Het Zuiderkruis Brosot
Hersi Setiawan       Terug naar: Lied/voordracht-overzicht

Navigatie:
Einde verslag
Pagina 1
Pagina 2
Pagina 3


hersri setiawan:

                       Surat Awal Tahun
                    untuk R. William Liddle
                      Tentang Desa Brosot
                            (habis)


        DAERAH  persawahan Brosot memang tidak luas.  Tanahnya
terlalu  tinggi  untuk bisa dialiri air sodetan  muara  Progo.
Saluran  induk yang mengalir di depan asistenan  itu,  setelah
ditambah  aliran saluran induk Desa Lendah dari  utara,  terus
mengalir  ke  barat. Menyusur Jalan Wates,  dan  mulai  tumpah
dibagi-bagi  di areal sawah di utara rumah sakit. Rumah  sakit
Brosot  terbesar  kedua sesudah rumah sakit  pusat  di  Wates,
milik  sending,  dipimpin  seorang  mantri  juru  rawat,   dan
mendapat  kunjungan dokter dari Wates satu kali setiap  bulan.
Di  jaman  Jepang rumah sakit ini ditutup, seluruh kompleksnya
diambil  alih  pemerintah, dan dipakai sebagai Kesatrian  satu
Daidan Peta (Pembela Tanah Air).
      Di  sekitar 0 Km Brosot sendiri tidak cukup  luas  tanah
landai  yang  bisa digarap. Paling jauh berjarak 5-6  Km  dari
laut,  yang  kata orang "beralun banteng". Berombak  kuat  dan
ganas. Lahan sawah terhampar sekitar 2-3 Km di arah barat,  di
sekitar  pabrik gula sana. Tidak terlalu luas,  kurang  subur,
dan  sering sekali dilanda hama mentek atau buta ijo.  Ketidak
suburan  sawah ini barangkali juga sebagai akibat  lahan  yang
disewakan  pada  industri  (tebu, tembakau,  konon  dulu  juga
indigo)  dengan  sistem "glébagan". Misalnya, pada  tahun  ini
separoh  (atau sepertiga) ditanam tanaman industri,  dan  pada
tahun   berikut  separoh  (atau  sepertiga)  lainnya.   Begitu
berganti-ganti lahan, dan sekaligus berselang-seling tanaman.
      Saking kurusnya tanah, bahkan ikan belut nya yang  biasa
ditangkap  orang  sehabis  panen -  aku  pernah  mencoba  ikut
menangkap - hanya sebesar jari kelingking.
      Selain akibat sistem sewa "glébagan", mungkin udara laut
juga  berdampak  tak menguntungkan bagi kesuburan  tanah.  Aku
ingat, misalnya, lahan persawahan Unit IV Savanajaya dan  Unit
XIV  Bantalareja di Buru yang selain merana juga  tak  kunjung
reda  dari  serangan  hama  mentek dan  ulat  tentara.  Ketika
tetangga Unit XV Indrapura, yang bekas hutan bambu, pada panen
padi  pertama  sudah  "overproduktie",  Unit  XIV  Bantalareja
sampai  tiga  tahun (1971-74), artinya enam kali musim  tanam,
terus  menerus menderita kelaparan. Mentek, hama  putih,  babi
hutan, ulat tentara menyerbu bersama!
     Ya, saudara Tentara, jangan marah. Dunia pertanian memang
memberi nama ulat hama padi itu Ulat Tentara. Seluruh tubuhnya
hijau,  kepalanya  kemerahan seperti baret  kopassus,  matanya
hitam seperti lubang karaben. Delapan puluh hektar sawah tapol
G30S-PKI  Unit  XIV  Bantalareja  (predikat  tapol  itu  perlu
disebut, karena sekarang tetap dengan nama unit yang sama tapi
berpenghuni transmigran), dalam satu malam pernah habis  ludes
sama sekali.
      Malam  itu dari barak barak yang berjarak ratusan  meter
dari  areal  persawahan, terdengar seperti derap derap  sepatu
barisan  tentara  siluman. Walaupun begitu  ketika  itu  kami,
tapol  G30S-PKI, tidak ada yang menghujat tentara.  Yang  kami
kambinghitamkan, di jaman perang dingin itu siapa  lagi  kalau
bukan  Amerika Serikat. Musuh nomor satu dunia!  Segala  macam
bibit  hama padi, konon memang sengaja dicampur di dalam pupuk
urea dan TSP yang harus diimpor dari sana!

