan keluarga yang normal dan melihat kembali orang tuaku. Itulah kekhawatiranku yang terbesar waktu itu, bahwa aku tidak akan bisa sekolah lagi dan akan menjalani hidup hanya dengan pendidikan dan pengalaman tulis-menulis yang tidak banyak.

Maka bercucuranlah air mataku. Aku tidak ingin menjalani hidup sebagai orang buta huruf.

Di tengah kehidupan waktu itu aku menderita kekurangan vitamin dan borok tropis yang tidak dapat diobati lagi. Juru rawat setempat, Detie van Zeventer mengobati luka-lukaku dengan berbagai salep, tetapi luka-lukaku tidak bisa tertutup. Kaki dan lututku diperban. Aku bau nanah yang merembes keluar dari perban. Oleh karenanya aku menjadi kompleks (dan aku sudah punya begitu banyak kompleks), apalagi sekarang karena orang lain bisa mencium bau busukku.

Aku tidak bisa ikut olah raga. Main sepakbola tidak bisa karena bagian-bagian badan yang akan ditendang-tendang penuh dengan bisul.

Tidak ada yang bertanya padaku apakah saya ingin makan sesuatu supaya kuat, karena mereka sendiri tidak punya persediaan. Perempuan-perempuan umumnya masak untuk keluarganya sendiri tentu agar kepada anak-anaknya diberikan vitamin yang lebih banyak.

Aku lihat mereka kebanyakan sangat miskin karena sendok masak pun tidak punya. Di situ aku mulai membikin sendok-sendok kuali besar dari batok kelapa yang keras. Di bagian atasnya aku bor untuk membuat lubang persegi dan tangkai besinya aku buat dari bambu dan diikat dengan tali bambu.

Bagiku sendok pertama buatanku sangat sukses. Mula-mula aku buat sekitar enam buah, dan aku tawarkan ke semua blok dan semua habis. Semua orang ingin mempunyai sendok seperti itu, dan dengan demikian sebagian besar masa tinggalku di kamp menjadi berguna.

Kemudian aku buat juga sendok-sendok yang lebih kecil. Sendok-sendok kecil sebagian besar aku berikan kepada perempuan-perempuan yang aku sukai dan bersikap normal kepadaku dan yang biasanya menyapa aku ketika lewat.

Terus terang, saya berpikir untuk punya pacar, tetapi bicara soal ini tidak mungkin karena mereka dijauhkan dari aku. Tetapi di tempat itu banyak wanita muda berjalan-jalan dan beberapa di antaranya nampak cantik dan aku pikir mereka sudah melihat cela di badanku dan suatu penghalang lantas tumbuh menentang kondisi mentalku. Umurku tiga belas tahun pada satu September dan jiwa mudaku benar-benar mulai menggelitik.

Suatu ketika kalau sore kadang-kadang seperti ada lelaki-lelaki berjalan-jalan di sekitar kamp dan orang-orang memata-matainya dari jauh. Apakah mereka itu penjaga yang tengah meronda atau orang lain, kami tidak pernah tahu.

Kepala kamp Mevrouw Bos waktu itu memutuskan untuk mengadakan ronda, terdiri dari semua anak laki-laki yang berumur dua belas tahun ke atas. Mereka harus menjaga kamp dan berjalan keliling dari jam 19.00 sampai jam 22.00.

Setiap hari ditentukan siapa anggota grupnya dan dimana akan meronda. Kami membawa bambu runcing untuk membela diri. Kalau dipikir itu sangat berbahaya karena dalam kegelapan bisa saja berjumpa dengan grup penjaga lain dan bisa jadi ada yang luka-luka.

Rasa takut terbesar timbul karena tali jemuran. Banyak petugas ronda sakit karena tenggorokannya tersangkut tali jemuran.

Selama periode ronda tak ada orang yang ditangkap. Kesimpulanku bahwa wanita-wanita tatkala melihat ada lelaki berjalan-jalan, mereka berkhayal dalam fantasinya berbagai impian mengenai laki-laki.

Banyak perempuan mengorganisir berbagai pertunjukan sandiwara dan nyanyi bersama dengan mengajak anak-anak dan orang dewasa supaya keluar dari sikap apatis terhadap keadaan, dan untuk keberhasilan mereka seharusnya mereka diberi penghargaan.

Bulan Desember 1945 kami masuk kamp dan pada bulan Mei 1946 penghuni pertama dipindahkan ke Jakarta (Batavia). Umumnya mereka yang sebelumnya pernah tinggal di kamp Jepang diberi prioritas.

Kami, ibuku dan ke empat anaknya dipindahkan pada bulan November 1946. Mula-mula dengan truk ke stasiun Tugu di Yogya dan malamnya kami meninggalkan Yogya naik kereta api ke Jakarta.

Pagi-pagi buta esok harinya,  sebelum kami menyeberangi garis demarkasi dekat Bekasi, kami melihat di mana-mana ada serdadu Gurkha. Mereka semua memakai baret hitam dan selain sebuah karabin pendek di pundaknya ada sebuah pisau belati besar. Mereka adalah pasukan penyergap yang merupakan pasukan paling elit dari Angkatan Darat Inggris.

Untuk pertama kalinya setelah melewati beberapa tahun, kami merasa bebas dan aman. Ketika kereta api menyeberangi sungai, nampak berbagai mobil jip dengan perwira-perwira Inggris di seberang jembatan. Merekalah yang melaksanakan operasi ini. Dari tempat itu sampai ke Jakarta meruupakan wilayah bebas, di mana para pejuang kemerdekaan Indonesia tidak mempunyai kekuasaan. Perasaan bebas dan tidak takut lagi atau harus memiliki rasa takut adalah perasaan bebas yang tak terlukiskan yang selama hidupku akan terus kubawa dan kuhargai.

Para pemimpin Indonesia turun, dan tentara Ghurka mengambil tempat mereka di kereta.

Kereta melaju terus sampai stasiun Mangarai di Jakarta, dimana petugas-petugas Palang Merah mula-mula menyemprot kami dengan DDT dan kemudian memberi kami pakaian baru.

Anda boleh memilih antara dua celana pendek dengan kemeja lengan pendek atau satu celana panjang dengan dua kemeja.

Belakangan kami mendengar bahwa ada peraturan dari Palang Merah, bahwa Direktur yang telah menjual celana atau baju di pasar gelap untuk keuntungan pribadi, telah dipecat. Dia tidak pernah diajukan ke pengadilan. Politik kolonial Belanda sungguh berkuasa.

Ayahku yang dievakuasi lebih dahulu menunggu kami, dan mengantarkan kami ke salah satu adik perempuannya yang memiliki sebuah rumah besar dengan bangunan sampingnya. Di sana kami bisa memakai beberapa kamar sampai kami bisa menyewa rumah sendiri.

Belum sampai seminggu di Jakarta, aku mendapat serangan malaria. Rupanya jenis Tropikana, dan serangannya sangat serius.

Borok tropisku hilang karena aku menelan banyak pil vitamin.

Kemudian aku kena penyakit kuning. Setelah beberapa minggu berbaring di tempat tidur, aku kembali masuk sekolah.

Sekolah-sekolah pemulihan didirikan untuk mengatur supaya semua anak-anak yang kehilangan waktu selama perang mampu mengejar ketinggalan. Masing-masing kelas berjuang selama enam bulan.

Kami mempunyai banyak keluarga dari fihak ayah yang tinggal di Jakarta. Kami ketemu mereka biasanya pada akhir pekan dan setiap acara pergantian tahun. Nenek dari pihak ayah aku kunjungi setiap hari Sabtu. Itulah Oma Dik yang sama sekali tidak gemuk - setidaknya pada waktu aku ada di sana.

Aku selalu pergi ke rumahnya pagi-pagi supaya di sana dapat makanan kecil, dan dia selalu membuat sesuatu yang spesial buat aku. Pulangnya aku selalu dikasih 1,50 gulden untuk nonton film di bioskop atau untuk jajan makanan.

Dengan keluarga lain aku tidak sering bertemu, kecuali dengan saudara sepupu saya, anak-anak lelaki dari saudara laki-laki tertua ayahku, oom Vent. Dia sering membawa kami berburu. Untuk menembaki merpati liar.

Waktu itu, pada saat orang-orang Indonesia sibuk dengan perang kemerdekaan, timbul berbagai aktivitas teroris.

Pada suatu hari tatkala kami berburu di sebuah perkebunan karet, tiba-tiba tidak jauh dari kami terdengar rentetan tembakan senapan mesin berat. Peluru jatuh bersarang di pepohonan karet di atas kepala kami. Ranting dan daun berjatuhan, dan juga tetesan getah karet.

Kami tidak tahu siapa yang menembak. Apkah tentara kami sendiri ataukah pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia?

Aku pikir itu pasukan kami. Mereka melihat dari jauh bahwa ada beberapa orang lain dan mereka mendengar tembakan kami, tak tahunya kami yang sedang berburu. Penemuan ini dilaporkan ke pusat dan berakibat semburan salvo dari senapan mesin berat.