      Sekitar asistenan Brosot tidak ada areal sawah. Dua-tiga
kilometer  di belakang, kawasan perdesaan yang makin meninggi.
Kuthan, namanya, yang sudah termasuk wilayah Kulonprogo (tanah
kesultanan). Di seberang jalan raya depan asistenan  itu  dulu
terletak stasion NIS. Di sebelah timur stasion, sebuah  gudang
beratap  dan dinding seng, di tepi saluran irigasi,  dibongkar
di  jaman Jepang. Di depan gudang ada tanah lapang, yang  buat
mataku ketika itu, lebar sekali dan berumput jago-jagoan. Anak
anak  suka bermain adu "jago" dengan kembang rumput  ini.  Dua
batang  lidi ditancapkan di tanah, kedua ujungnya dililit  dua
helai  serat  gedebog  sama datar. Di  atas  dua  helai  serat
gedebog  itu, dari ujung ke ujung, ditaruh bunga rumput  jago-
jagoan saling berhadapan. Salah seorang memukuli perlahan  dan
berirama,  tiang  lidi yang sebelah dengan lidi  pemukul.  Dua
"jago"  akan  berjalan saling mendekat dan  "bertarung".  Jago
siapa yang jatuh lebih dulu ke tanah, dia itu lah yang kalah.
      Di  tanah  lapang  Brosot ini aku, untuk  pertama  kali,
melihat  gambar sorot atau gambar idup. Istilah  "film"  belum
dikenal ketika itu. Gambar sorot dari jamannya Si Kuncung  dan
Miss  Surip si Mata Roda, disusul film film perang Asia  Timur
Raya, dan diseling dengan kehadiran kembali wayang beber.
     Wayang beber jaman ini, tentu saja tidak membawakan lakon
Kebo  Ijo  atau Naladerma, misalnya. Lakon lakon  baku  wayang
beber jaman Jepang antara lain: Amat Heiho, Momotaro, Bekerja,
dan  semacamnya.  Dalangnya Pak Besut alias  P.  Wardoyo  dari
Sendenbu  (Barisan  Propaganda) Pemerintah  Bala  Tentera  Dai
Nippon Yogyakarta Koti.
      Di  jaman itu kami selain pandai menyanyikan lagu  wajib
seperti  "Heitai-san, arigato!" dan "Umi Yukaba",  juga  hafal
kata kata lagu "Asia Sudah Bangun" dan "Bekerja":
               Bekerja bekerja bekerja
               tenaga semua sudah bersatu
               mesin pabrik berputar terus
               palu godam suara gemuruh
               semua bekerja giat gembira
               tenaga pekerja teguh bersatu
               gugur hancur kaum sekutu!
     Lalu anak anak kecil, sambil membuat versi baru lagu itu,
sekaligus  juga  mempermain-mainkan bunyi  syairnya.  Sindiran
atas  sketsa  kehidupan  semasa, yang  dilontar  dalam  bentuk
nyanyian sekenanya:
               Mizuho mizuho mizuho kooa
               fajar semangat srutu momotaro
               nandur jarak amat dadi heiho
               nganggo kathok bagor
               sarungé kombor
               bubur katul opahé nutu!(1)

      Hamparan  tanah datar di selatan "alun-alun" Brosot  ini
dan  dukuh  di  sebelah  timurnya, entah bagaimana  ceritanya,
dinamai  "Pulo". Barangkali dulu sebuah delta di muara  Progo?
Bila  cuaca sedang bening, dan kita berdiri di tanggul irigasi
primer itu memandang ke arah selatan, tampak lah limburan laut
yang  dipermainkan tangan tangan gaib Nyai Lara  Kidul.  Putih
berkilatan  ditimpa sinar matahari. Tanah di  lahan  Pulo  ini
memang  masir, sehingga merupakan ladang lumayan  subur  untuk
palawija  - terutama kacang tanah dan ubi jalar. Kacang  tanah
Pulo dikenal besar besar, ubi jalarnya kalau direbus manis dan
"ngendhog" - di tengah memutih dan mempur.