Itulah satu-satunya insiden yang kami alami selama masa Siaga. Kami pulang dari berburu membawa sekitar seratus merpati liar berbagai ukuran besar yang tertembak. Pembantu dapur bibiku, dengan dibantu oleh pembantu-pembantu lainnya, mulai mencabuti bulu merpati dan membakar serta memasaknya. Asam hitam selalu ada sebagai bumbunya. Sehabis berburu selalu pesta. Aku benar-benar menikmatinya.

Musim gugur 1947 kami berangkat menuju Belanda. Kami naik kapal "Sibajak MS" di Tanjungpriok (Tandjong Priok) pada tanggal 24 September 1947, sebuah kapal pembawa pasukan Belanda dengan anak buah Belanda biasa (bukan tentara).

Makanan di kapal cukup bagus untuk ukuran sebuah kapal pengangkut tentara. Roti-roti bundar untuk sarapan sungguh enak, tetapi kalau dibiarkan sehari saja dia menjadi keras seperti batu.

Perjalanan melalui Terusan Suez makan waktu satu bulan, dan satu-satunya peristiwa luar biasa adalah badai besar di Teluk Aden dengan gelombang setinggi rumah dan puluhan ikan terbang masuk ke atas dek. Sayangnya kami tidak bisa memanggangnya.

Selain orang-orang yang mabuk laut dan muntah-muntah, di kapal tidak ada yang sakit.

Di Suez kapalnya kena bunker dan kami diberi pakaian dingin oleh UNRWA - UN Relief and Works Agency.

Kami tiba di Rotterdam pada musim gugur yang cerah (tanggal 22 Oktober 1947) dan oleh sebuah badan khusus urusan sosial kami ditempatkan di sebuah hotel yang terletak di dekat danau Vinkeveen. Kami dibawa ke situ naik bus.

Kami diberi bon-bon makanan tambahan untuk membeli mentega dan gula.

Aku masih sakit kuning. Di situ tidak ada tempat pemeriksaan medis dan bantuan tidak ada.

Kedatangan kami disambut sangat dingin. Kami pikir orang-orang Belanda akan menyambut kami dengan hangat, tetapi yang diberikan malahan sebaliknya. Banyak sedikit karena pemerintahan sosialis tengah berkuasa di tahun-tahun sesudah perang.

Pemerintah ini meinginkan agar orang Belanda-Indo dari daerah jajahan tidak dibawa ke Belanda. Karena mereka nantinya akan ikut menjadi bagian dari sistem sosial, dan menurut kaum sosialis mereka harus berterima kasih atas perjuangan mereka melawan kapitalisme, Dalam peperangan para Belanda-Indo tidak pernah ikut serta, dan dengan sendirinya mereka tidak mempunyai hak atas hasil yang dipetik. Jadi pendapat demikian yang diturunkan dari tingkat atas ke eselon-eselon di bawahnya.

Kaum sosialis eselon rendahan tidak tahu bahwa bahwa sistim sosial di Belanda diperkenalkan oleh pendudukan Jerman, namun secara resmi selalu ditekan.

Di Belanda mereka sama sekali tidak tahu apa yang terjadi waktu itu di daerah jajahannya. Mereka sama sekali tidak tertarik pada hal-hal yang terjadi di wilayah koloni.

Bahkan dalam buku-buku sejarah tidak ditemukan apa-apa mengenai penjajahan yang lamanya 300 tahun. Juga tidak pernah terbaca bagaimana pemerintahan Belanda diamuk di Maluku dan Aceh. Dengan ribuan korban di pihaknya. Tidak pernah ada kutukan dari PBB atau organisasi-organisasi dunia lainnya. Negara-negara Eropa lainnya tengah terikat tangannya mengurusi koloni-koloni mereka sendiri.

Tidak ada yang menyambut kedatangan kami, bahkan sebaliknya, semua orang nampak tegang dan di hotel ada ruang makan dengan meja-kursi kayu serta bangku bagi mereka yang pulang kembali sedang ruangan lain untuk para pelanggan meja-mejanya tertutup rapi dengan gelas minum kaca dan peralatan makan dari perak.

Makanan untuk pendatang tidak bisa tertelan lewat tenggorokan Anda. Aku pikir bahwa mereka di medan perang memiliki makanan yang lebih baik dibanding yang untuk para imigran berkulit coklat.

Ayah saya di Amsterdam cepat-cepat mulai mencari tempat tinggal, tetapi tidak menemukan, sedangkan kami harus meninggalkan tempat itu untuk pindah ke penginapan di Bussum di distrik Spieghel. Rumahnya besar dan ditinggali oleh empat keluarga pendatang.

Di Bussum untuk pertama kali masuk sekolah menengah. Di Bussum ada pabrik cokelat Bensdorp Baunya bisa tercium sampai berkilometer-kilometer bila angin datang dari arah yang benar.

Rumah itu terletak di distrik Spieghel, di mana dulunya orang-orang kaya yang tinggal dan di mana banyak orang Yahudi sebelumnya tinggal tetapi setelah perang tidak kembali lagi.

Rumah kami oleh balaikota disiapkan sebagai penginapan (pension) bagi para pendatang yang kembali dari Indonesia.

Kami mendapat sebuah ruang duduk dan makan yang luas dengan alat pemanas rumah bertenaga batubara dan dua kamar tidur. Tetapi hanya ada satu kamar mandi.

Ada juga seorang janda dengan anak laki-lakinya yang mengelola rumah kos tersebut. Rumah ini juga memiliki halaman yang luas dengan pintu masuk di depan dan di belakang.

Sungguh sangat menyenangkan karena di jalan di balik rumah kami tinggal mantan rekan dari kamp Sewu Galur, dan orangnya adalah Max Keller yang tinggal bersama keluarganya.

Aku dan adikku mendaftar ke klub rugby 'T Gooi kota Bussum, dan Max Keller main juga di situ. Ia bermain sebagai penyerang. Mereka adalah pemukul klas berat dan aku serta adikku sebagai pemain tiga-perempat dan dua saudara lainnya melengkapi baris cepat tiga-perempat. Itu permainan olahraga yang melelahkan. Setiap selesai main, waktu keluar dari kamar mandi aku hampir tak bisa jalan.

Di samping rumah kami ada sebuah rumah sebesar rumah kami yang dihuni oleh seorang ibu dengan banyak anak perempuannya yang hanya menyapa "hallo" saat bertemu, dan tidak mencari hubungan lebih lanjut.

Orang-orang yang tetap tinggal di penampungan Vinkeveense mengira akan terus dibantu oleh dinas korban perang. Betapa keliru pendapat mereka. Tidak ada orang yang muncul membantu. Tidak ada orang yang memberikan penjelasan kepada mereka di mana dan ke instansi apa harus pergi untuk menerima bantuan lebih lanjut.

Kami kira orang-orang Belanda memahami dengan baik penderitaan dan periode pendudukan oleh Jepang di Indonesia. Namun yang benar adalah sebaliknya. Mereka tidak tahu apa-apa tentang Indonesia dan aku pikir semua pemerintahan di Belanda akan meminimalkan kesalahan-kesalahan di Indonesia dan tidak ingin menjadikannya sebagai hiasan bak jam besar di dinding.

Sebagian besar dari mereka ditinggalkan hidup dengan trauma perang dan lama terkatung-katung tanpa bantuan di dalam rumah-rumah kontrak-pensiun.

Jika sekarang aku menganalisa situasi, maka aku hanya punya satu kata sebagai kesimpulannya. Dalam bahasa Jerman "zum Kotzen" yang artinya menjijikkan. Mengapa dalam bahasa Jerman? Karena dalam bahasa Jerman akan lebih menarik bagi Belanda asli daripada ditulis dalam bahasa Belanda. Secara pribadi saya pikir "zum Kotzen" lebih menjijikkan daripada terjadi "om te kotsen" (muntah-muntah).

Di Bussum kami masuk ke sekolah menengah biasa. Saat itu mulailah periode yang sangat sulit bagiku karena selain aku merasa kehilangan beberapa tahun, aku juga menderita kompleks rendah diri (inferiority complex) yang kuat.

Aku bukan satu-satunya anak yang memiliki masalah ini. Ribuan. Kebanyakan anak hidup dengan trauma ini, yang boleh dibilang tidak diakui atau diobati. Kami mempunyai prioritas-prioritas lain yang lebih penting dari pada memikirkan trauma kami sendiri, tetapi sebagian terbawa jalan terus.

Waktu itu di Belanda tidak ada perhatian terhadap apa yang dialami oleh orang-orang pribumi di Indonesia. Yang terdengar hanya orang-orang Belanda telah menderita di bawah pendudukan Jerman. Bahkan mengenai orang-orang Yahudi pada saat itu hanya terdengar sangat sedikit. Anda bisa kehilangan cerita Anda tidak kepada siapa pun, mungkin beberapa bisa.

Aku sendiri dalam hidupku telah berjumpa dengan seseorang dan menjadi rekan kerja, namanya Rein de Boer, dan telah membicarakan soal kehidupan dengan aku. Sambil minum sebotol Whisky yang enak, kami telah berbagi pengalaman hidup. Betapa banyak air mata kami yang tercucurkan. Dan mengapa harus kami bicarakan hal itu? Karena dia juga hidup dengan menderita trauma yang besar.

Dia menderita trauma Groninger, yang asalnya timbul setelah ayahnya bunuh diri. Aku bisa membayangkan dan merasakan betapa dalam kesedihan yang dia alami sewaktu dia masih kecil. Sama halnya tatkala ayahku tidak aku temukan saat boleh meninggalkan kamp Jepang di Ngawi, dan saat tiba kembali di Yogya. Bahwa aku tidak mengenalnya di kantor polisi, dan mengira dia telah meninggal. Persis seperti ayah-ayah dari banyak temanku.

Setelah tahun pertama di HBS (sekolah menengah) selesai, pada tahun 1949 kami kembali ke Indonesia karena ayahku harus membantu jawatan kereta api untuk menjalankan lokomotif-lokomotif uap.Setelah tahun pertama di HBS (sekolah menengah) selesai, pada tahun 1949 kami kembali ke Indonesia karena ayahku harus membantu jawatan kereta api untuk menjalankan lokomotif-lokomotif uap.

Ayahku memesan tempat di kapal ms Oranje, yang waktu itu termasuk sebagai kapal penumpang paling mewah. Ini merupakan perjalanan cepat tanpa halangan khusus selama di jalan.

Kami tinggal di Jatinegara (Meester Cornelis) di Jalan Kereta Api (Spoorstraat), di pinggiran Jakarta (Batavia) dekat Bekasi, di sebuah rumah milik jawatan kereta api. Di sana hanya ada rumah-rumah milik perkereta-apian seperti sebelumnya di Cibatu.

Itulah jalur utara ke Surabaya sepanjang 900 km, dari Jakarta dan dekat Bekasi tempat kami pada tahun 1946 oleh militer Indonesia diserahkan kepada tentara Gurkha waktu tiba dari kamp.

Sepanjang perjalanan dari pelabuhan Tanjung Priok ke rumah di Jatinegara kami tidak banyak melihat banyak perubahan yang terjadi di Jakarta.

Apa yang kami temukan di rumah adalah senjata-senjata. Aku bertanya pada ayah untuk apa senjata-senjata itu, dan jawabannya adalah "Kamu tidak akan pernah tahu." Tapi aku menjadi sangat khawatir. Kami mengalami kesengsaraan selama pendudukan Jepang, dan aku tidak mau mendengar dan mengetahuinya, dan aku sudah menjalani bagianku dan untuk memulai lagi aku tidak mau.

Aku berkenalan dengan banyak anak tetangga yang setiap pagi naik kereta api yang sama untuk berangkat ke sekolah. Semuanya sibuk mengejar ketinggalan 5 tahun seperti halnya aku.

Namun masih ada waktu untuk keluar-masuk kampung dan mandi-mandi di kali. Bagiku di daerah tropis tidak ada pendinginan yang lebih enak dari berenang-renang di dalam air sungai yang jernih dan terletak tidak terlalu jauh dari rumah.

Kami selalu berhati-hati terhadap kegiatan teroris dengan mengawasi penduduk setempat, karena merekalah yang biasanya tahu kalau ada "teroris" yang bersembunyi di lingkungan. Dalam keadaan normal hal ini biasanya tidak pernah terjadi.

Kadang-kadang kalau kami jalan-jalan ke desa dan kami sambil menyapa penduduk kami bilang bahwa mau mandi-mandi di sungai, mereka menasehati untuk menundanya. Mereka tidak pernah bilang alasannya, tetapi kalau terjadi kecelakaan maka aparat militer akan turun tangan sehingga kemudian jatuh korban ke pihak penduduk.

Pasukan Belanda yang sering didukung oleh pasukan khusus seperti Baret Hijau dan Baret Merah yang sering berdasar pengalaman beranak buah militer setempat melakukan kekejaman tidak di antara orang-orang Jepang, seperti halnya Westerling dengan Baret Hijaunya.

Aku mendaftar ke sekolah CAS (Carpentier Alting Stichting), tetapi tidak lancar, karena direkturnya bertanya kepada ayahku apakah dia punya "backing", dan ternyata tidak. Karena itu anaknya tidak dapat terdaftar di CAS.

Sang Direktur mencoba dengan caranya sendiri mempertahankan tingkah laku kolonial, meskipun itu di sekolah. Ayahku merasa muak dengan dengan mentalitas seperti itu setelah mengalami berbagai peristiwa selama masa perang, dan dia mengeluarkan pistol kaliber .45 dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja. Sang Direktur dengan sopan meminta aku untuk megisi formulir pendaftaran lagi yang langsung aku lakukan.

Aku pribadi tidak merasa menderita, karena harus diakui sejujurnya bahwa selama di CAS merupakan periode yang sangat menyenangkan.

Aku naik kereta api listrik dari stasiun Jatinegara (Meester Cornelis) sampai Lapangan Kerajaan (Place Royale), dan di seberang stasiun terletak gedung sekolah CAS.

Jika naik kereta api maka kita melewati tenda-tenda plastik di antara deretan gerbong-gerbong yang ditempati oleh para tunawisma dan jumlahnya ratusan.

Nampak betapa miskin orang-orang ini. Dan celakanya, Anda sebagai individu juga tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku merasa malu karena berada dalam kedudukan seperti istimewa. Aku cukup makan, punya pakaian bersih. Bisa sekolah.

Jika saja Anda melihat gambar wanita berpakaian compang-camping. Lebih miskin dari mahluk ini di dunia rasanya tidak ada. Indonesia kan punya masa lalu yang jaya. Apakah Cuci pada akhir hidupnya juga seperti itu.

./beeld/arme_vrouw_47.jpg
Penduduk hidup dalam kemiskinan yang hina.

Orang-orang ini tidak bisa pergi kemana-mana. Apalagi kalau ada yang sakit. Tidak ada perawatan medis, dan itu hanya di sepanjang jalur rel kereta api.

Tetapi sebagian besar penduduk tinggal di pedesaan. Tidak ada badan organisasi yang mengurusi mereka. Mereka harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Mereka harus mencuri untuk bisa bertahan hidup. Mereka harus menjual diri untuk bisa bertahan hidup. Mereka harus melacur untuk bisa bertahan hidup. Betul-betul dunia kacau balau, namun perlahan-lahan tetapi pasti mereka keluar dari situasi ini. Itu semua adalah efek samping dari sistem kolonial.

Bulan Desember 1948 merupakan saat Aksi Polisionil Kedua. Belanda masih berpikir untuk mentrapkan kembali sistim kolonial sebelum perang dengan menduduki wilayah yang lebih banyak. Pikiran yang sia-sia. Amerika berpikir sebaliknya.

Pada tahun 1949 dilakukan serah terima kekuasaan. Pada tanggal 24 Desember 1949 bendera Belanda untuk selamanya diganti dengan bendera merah putih Indonesia. Waktu itu aku ada di rumah karena liburan Natal. Sebetulnya aku tidak tahu bahwa ini akan terjadi, tetapi hal itu tidak banyak mepengaruhiku. Bahkan aku senang karena sebuah negara seperti Indonesia mendapat kemerdekaan dan perang kemerdekaan telah berakhir dengan baik.

Aku bosan mendengar berita bagaimana setiap hari selalu banyak orang tewas, di pihak manapun.

Asal-usul dan sejarah kami di era kolonial telah menentukan bahwa kami juga harus meninggalkan arena untuk mencegah penderitaan lebih lanjut.

Tanggal 27 Maret 1951 kami naik kapal untuk kedua kalinya di Tandjong Priok, Ms Castel Bianco, sebuah kapal Italia pengangkut pasukan dengan awak kapal orang Italia.

./beeld/castel_bianco.jpg
Keluarga Muller naik MS Castel Bianco ke Belanda

Tante Tina, janda dengan empat anaknya bersama kami pulang ke Belanda. Pada kenyataannya dengan kami kembali ke Belanda maka suatu era gelap telah tertutup, dan kami berharap di Belanda akan memulai sebuah era baru.

Kami banyak makan spaghetti dan ravioli dan roti-roti lezat untuk sarapan pagi. Di Suez kami menerima pakaian hangat.

Kami tiba di Rotterdam pada tanggal 24 April 1951 dan diangkut ke Amsterdam. Dalam rumah pensiun tersebut tinggal juga para pemudik lain termasuk keluarga van den Adel dan orang-orang Polandia. Mereka bekas tentara Polandia yang tidak mau kembali ke negerinya. Mereka banyak dikunjungi oleh para pelacur dari lingkungan sekitar yang hangat.