      Sebenarnya  kecamatan Brosot memang wilayah yang  miskin
lahan  pertanian  basah  dan  kering.  Tetapi  kekurangan  ini
menjadi  tertutup,  karena  kedudukannya  sebagai  kota  kedua
Kadipaten  Paku  Alaman sesudah ibukota Wates. Brosot  dilalui
jalan  raya  Yogyakarta - Bandung dan Jakarta, melalui  Wates,
Gombong (di sini, seperti di Bandung, ada satu batalyon  depot
KNIL),  dan  Purwokerto (ibukota keresidenan penting  di  Jawa
Tengah,  terutama karena adanya pelabuhan Cilacap  yang  satu-
satunya di pantai selatan Jawa).
      Sementara itu seluruh daerah "di belakang" Brosot sampai
Sentolo,  ibukota  Afd. Kulonprogo, tidak ada  kota  asistenan
yang  berarti.  Brosot  jadinya seperti terletak  di  pangkuan
"daerah  belakang",  yang merupakan lahan  pertanian  berbagai
kultur.
     Karena itu pasar Brosot hidup setiap hari(2). Beda dengan
pasar  Desa  Kranggan,  dekat rumah sakit,  yang  hanya  hidup
setiap  Kliwon, sehingga dinamai Pasar Kliwon; pasar Sewugalur
atau  orang desa menyebutnya Pasar mBabrik, yang dinamai Pasar
Paing;  pasar Keboan, biasa juga di-kromo-kan sebagai  Maésan,
yang  Pasar  Legi. Sedangkan hari pasaran Pasar  Brosot  ialah
tiap  Pon.  Di  antara para pembeli dan penjual  yang  datang,
antara  lain  dari arah barat sejauh Keboan  (5  Km:  terutama
kelapa  dan  minyak  kelapa,  di desa  ini  ada  "ngGoprakan",
perusahaan  kopra); dari utara: Lendah (2 Km) sampai  Kenthèng
Nganggrung  (9  Km: berbagai hasil pertanian, kayu  bakar  dan
arang);  dari  timur: Mangiran (5 Km: penjahit  dan  tahu;  di
desanya  Ki Ageng Mangir ini banyak pabrik tahu usaha  rakyat)
bahkan  Jodoglegi  (9 Km: tembakau Siluk Imagiri  dan  barang-
barang klontong).
      Pada  tahun 1948-49, ketika Belanda menduduki kota Yogya
dan Bantul (lk. 12 Km arah timur laut), Brosot berubah menjadi
kota  terdepan  Republik yang aman dan  sangat  ramai.  Selain
menjadi   "sarang"   berbagai  kesatuan  lasykar   bersenjata,
jembatan  Kali  Progo yang hampir seribu meter itu  pun  sudah
dibumi  hanguskan(2).  Karenanya  pengungsi  seperti  "tumplek
blek"  berdatangan di Brosot dengan rasa aman.  Dengan  begitu
daya hidup Pasar Pon itu pun menjadi menggelombang makin besar
dan makin jauh lagi.
      Di dalam jaman "doorstoot" itu kami bertujuh sekeluarga,
yaitu  saya  dan  enam sesaudara serta Ibu, juga  menyandarkan
hidup  kami  pada rejeki pasar yang terbuka bagi  siapa  saja.
Kami  bertiga,  aku dan dua kakak beradik, yang baru  memasuki
umur belasan, berjualan rokok. Begitulah sebutannya yang lazim
saat itu. Walaupun dagangan kami sesungguhnya bukan rokok yang
utama,  tetapi  tembakau  dan  segala  macam  bumbunya   untuk
penyedap  rokok tingwe(3): klembak, uwur cengkih, kemukus  dan
kemenyan  -  khususnya  untuk melayani orang-orang  yang  suka
mengisap rokok siong atau rokok klembak menyan. Kemudian tentu
saja juga kertas manis dan klobot untuk penggulung rokok, batu
api,  batu thithikan, kawul, dan kepingan baja untuk pemantik;
sabun dan teh. Pada siang hari kami berjualan dari pasar  desa
yang  satu  ke pasar desa yang lain, dan pada malam hari  dari
tempat  pertunjukan  rakyat yang satu  ke  tempat  yang  lain,
dengan  menempuh  jarak  antara 5-10 Km.  Misalnya  ke  tempat
pertunjukan  wayang  atau ketoprak di satu  desa  yang  sedang
berpesta  "bersih  desa", atau ke satu  keluarga  berada  yang
sedang  punya perhelatan perkawinan, sunatan, atau hajat  yang
lain.