Aku mulai sering ketemu perempuan-perempuan itu di pusat kota, di Nieuwe Dijk (Tanggul Baru), tempat aku di hari Sabtu bekerja di sebuah restoran. Aku ingin menemui mereka, tetapi tidak punya uang untuk membayar.

Di restoran aku mulai bekerja di bagian es, tetapi aku membagi-bagikan es secara berlebihan kepada anak-anak miskin, dan itu tidak memberikan apa-apa padaku. Lalu aku dipindahkan ke dapur, di mana aku boleh menggoreng telur dan harus mencuci piring-piring. Sejak itu aku tidak pernah mencari kerja lagi di bidang profesi horeca (hotel-restoran-kafe).

Aku masih di sekolah menengah HBS di Roelofhartplein (Square Roelof Hart), yang untuk sementara aku tinggalkan pada satu tahun sebelum kelas terakhir. Aku tidak punya keinginan apa-apa kecuali pergi bekerja, lagi pula merasa sudah seumur itu masih duduk-duduk tanpa uang sepeserpun.

Pertama-tama aku bekerja di pabrik karton sebagai juru ketik/administrator. Pabrik ini khusus membuat dus-dus karton dalam segala bentuk dan ukuran.

Sebagian besar karyawan adalah orang-orang bodoh sampai 60%, tetapi di situ aku masih bisa bergaul dengan sangat baik. Mungkin mereka melihat dalam diri saya sebagai sesamanya, tapi aku tak pernah mencari tahu lebih lanjut.

Kelompok goblok memiliki rasa tidak suka yang kuat kepada manajer-pemilik yang duduk di samping mejaku dengan bos perempuan yang juga kekasihnya, yang selalu mengupaskan apel untuknya pada saat istirahat makan siang.

Tugas pertama yang aku harus lakukan adalah mengetik surat-surat dengan mesin ketik tua dan berat sekali. Dari hari pertama aku berada di sana aku perhatikan bahwa pada pukul 12 siang dan pada sore hari terjadi ritual yang luar biasa di depan mejaku.

Untuk masuk ke pabrik, semua karyawan harus lapor dan berjalan melewati kantor kami. Sore hari juga, ketika mau pulang mereka harus lapor dan berjalan melewati kantor ke arah yang berlawanan. Semua orang yang melewati kantor manajer hampir serentak berteriak, "Bandot Tua."

Aku tidak mengerti apa yang kudengar. Sekitar 25 orang bodoh yang lewat, laki-laki, perempuan, tua dan muda, pada giliran masing-masing teriak 'Bandot Tua'. Pada awalnya saya pikir dia meneriaki aku, tetapi aku segera tahu bahwa tidak.

Pada pukul 12 saat istirahat siang, semua pergi keluar untuk berjalan-jalan sepanjang kanal. Mereka yang datang ke kantor manajer untuk menelpon banyak yang meneriakkan "bandot tua'. Mereka kadang-kadang teriak bersama-sama dari bilik telepon. Kemudian manajer datang ke mejaku untuk menyuruh aku cepat-cepat pergi ke luar untuk melihat ada siapa di dalam bilik telepon.

Aku keluar, tetapi tentu saja tidak pernah melihat di bilik telepon ada karyawan pabrik. Aku tidak ingin menjadi sasaran kelompok mental lemah ini.

Aku bekerja tidak lama di pabrik kardus Schwendeman, tetapi menjadi juru ketik dan kerja kantoran bagiku tidak main-main.

Mengapa aku cepat keluar dari Schwendemann, karena bos tidak mau membayar gaji pertamaku sebab aku kurang cepat menuruti apa maunya. Aku akan bicara dengan dia tentang hal itu dan siangnya aku datang ke kantornya dan dia bertanya apa yang aku cari.

Aku katakan padanya bahwa aku menuntut gajiku, kalau tidak aku segera berhenti kerja. Dia berteriak, keluar, keluar! Aku lantas tenang-tenang keluar dari kantornya dan pergi mengambil mesin tulis yang berat di kantorku yang terletak di samping kantornya dan langsung kembali ke kantornya serta melemparkan mesin tulis berat itu ke atas mejanya.

Aku tidak tahu bahwa lapisan meja kantornya sangat tipis, dan mesin berat itu langsung jatuh menembus meja. Aku bilang "maaf" dan segera mengambil jaketku serta pergi meninggalkan kantor.

Aku heran bahwa dia tidak langsung mengejar, tetapi ketika aku berdiri di luar, ia mendatangi aku. Dia bertanya apakah aku punya keris dan aku jawab bahwa untuk kepala seperti punyanya yang aku butuhkan adalah kampak.

Itulah kata-kata terakhirku kepada Schwendemann. Melalui serikat buruh sebulan kemudian aku menerima gajiku.

Itulah keadaan Amsterdam waktu itu. Aku terus tunduk menurut selama waktu di situ, tetapi aku punya berbagai rencana untuk membakar pabrik Schwendemans. Aku bukan siapa-siapa, dan dia juga, itulah motoku. Untungnya ada serikat buruh, kalau tidak akhir kisah ini bisa lain sama sekali.

Ayahku boleh mulai bekerja di Werkspoor (jawatan kereta api) dan harus segera mengikuti berbagai kursus agar bisa masuk ke bagian pengontrolan logam di mana banyak kekurangan personil yang trampil. Dia bekerja di sana sampai usia pensiun. Aku pikir dia senang bekerja di sana.

Aku ingin masuk jurusan teknik di mana aku akan dapat bekerja dengan baik. Aku baca di surat kabar bahwa Groenpol - perusahaan listrik yang terletak di seberang sungai IJ mencari tenaga untuk membuat supertanker yang pertama. Aku melamar ke sana dan langsung bisa mulai kerja.

Keesokan harinya aku harus melapor ke salah satu mandor Groenpol yang bertanya padaku apa yang pernah saya lakukan di bidang perlistrikan. Aku menjawab bahwa sama sekali tidak mempunyai pengalaman di bidang tersebut. Dia mengatakan bahwa aku harus melapor ke mandor dan harus bekerja menarik kabel.

Aku rasa menarik kabel akan bisa karena di rumah aku sering melakukannya, sedangkan untuk bekerja di bagian bawah kapal tanker akan dipimpin oleh mandor dan dibagi-bagi dalam kelompok.

Kabel-kabel yang harus ditarik secara manual ternyata mempunyai diameter sebesar lenganku. Tukang-tukang penariknya betul-betul orang pilihan: mantan pembunuh, mantan SS yang sebelumnya pernah berperang di Rusia, mantan pencuri yang baru saja keluar dari penjara.

Betul-betul pekerjaan yang berat untuk menarik kabel sepanjang kapal. Kalau aku pulang bersepeda, rasanya seperti tidak punya punggung lagi. Anehnya aku tidak merasa asing berada dalam pergaulan pilihan tersebut. Bicara terus terang, di situ terasa ada suasana persahabatan yang nantinya tidak pernah aku rasakan saat bekerja di bagian lain.

Bahkan suatu hari waktu sandwichku ketinggalan di rumah dan pada pukul 12 maka aku tak punya apa-apa untuk dimakan. Buruh lain bertanya mengapa aku tidak makan. Ketika aku katakan bahwa sandwichku tertinggal di rumah, mandor lantas berteriak, "Jan, sandwich untuk Fried, Klaas, sandwich untuk Fried." Walhasil hari itu aku punya makanan lebih banyak dibanding apa yang biasanya aku bawa dari rumah.

Rasa persahabatan seperti itu niscaya tidak akan disia-siakan sekiranya aku boleh tetap tinggal di kelompok pilihan itu.

Pada saat yang sama aku mengikuti sekolah malam. Mula-mula untuk menjadi tukang listrik, tetapi ternyata aku cepat lulusnya dan kemudian mengkuti kursus malam MTS (sekolah teknik menengah).

Urusan menarik kabel hanya berjalan sebentar karena aku benar-benar tidak punya potongan untuk menjadi penarik kabel berat. Waktu Groenpol tahu bahwa aku punya ijazah tukang listrik, aku boleh pindah ke departemen instrumentasi untuk merakit dan menguji instrumen-instrumen. Alat-alatnya buatan Sauter dan Elioth. Setelah alat-alat itu satu sama lain digabung, aku harus mengujinya. Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan aku kerjakan dengan senang hati.

Setelah periode ini aku boleh membuat lemari pengatur kontrol motor. Jadi aku melewati seluruh sistem. Kemudian aku beralih ke bagian pemasangan sistim tombol di kapal dan pemasangan motor listrik. Teknik elektro bagiku bukan rahasia lagi.

Masalah besar dalam pembuatan kapal adalah bahwa semua barang dicuri, baik yang masih lepas ataupun yang sudah tepasang. Di situ ada seorang tukang las berbadan bulat besar dan berambut pirang panjang dan kami sempat ngobrol-ngobrol. Dia bertanya padaku dari mana aku datang, dan aku jawab dari Indonesia. Ternyata dia pernah di Indonesia selama dua tahun sebagai prajurit Divisi 7 Desember, dan dia merasa senang di sana.

Dia bekerja di bagian yang sama di kapal seperti aku. Setiap hari dia suka membawakan apel buat aku, sungguh-sungguh kenangan indah. Dia bertanya apakah aku baik-baik saja selama bekerja di situ, dan kalau ada masalah aku disuruh memanggilnya. Kebetulan pada suatu hari aku harus memasang semua skakelar di dalam kabin-kabin, jadi aku mulai dari kabin nomor 1 dan pergi berkeliling sampai ke kabin terakhir.

Dibutuhkan waktu paling tidak setengah jam untuk memasang semua skakelar dan menyambungnya ke kabel. Menjelang pukul 4 waktu aku tengah memasang skakelar terakhir, mandor datang bertanya apa yang aku sudah kerjakan seharian.

Nah, aku kan sudah memasang semua skakelar dan menyambungnya. Kamu tidak melakukan apa-apa, katanya dan dia mulai ngomel keras, dan aku pun membalas omelannya. Lalu aku berteriak kepadanya supaya pergi memeriksa semua kabin, dan aku ikuti dia.

Alku terperanjat heran tatkala melihat bahwa tidak ada lagi skakelar yang terpasang di semua kabin. Apa yang mereka lakukan adalah melepas kembali apa sudah aku pasang saat aku sedang bekerja di kabin berikutnya.

Begitu pula pada suatu malam mereka mencuri semua perabotan milik kapten kapal. Lantas di dermaga diketemukan sekrup-sekrup kuningan yang bagus seberat 1,5 ton. Pada akhir minggu keadaan di situ juga lebih gawat.

Kembali ke masalah skakelar. Ketika teriakan-teriakan makin keras, tiba-tiba muncul teman baikku yang bertubuh besar dan aku menceritakan padanya apa yang terjadi. Dia langsung mendatangi mandor, dan menyeretnya ke pagar dan terus berteriak keras di telinganya bahwa ia tidak boleh menggangguku, atau kalau tidak dia akan melemparkan mandor itu lewat atas pagar ke dalam sungai IJ.

Aku mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa kejadiannya betul-betul begitu. Dia bilang tidak apa-apa, dan berkata bahwa jika ada kotoran harus langsung dibersihkan. Untunglah ada malaikat pelindung pada saat terjadi keributan seperti itu.

Waktu itu banyak pekerja yang tidak menginginkan adanya pekerja berkulit coklat di antara mereka. Kebanyakan dari mereka berafiliasi dengan serikat kerja sosialis, dan mereka anggap hanya mereka yang punya suara.

Musim dingin pertama di kapal terasa penuh derita. Sungai IJ membeku dan suhu udara anjok sampai -15 derajat Celcius. Di atas dek ada beberapa pemanas anglo untuk sekedar memanaskan badan, tetapi anehnya bagiku itu tidak banyak membantu. Aku sudah memakai celana dalam panjang, kaus kaki wol rangkap dan sweter tebal, serta mantel wol tebal dan topi wol. Aku juga memakai sepatu bot militer yang tinggi.

Satu-satunya kelemahan pada sepatu tadi adalah bahwa tumitnya terbuat dari baja dan jika kebetulan Anda berdiri diam di depan panil-kontrol karena sedang menyelusupkan kabel yang berada di bawah kaki melalui lubang ventilasi, maka Anda bisa terlas di dek tanpa terasa. Anda betul-betul terpatri dengan kuat pada dek.

Berkat kombinasi antara pengalaman praktis dengan sekolah malam, maka sekolahku dapat berjalan sangat mudah dan kelas terakhir di MTS dilewati dengan normal seperti halnya sekolah siang.

Sebagian dari penyakit kompleks rendah diriku hilang, penyakit yang selama ini terasa seperti ada balok di dalam dagingku, setidaknya itu pikiranku. Rasa kompleks dan trauma peperangan kini hilang. Belakangan, pada usia lanjut masih suka terasa. Aku lalui berbagai terapi dan usaha penyembuhan sampai sebagian besar berhasil terusir.

Cita-citaku selalu ingin bisa terbang lagi. Ada sesuatu yang berkembang sewaktu jaman perang, tatkala pesawat-pesawat pembom Jepang setiap pagi terbang rendah di atas rumah kami. Ke perusahaan penerbangan KLM aku melamar sebagai awak pesawat bagian teknis.

Sayangnya aku ditolak karena tidak memiliki pendidikan mekanik. Akupun pergi ke sekolah penerbangan untuk jadi awak pesawat. Lama pendidikan 2 tahun dan aku juga lakukan. Aku datang melapor lagi ke KLM dan diterima untuk mengikuti kursus awak pesawat terbang. Setelah 5 bulan kursus intensif aku lulus dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, tetapi panggilan kerja sebagai awak pesawat tidak kunjung datang ke rumah.

Waktu itu semua awak pesawat terlatih "diturunkan" ke darat karena ratusan pilot dan awak pesawat yang datang dari Indonesia dipanggil pulang untuk terbang dengan maskapai penerbangan Garuda. Alasan sebenarnya adalah sengketa memperebutkan New Guinea (Irian Barat) dan Indonesia memutuskan kontraknya dengan KLM.

Itulah awal dari karir saya di Belanda. Jalan hidup selanjutnya juga aku bukukan.

Buku-buku Lanjutan:

Tambahan Februari 2011

Atas permintaan orang-orang yang tidak mengenal kejadian-kejadian pada masa kacau, saya mencoba memberi penjelasan di bawah ini mengapa kelompok Indo (campuran) memutuskan untuk meninggalkan Indonesia pada waktu itu. Waktu itu ada 2 alasan mengapa pilihan untuk pergi dari Indonesia diambil.

A) Gugus kepulauan di Asia Tenggara yang terletak antara Malaysia dan Australia sekarang disebut Indonesia. Sebagaimana diketahui gugus ini terdiri dari +/- 17 000 pulau, diantaranya +/- 15 000 buah dihuni orang. Jauh sebelum era kita di situ sudah ada lalu-lintas perdagangan dan perpindahan penduduk antara China dan gugus kepulauan ini.

Diperkirakan bahwa pada awalnya orang-orang Cina mengirimkan barang-barang porselin ke gugus kepulauan ini dan dipertukarkan dengan barang lain yang dicari oleh Cina. Sebuah produk yang banyak dicari adalah minyak kelapa, disana sisanya masih ada di mana-mana meskipun sudah banyak yang diangkut dalam pot-pot tembikar besar seperti halnya pot-pot amphora di Eropa. Banyak ikan kering dan buah-buahan serta rempah-rempah juga mereka bawa. Pada waktu itu perdagangan yang ramai sudah berjalan antara negeri-negeri tersebut. Oleh karena itu waktu itu dirasakan perlu untuk mendirikan pos-pos perdagangan, dan di sekitarnya dibangun rumah-rumah untuk ditempati oleh para pegawainya. Para pegawai ini biasanya datang tanpa isteri dan mereka mencari pasangan hidup di antara penduduk setempat dan sebagai hasilnya lahirlah anak-anak campuran. Anak-anak ini merupakan campuran Indo-Cina pertama yang kebanyakan berbicara bahasa lokal yang umumnya bahasa Melayu, tetapi juga berbahasa awal mereka, yaitu Cina.

Orang-orang Cina totok tetap berbicara bahasa Cina satu sama lain. Pada waktu itu juga sudah ada pergesekan antara Cina totok dengan Indo-Cina campuran karena hubungan dengan penduduk setempat. Untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dipekerjakan wanita-wanita setempat, yang waktu itu tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan barang seperti pakaian, produk dasar seperti beras dan ikan kering. Selain itu mereka diberi juga tempat tinggal, dan di sinilah riwayat percampuran penduduk dimulai.

Banyak orang Cina pendatang mengalami insiden-insiden kecil akibat memiliki seorang atau lebih budak perempuan, dan sebagai akibatnya lahirlah keturunan, dan dalam lingkungannya mereka berbicara bahasa Melayu dan Cina. Pada waktu itu belum ada sekolah, dan anak-anak ikut membantu dalam kegiatan rumah tangga. Anak-anak perempuan sebagian besar bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada pendatang-pendatang baru Cina, kawin dengan mereka atau diperlakukan sebagai budak. Tidak peduli apakah di kota-kota pantai yang kecil atau besar.

Di mana ada kegiatan ekonomi besar seperti perikanan untuk ekspor atau aktivitas lain seperti pertenunan dan pembuatan pot-pot tanah liat untuk ekspor minyak, maka perempuan-perempuan berdatangan, dari dekat ataupun jauh dari seluruh kepulauan untuk bekerja. Di sana dibangun pondok-pondok untuk tempat tinggal mereka karena pada saat itu tidak ada hotel. Tempat-tempat makan muncul di mana-mana di antara perumahan tersebut, dan restoran-restoran dipenuhi oleh perempuan-perempuan penghibur. Bila ini terjadi di sebuah desa atau kota, maka gubuk-gubuk dan tempat-tempat makan kebanyakan diatur agar didirikan di luar desa atau kota supaya penduduk setempat tidak tahu-menahu mengenai para pendatang baru.