      Berkat kedudukan geografisnya yang menguntungkan, Brosot
mempunyai  berbagai  kelebihan sarana dan kemudahan  ketimbang
desa-desa lain di sekitar. Karena itu tiap pasaran Pon, ketika
Pasar  Brosot  berpasaran,  jalan  lingkar  desa  (biar  gagah
katakan  "rural  ring road") Brosot-Lendah di  depan  rumahku,
sejak  menjelang  subuh sudah menjadi ramai oleh  orang  orang
yang seperti mengalir turun dari gunung. Obor-obor mancung dan
blarak  mereka masih belum dipadamkan. Selain untuk  menerangi
jalan,  juga menghangati diri dari hembusan dingin pagi  hari.
Yang  perempuan menggendong, dan yang laki-laki  memikul  atau
menyunggi:  daun pisang atau daun jati, kelapa,  beras,  sabut
kelapa  yang  sudah  kering, arang, kayu  bakar,  rumput  atau
rèndèng  (daun  kacang  tanah), pisang,  mangga  (jika  sedang
musim),  dsb.  Sepagi  itu biasanya Ibu  sudah  berbelanja  di
pinggir  jalan, tidak perlu susah payah dan berjalan  jauh  ke
pasar. Belanja seperti ini "adhang-adhang", namanya.
     Jadi Saudara,
      Adikarta dan Kulonprogo, dalam hidup keekonomian, mereka
itu ibarat kuku dan jari. Dengan begitu juga Brosot dan daerah
barat Kali Progo seanteronya, boleh dibilang banyak bergantung
pada  daerah "belakang garis": Lendah ke atas sampai  Sentolo.
Wibawa pulung kraton tetap pada "praja kasultanan", dan  bukan
"kadipaten  pakualaman". Salah satu repertoar lagu  panembrama
(paduan  suara  tembang Jawa) murid murid  SD  Brosot  sebelum
perang,  ialah  tembang Kinanrthi yang  khusus  digubah  untuk
wisuda  Sultan  Hamengku  Buwana IX. Kawula  Adikarta  umumnya
bahkan  "tidak  peduli" kapan hari wisuda Gusti  Adipati  Paku
Alam.
      Dari  segi ruhani Brosot juga mempunyai kekurangan  yang
besar.  Memang  aneh!  Sebuah  desa  tua,  tapi  tidak   punya
"pepundhèn" atau tokoh cikal bakal desa. Sementara itu  Lendah
mempunyai Kyai Landhoh. Konon seorang pangeran dari Brawijaya,
yang  melarikan  diri  jauh ke barat, dan  membuka  desa  yang
kemudian  dinamai  orang  "Lendah". Nisan  makamnya  di  dalam
cungkup  berpintu sempit dan tinggi setengah meter, dari  batu
hitam  panjang  dua meter yang selalu diselimuti  kain  putih.
Tutur  babad  mengatakan, ia mempunyai pusaka  "bathok  bolu".
Sedikit  di  kanan depan cungkup Kyai Landhoh, terbujur  nisan
seorang putri "pepundhèn Dalem Kangjeng Sultan". junjungan Sri
Paduka Sultan.
      Masih  ada  satu lagi kekurangan bobot ruhaniah  Brosot.
Lampor  Nyai  Lara Kidul yang tiap rembang senja meronda-ronda
di  sepanjang aliran Progo itu adalah milik "Ingkang  Sinuwun"
dan bukan "Gusti Adipati".