Kedua, semua perempuan yang hidup dan bekerja di daerah pemukiman baru ini diperlakukan sebagai sampah. Biasanya ada perempuan yang berbicara dalam bahasa yang lain serta mempunya kehidupan atau kebiasaan yang berbeda. Dari ini saja kedudukan mereka dianggap lebih rendah.

Seluruh kepulauan kaya akan animisme dan semua orang percaya pada hantu yang hidup di sudut-sudut rumah, dan setiap pohon besar di taman memiliki jiwa, sampai orang-orang Cina datang dan kepercayaan Budisme dikenal, jauh sebelum orang-orang Arab datang dan agama Islam diperkenalkan. Juga ketika orang-orang Arab berkunjung sebagai misi dagang, terdapat pos-pos dagang yang didirikan, maka dipelihara budak-budak antara lain untuk membersihkan rumah mereka dan untuk masak. Orang-orang Arab membawa agama Islam dan mencoba dengan segala dalih Islam untuk dapat mempunyai 4 orang isteri, dan dari 4 isteri tersebut diperoleh keturunan. Kini dalam agama Islam tidak ada masalah untuk mempunyai lebih dari seorang isteri. Orang-orang Yahudi dahulu juga melakukan. Seluruh Timur Tengah melakukannya. Dahulu merupakan suatu kebiasaan sosial untuk mempunyai beberapa isteri. Misalnya isteri saya mempunyai saudara perempuan yang sudah menikah dan mempunyai beberapa anak kecil. Suaminya tiba-tiba meninggal, maka dia tiba-tiba tidak mempunyai penghasilan lagi dan menanggung 2 orang anak yang masih kecil. Jadi apa yang mereka lakukan: Setelah saya konsultasi dengan isteri saya, maka adik isteri saya dengan dua anak bisa saya bawa pulang ke rumah dan semua menjadi bagian dari rumah tangga saya. Ini juga berarti bahwa Anda harus memuaskan kebutuhan seksual isteri kedua. Dan sesuai dengan itu ada orang mempunyai 4 isteri. Bagaimana menghidupi mereka? Dengan satu isteri saja aku sudah sibuk.

Tahun 1595. Kapal-kapal Portugis yang pertama datang di perairan Melayu dan mereka menetap di Maluku dan kepulauan Sunda bagian bawah - di Flores dan Timor. Banyak kata dari masa itu hingga kini dipergunakan dalam bahasa setempat. Mereka mendirikan rumah-rumah dagang dan membangun benteng di sekelilingnya. Mereka memelihara banyak budak, laki-laki dan perempuan. Perempuan-perempuan itu dengan cepat menurunkan anak-anak Metis pertama (Indo campuran). Anak-anak campuran ini juga tumbuh dalam keluarga-keluarga dengan dua bahasa, Portugis dan Melayu; berbahasa Portugis dengan ayahnya dan dengan ibu berbahasa Melayu.

Tergantung pada sang ayah, yang biasanya bekerja atas dasar kontrak, maka anak-anak tinggal bersama ayah-ibunya sampai akhir periode kontrak. Begitu s sang ayah pulang kembali ke negara asal pada akhir masa kontraknya, maka kebanyakan mereka meninggalkan isteri dan anak-anaknya. Di mata orang Melayu, perempuan-perempuan yang hidup bersama dengan orang asing dianggap sebagai pelacur. Sebagian termotivasi oleh kecemburuan, dan sebagian lagi oleh kemiskinan yang dialami oleh penduduk setempat. Mereka terpaksa pulang kembali ke tempat kelahirannya setelah ditinggalkan oleh pasangannya, dan di sana sudah menunggu kehidupan yang sangat berat. Anak-anaknya yang mempunyai darah campuran ditunggu oleh kehidupan yang jauh lebih berat. Disana anak-anak Indo campuran ini tidak diterima oleh masyarakat setempat hingga mereka terpaksa kembali ke kota. Anak laki-laki umumnya lebih mudah mendapat pekerjaan di pelabuhan atau di tempat-tempat dagang karena mereka berbicara dua bahasa. Bagi anak-anak perempuan, bisa-bisa mereka disewa sebagai budak, yang berarti dia akan masuk kembali ke salah satu tempat pelacuran yang ada.

Tahun 1600. Belanda muncul juga dengan kapal-kapal VOC. Mula-mula, terutama di Sri Lanka, benteng-benteng dibangun atau dirampas dari tangan Portugis dan memaksa penduduk setempat bekerja sebagai budak, tetapi mereka tidak mudah menguasai keadaan karena timbul perang sipil di mana sebagian besar penduduk dibantai. Banyak orang didatangkan dari India untuk dipekerjakan sebagai budak di perkebunan-perkebunan. Di semua tempat dimana kapal-kapal Belanda datang, benteng-benteng dibangun dan di sekitarnya tumbuh tempat-tempat hunian para karyawan VOC dan para budak. Pada mulanya semua adalah budak. Semua orang Belanda yang mempunyai rumah memiliki beberapa budak perempuani. Di sana dengan cepat juga lahir anak-anak Metis (Indo) dan biasanya berbicara bahasa Belanda dan Melayu. Ini adalah awal mula golongan Indo. Ibui orang Melayu dan ayah Eropa.

Penduduk setempat melihat hal ini dengan gelisah, dan lagi-lagi sang ibu Melayu dianggap sebagai pelacur dan anak-anaknya sebagai anak pelacur yang waktu itu kedudukannya bahkan lebih rendah dari budak. Di sini juga terjadi bahwa sang ibu dan anak-anaknya atau hanya anak-anak saja, oleh sang ayah dibawa pulang ke negaranya. Sering terjadi bahwa sang ayah di negara kelahirannya sudah mempunyai keluarga, dan anak-anak yang dia bawa tidak diadopsi oleh ibu tirinya tetapi ditaruh di panti asuhan. Mereka ibarat habis kehujanan masih tersiram air lagi dan keadaannya makin buruk, mungkin lebih baik ditinggalkan saja di di tempat mereka dilahirkan. Di tempat mereka dilahirkan nasibnya bisa lebih baik dibanding tinggal di rumah asuhan karena waktu itu keadaan rumah asuhan hampir seperti penjara.

Di jaman kolonial banyak rumah asuhan, dan yang dipimpin oleh Pa van der Steur di Magelang adalah yang paling terkenal. Anak-anak “Steurtjes” betul-betul seperti sebuah golongan (“clan”). Di dalam atau di luar panti asuhan mereka selalu bersatu. Kalau ada anak yang menghadapi masalah, dia tinggal berteriak dan “Sterutjes” dari panti asuhan akan saling memanggil dan dalam waktu singkat mereka siap untuk menyelesaikan masalahnya.

Banyak pemuda Hindia dari umur 11 tahun dimasukkan ke sekolah KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan selain pelajaran sekolah mereka mendapat pelatihan militer yang lengkap untuk nantinya menjadi pembantu perwira. Pada waktu itu di Hindia untuk menjadi Perwira tidak bisa karena hanya bisa dicapai melalui pendidikan akademi militer KMA di Breda. Anak-anak muda ini tidak punya pilihan selain yang ada. Tetapi di sisi lain, begitu Anda menjadi pembantu perwira maka berarti Anda mempunyai pekerjaan tetap dan pada waktu itu pendapatannya cukup baik dan dalam prakteknya akan menjadi tokoh kunci antara perwira-perwira Belanda dan tentara Melayu. Kelompok tentara ini terdiri dari berbagai grup, dan yang paling terkenal adalah grup orang Menado, Maluku dan Jawa yang dipilih untuk menjadi KNIL dan yang tidak berbahasa Belanda. Jadi Anda melihat tali ikatan kami dengan Hindia, tempat ibu atau nenek kami selalu orang Indonesia atau berdarah-campuran, yang dindonesiakan menjadi Belanda Peranakan. Dalam paspor kami yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda, kebangsaan Belanda diberikan jika Anda lahir di wilayah jajahan Belanda dari orang tua campuran. Semua keturunan hidup dari generasi ke generasi di Hindia Belanda. Berbicara bahasa setempat, yang waktu itu adalah bahasa Melayu, dan selain itu bahasa Belanda, dan sering-sering mempunyai kebiasaan-kebiasaan Indonesia.

Seperti yang ayahku lakukan, segera setelah dilahirkan Anda terus dilaporkan ke balai kota atau kelurahan sebagai anak lelaki atau anak perempuannya, dan juga diberi nama keluarganya. Banyak anak yang oleh ayahnya ditinggalkan setelah kontrak kerjanya berakhir, biasanya dengan ibunya pulang kembali ke desa tempat asal ibunya dan itu merupakan nasib paling buruk yang terjadi pada anak-anak. Anak-anak ini secara fisik dan mental akan diperlakukan semena-mena karena terus-menerus akan dihina dan disakiti. Sebelum perbudakan dilarang, anak-anak ini diperlakukan setingkat budak. Setelah perbudakan dilarang, keadaan mereka tidak lebih baik. Gadis-gadis, setelah umurnya dianggap cukup, dengan cepat dimasukkan ke dalam prostitusi karena dianggap sebagai satu-satunya tawaran kerja agar memperoleh penghasilan untuk menjamin kehidupan seluruh keluarganya. Keadaan ini dalam kelompok Indo disebarluaskan dan dibahas di mana-mana, tetapi waktu itu tanpa ada solusi.

Oleh karena itu kelompok ini mencoba dengan berbagai cara untuk memperbaiki posisinya di bawah sistim kolonial, dan satu sama lain tetap berbahasa Belanda seperti diceritakan lebih lanjut, dan semakin banyak diminta dalam kehidupan bisnis serta bidang perawatan kesehatan.

Di lain fihak, para intelektual Indonesia menginginkan kebebasan dan penentuan nasib sendiri yang lebih luas, yang oleh rezim kolonial telah ditekan secara keras sampai ke hukuman pengasingan ke luar daerah. Sebagai reaksinya muncul kampanye kebencian terhadap semua yang berbau Belanda dan ini tercermin dengan timbulnya berbagai insiden.

Orang-orang Indonesia mulai berorganisasi dalam puluhan dan bahkan dalam ratusan perkumpulan. Dari yang bersifat keagamaan sampai yang paramiliter. Terutama Paku Alam di Jawa Tengah yang di mana-mana mendirikan sekolah-sekolah bagi penduduk setempat dan menyiapkan guru-guru agar orang-orang Melayu menerima pelatihan yang lebih baik seperti apa yang sampai sekarang mereka telah nikmati dari pemerintah kolonial.

Hal itu juga berarti bahwa kelompok Hindia (yang berdarah campuran) juga termasuk dalam grup ini karena mereka juga berbicara bahasa Belanda, dan dianggap sebagai orang Belanda berkat asal-usul Eropa-Indonesianya dan warna kulit yang gelap. Satu-satunya perbedaan dengan orang Indonesia adalah bahwa di samping bahasa Indonesia mereka berbahasa Belanda dan karena itu dianggap oleh orang Indonesia sebagai sebagai musuh.

Mei 1940. Belanda diserbu dan diduduki oleh Jerman. Pemerintah Belanda mengungsi ke London. Daerah-daerah jajahan Belanda diperintah oleh para Gubernur setempat. Tentara KNIL Belanda di Hindia Belanda diperkuat. Semua orang yang telah melakukan dinas militer, dan di antara mereka banyak juga yang berdarah campuran, dipanggil untuk memperkuat Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Penguasa kolonial berpendapat bahwa dengan cara itu akan mereka dapat menahan serbuan Jepang, namun ternyata mereka keliru besar.

Desember 1941. Jepang memberikan pukulan hebat kepada Amerika di Pearl Harbor. Armada Jepang kini terarahkan pada wilayah jajahan Perancis, Inggris dan Belanda, dan dalam beberapa minggu mereka kewalahan. Tentara KNIL tidak nampak lagi di medan dan dengan cepat menyerah pada bulan Januari 1942.

Sebagian besar tawanan perang dikirim dengan kapal ke Jepang dan Thailand untuk bekerja paksa di jalur-jalur pasokan baru dan tambang-tambang Jepang. Perempuan-perempuan Belanda dan anak-anak dikumpulkan di kamp-kamp perempuan, di antaranya yang terkenal di Ambarawa. Orang Indonesia melihat Jepang sebagai pembebas yang datang membebaskan mereka dari bawah penindasan Belanda selama berabad-abad, dan sebagai gantinya menawarkan 100 000 tenaga Remusha sebagai sukarelawan kepada Jepang, tetapi kemudian banyak sekali yang meninggal.

Jepang juga melatih para Heiho sebagai pasukan bantuan Indonesia dan kemudian setelah perang selesai menjadi tulang punggung TNI (Tentara Nasional Indonesia). Secara politis mereka juga sudah dicuci otaknya, untuk mula-mula berperang melawan Sekutu dan kemudian melawan kolonialisme Belanda, serta menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia segera setelah perang berakhir. Di sini Sukarno dan Hatta berperan sebagai tokoh pemimpin.

Apa yang dianggap sebagai kolonialisme adalah: Segala sesuatu yang berbahasa Belanda. Semua yang berdarah campuran juga dimasukkan di dalamnya. Bagi orang-orang Indonesia, kami juga dianggap sebagai musuh meskipun banyak dari ibu-ibu kami adalah orang Indonesia, tetapi ayahnya orang Eropa.

Segera setelah kapitulasi Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945, selama 3 bulan terakhir tahun 1945 wilayah Hindia Belanda berada dalam kekosongan kekuasaan, dan para pemimpin Indonesia sama sekali tidak menyangka bahwa Jepang kalah begitu cepat dan mereka tidak mempunyai waktu untuk mengatur diri. Sukarno menyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan demikian semua kelompok dan partai di Indonesia dalam waktu tiga bulan dapat melakukan apa yang mereka inginkan. Terutama kelompok-kelompok ekstremis sampai dapat tergoda sehingga terjadi pembunuhan semua yang tidak 100 % Indonesia dan tidak bisa membela diri seperti halnya para wanita bersama anak-anaknya yang suaminya dipenjarakan di kamp-kamp Jepang.

Jepang sudah menyerah kepada Sekutu dan menarik diri ke dalam barak-barak mereka. Semua orang di desanya ataupun di kotanya yang tidak dikontrol lagi oleh militer Jepang melakukan apa yang mereka anggap baik untuk masa depan Indonesia dengan sebanyak mungkin membunuh orang-orang Belanda dan menyingkirkan mereka, dan itu juga terjadi di tempat-tempat di mana tidak ada perlindungan polisi. Selama pendudukan Jepang semua Belanda Putih dan banyak Belanda Peranakan (Indo-Belanda atau campuran) ditahan dan berada di bawah pengawasan Jepang, tetapi banyak juga yang tidak ditahan dan ada ataupun tinggal di rumah mereka tanpa perlindungan apa-apa dalam menghadapi para Pemuda. Mereka yang masih berada di kamp-kamp merasa lebih aman karena dilindungi oleh Jepang atau Inggris sehingga orang-orang dari luar kamp tidak berani mengganggunya.

Ke dua orang tuaku ditawan di kamp atau di kantor polisi Indonesia, dan kami anak-anaknya ditinggal di luar tanpa pengawasan siapapun. Kami tidak menyadari akan masuk ke lubang jarum mana kami merangkak. Jika Anda di Eropa tinggal di negera yang diduduki musuh, maka Anda akan tetap di antara orang senegara Anda. Di Indonesia kami berada di antara orang-orang Indonesia yang tidak menyukai dan membenci kami, sementara orang tua kami yang ditahan oleh Jepang merasa lebih aman dibanding mereka yang tinggal bebas di antara orang-orang Indonesia. Alangkah ruwetnya hidup ini. Di negeri ini tidak ada kemungkinan Anda dalam satu atau banyak hal akan dilindungi atau dibantu oleh masyarakat setempat, terlebih-lebih pada waktu itu saat mereka merasa sangat dekat dengan kemerdekaan mereka, jika tidak Anda akan dianggap sebagai kolaborator yang tanpa ampun nantinya akan ditekan. Sebagian besar pegawai Indonesia dianggap sebagai kolaborator dan hidup mereka menderita.

Tahun 1945-1949.

Saat terjadinya aksi-aksi polisionil tatkala ribuan orang Belanda dan puluhan ribu orang Indonesia meninggal. Orang-orang Indo berdarah-campuran selalu memihak Belanda karena dengan daya juang militer mereka mampu menjamin keamanan yang stabil dan kami telah menjadi bagian mereka. Bagi orang Indonesia kami adalah orang Belanda/Hollands meskipun asal kami dari pihak ibu adalah Indonesia.

Bagi orang-orang Belanda/Hollands, waktu itu kami adalah Belanda Kebangsaan dan, seperti waktu sebelumnya, wajib dalam dinas militer. Dengan demikian setelah perang dibentuklah brigade Anjing Nika dan dimasukkan di dalam KNIL. Sejauh yang saya ingat, mereka adalah kelompok tentara yang fanatik yang tidak menolak dan dengan ringan tangan melawan kaum pemberontak Indonesia yang dicurigai. Mereka pada waktu itu banyak digunakan untuk mengamankan jalan-jalan utama dari serangan teroris.

Akhir tahun 1946 pasukan-pasukan Belanda oleh tentara Inggris diperbolehkan datang di kota-kota besar, dan pasukan Inggris menarik diri secara bertahap. Adalah Divisi 7 Desember yang mengambil alih peran pasukan Inggris. Pada tahun 1947 terjadi aksi polisionil pertama dengan tujuan utama penguasaan teritorial, karena hanya kota-kota besar saja yang sejauh ini jatuh kembali ke tangan Belanda. Di wilayah yang dikuasai Indonesia, beberapa minggu setelah Sukarno memproklamasikan kemerdekaan, semua Belanda Putih dan Belanda Peranakan (berdarah campuran) telah diperintahkan untuk melaporkan diri keesokan harinya di kantor polisi terdekat dengan membawa satu setel pakaiannya. Esok harinya bersama kami datang ratusan orang yang melaporkan diri, dan mereka segera dimuat di dalam truk-truk untuk dibawa ke kamp, konon untuk melindungi dari kegiatan teroris.

Sampai sekarang bagi saya masih belum jelas siapa dari pihak Indonesia yang mengorganisir dan memiliki begitu besar kekuasaan dalam keadaan kacau, atau apakah kami disandera menghadapi kemungkinan serangan dari pasukan Belanda. Seluruh pulau Jawa secara tambal sulam menjadi daerah pendudukan Belanda dan wilayah tentara TNI Indonesia. Kami segera diangkut ke kamp Sewu Galur di pantai selatan Jawa. Saya dapat mengatakan bahwa tidak ada kekacauan yang dialami. Lihat lebih lanjut pada bagian (H 9 Bersiap 9). Kelanjutannya terjadi di kamp Sewu Galur.

Orang-orang yang selama pendudukan Jepang ditahan di kamp dan kemudian dibebaskan, untuk kedua kalinya dimasukkan kembali ke dalam kamp penjara. Para tahanan lainnya yang masih berada dalam kamp-kamp Jepang dijaga oleh militer Jepang atau Inggris dan relatif merasa aman.

B) Setelah penyerahan kedaulatan yang ditandatangani di Amsterdam pada tanggal 27 Desember 1949, Indonesia benar-benar merdeka. Ini berarti bahwa mulai sekarang semua fungsi direksi dan fungsi-fungsi penentu kebijakan lebih tinggi akan diambil oleh orang Indonesia. Ini berarti bahwa semua fungsi yang semula dipegang oleh orang-orang Hindia-Belanda juga akan ditempati oleh orang-orang Indonesia penggantinya.

Adalah di waktu dan peristiwa itu tatkala grup Indo (campuran) mengambil keputusan untuk dengan berat hati meninggalkan negeri ini bila Indonesia merdeka untuk menghindari kembalinya rasisme.

Banyak di antaranya yang, karena pertimbangan keluarga, mengajukan permohonan untuk memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Mulai tahun 1950, setelah kemerdekaan Indonesia, secara berbondong-bondong dan dalam jumlah yang besar mereka mulai berangkat ke Negeri Belanda, di mana mereka disambut secara sangat dingin dan sebagian besar selama periode awal di Belanda tinggal di rumah-rumah pensiun kontrakan atau di kamp-kamp militer tua. Mereka tidak tahu nasib apakah yang menantikan mereka di sana. Pemerintah Belanda di bawah partai PVDA waktu itu berharap pada awalnya agar kami tidak datang ke Belanda, dan mempropagandakan supaya kami emigrasi ke Papua (New Guinea) dan di sana meneruskan jalannya rezim kolonial serta membantu pembangunannya. Beberapa ribu orang Belanda-Hindia mau ke sana, tetapi mereka baru pergi karena terpaksa setelah pemerintah Indonesia pada tahun 1964 menyuruh mereka meninggalkannya. Banyak yang diberangkatkan ke Negeri Belanda dan lainnya ke Australia. Mereka adalah bagian terakhir dari grup Indo (campuran) yang mengalami akibat proses dekolonisasi. Sekarang setelah tiga generasi di Negeri Belanda, kelompok imigran ini secara diam-diam telah menyesuaikan diri dan memecahkan masalah-masalahnya dalam kehidupan Belanda dan membuat gaya hidup Belanda sendiri.

Dengan kedatangan mereka, masakan Belanda menjadi lebih bervariasi dan warna kulit Negeri Belanda menjadi lebih gelap. Banyak orang Indo generasi ketiga sekarang mencari kembali asal-usul mereka “back to the roots” dan dengan cara masing-masing ingin memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia, mula-mula dengan pergi ke sana untuk berlibur dan banyak pula yang mencoba tinggal di sana terutama untuk menikmati iklim dan gaya hidup. Indonesia sekarang bagi kami sangat aman untuk tinggal di sana dengan penduduknya yang sangat terbuka menerima kedatangan tamu serta pilihan masakan yang banyak.

  1. Fried Muller lahir di Purwakarta tanggal 9 September 1933. Anak laki-laki dari Lodewijk Muller dan Paula van Dietz.
  2. Pindah ke Cibatu (Tjibatoe) tahun 1936. Mulai sekolah di Taman Kanak-kanak Cina di Garut.
  3. Pindah ke Jakarta (Batavia) tahun 1939.  Tinggal di perkampungan Cina, Jalan Pasar, Jatinegara (Meester Cornelis).
  4. Pindah ke Yogyakarta tahun 1940. Ke sekolah membawa Alkitab. Tinggal di Bumijo di perumahan milik Jawatan Kereta Api. Rumah mesti ditinggalkan pada tahun 1942 karena ayahku ditangkap oleh Kempetai - polisi rahasia Jepang.
  5. Tahun 1943 ibu ditangkap oleh polisi Indonesia. Anak-anak ditinggal sendirian tanpa orang tua. Laurens berumur 2,5 tahun. Merokok supaya bisa diam. Masih merokok.
  6. Agustus 1945. Ke dua orang tua kembali. Awal periode Siaga. Oktober 1945 ke kamp Sewu Galur. Ayah ke kamp Pundung.
  7. November 1946. Dievakuasi dari Sewu Galur ke Jakarta (Batavia) melalui Yogya.
  8. Juni 1947. Ke Negeri Belanda naik kapal Sibayak.
  9. Juni 1949? Kembali ke Indonesia. Mendaftar ke sekolah CAS di Lapangan Wareloo (Waterlooplein).
  10. April 1951. Kembali ke Negeri Belanda. Naik kapal Castel Bianco.
  11. 1953. Mulai kerja di Groenpol, di supertanker pertama Belanda.
  12. 1956. Diploma Teknik Elektro dari MTS Amsterdam. Departemen Instrumentasi Groenpol.
  13. Masuk Sekolah Penerbangan Sipil (Luchtvaartschool). Berhenti tahun 1958. Menikah dengan Truus v/d Waal.
  14. Mulai pelatihan BWK di KLM-Schiphol. Perumahan KLM di Badhoevedorp.
  15. 1959: Setelah memperoleh diploma BWK, akibat insiden diplomatik dengan Indonesia, karir di penerbangan terhenti.
  16. 1959: KLM ditinggalkan dan bekerja di pabrik coklat Van Houten di Weesp sebagai kepala dinas teknik. Pindah ke Weesp.
  17. 1964: Van Houten ditinggalkan untuk kerja di DSM-Stamicarbon. Pendidikan Teknologi Kimia. Spesialisasi pabrik-pabrik pupuk Urea. Aldo lahir.
  18. 1965: Penugasan pertama ke Rumania sebagai tenaga ahli konstruksi dan start-up pabrik pupuk Urea. Kemudian dikirim ke Yugoslavia, Thailand, Jerman dan ke Rumania lagi.
  19. 1967: Perceraian resmi dengan Truus v/d Waal.
  20. 1970: Pindah ke Coppee-Rust Brussel. Penugasan pertama ke Israel sebagai Site Manager di Haifa di pabrik Chemicali Fosfatim sampai pertengahan 1972.
  21. 1973-1974: Platform pengeboran untuk bidang Ekofisk, Fillips Petroleum, Dumbarton, Skotlandia.
  22. 1974-1976: Venezuela, Maracaibo. Situs di el-Tablazo. Pabrik Polyethylene pertama.
  23. Menikah dengan Dorith Baratz. Tahun 1974 Allan dan Natalie lahir..
  24. 1977-1979 Portugal. Sines, pabrik Polyethylene. Pindah ke Tremolo, desa Damiaan.
  25. 1980-1987 Bontang, Kalimantan. Site Manajer dalam konsorsium antara Lummus-Houston dan Lurgi-Frankfurt.
  26. 1988 Pengunduran diri dari Coppee-Rust dan dengan perusahaan sendiri Mulcon bvba. mulai bekerja sebagai konsultan. Tidak ada lagi pengiriman ke luar negeri.
  27. 1989-2009 Bertindak sebagai konsultan pada banyak perusahaan di Belgia.
  28. 2010 Mulcon bvba. ditutup. Mulai menulis buku.