      Tapi  Brosot, sebagai kota kedua di tanah  apanase  raja
kecil Paku Alam, memang menjadi sedikit bernafas burjuis. Desa
Brosot  tampil  dengan wajah "desa kota"  ketimbang  desa-desa
seantero  dan setaranya yang sama sekali berwajah  "desa  tani
yutun". Dari "bibilotik" Brosot (ayahku pengelola perpustakaan
Sekolah  Rakyat  yang mempunyai lebih dari  2500  judul  buku;
dalam bahasa-bahasa Jawa dan Melayu, dan satu-dua Belanda) aku
berkenalan dengan "Resiyaning Ngaurip" (Rahasia Hidup) Tolstoy
dan  "Pacar  Merah"  yang saduran Melayu  dari  roman  sejarah
berlatar revolusi Perancis. Di Brosot aku pertama kali melihat
tonil  dan  pantomim, tari lilin dan sapu tangan  Minangkabau;
wayang  beber  dan  (apa yang orang desa  menamai)  "standen",
sejenis  akrobatik. Brosot tidak mempunyai rombongan  trubadur
desa  reyog  dan jatilan amatir, yang dimainkan pemuda  pemuda
tani  seusai panen. Bahkan wayang orang dan ketoprak pun, jika
terkadang  ada,  sudah  tampil dalam kemasan  "tobongan"  yang
untuk  masuk dan menontonnya dipungut bayaran. Di Brosot  juga
aku  pertama  kali  (6 tahun) mengenal tontonan  yang  dinamai
"gambar sorot". Tapi di Lendah aku (5-6 tahun) melihat pertama
kali  pergelaran ketoprak dengan lakon Bandung  Bandawasa,  di
pendapa  asistenan,  untuk merayakan  perkawinan  Ndoro  Setèn
(sekarang  pakar  sosiologi) Selosumardjan - saya  lupa:  tiga
atau lima siang, Pak Mardjan?
      Wajah Brosot yang sedikit burjuis itu menimbulkan adanya
kecemburuan sosial diam diam, antara kaum "priyayi kasultanan"
di  satu  pihak dengan kaum "priyayi gupermen" di lain  pihak.
Kaum  petaninya pun, oleh sistem sewa "glébagan"  tersebut  di
atas  menjadi  dikuasai oleh hubungan produksi  yang  setengah
(atau  sepertiga)  feodal sekaligus setengah  (atau  sepertiga
burjuis). Ini berarti, bahwa proletariat desa yang selain tani
tak bertanah juga tani miskin, memijakkan dua kakinya pada dua
tumpuan: tanah raja dan lahan tuan pabrik.
      Fenomena  masyarakat  desa  Brosot  yang  demikian  itu,
barangkali  juga menggejala di desa-desa di Jawa pada  umumnya
dan   sana  sini  di  Sumatra  di  mana  ada  perkebunan   dan
pertambangan.  Namun  bisa dipastikan, bahwa  fenomena  sosial
seperti  di desa Brosot ini tidak pernah dijumpai Mao  Zedong,
di  sepanjang sejarah perjuangannya memimpin revolusi  agraria
sosialis  di Tiongkok. Di seluruh daratan Tiongkok  yang  maha
luas   itu,  karena  feodalismenya  yang  telah  berakar   dan
berkembang,  tidak  tersedia ruangan untuk  pabrik-pabrik  dan
perkebunan   perkebunan  industri  kapitalis.  Sementara   itu
proletariat  yang berwatak rangkap, (sarekat)  abang  (sarekat
(hijo),  seperti  proletariat desa di  desa  Brosot,  pastilah
tidak pernah dikenal oleh Lenin dan Stalin di negerinya.
      Bahkan di Indonesia sendiri pun, apakah fenomena  sosial
politik  yang  seperti itu pernah disadari oleh  parpol-parpol
yang  menjanjikan pembebasan rakyat kecil dari kemiskinan  dan
keterbelakangan? Termasuk PKI pada masa jayanya sekalipun?

      Pada  awal  "Peristiwa Madiun" kakakku, perwira  Pepolit
Biro  Perjuangan  Daerah XXV (kemudian TNI  Bag.  Masyarakat),
ditangkap polisi Wates di Desa Lendah, atas petunjuk  tetangga
"baik"  yang  Kepala  Dukuh  dan  anggota  Masyumi.  Di  jaman
"doorstoot",  bekas toko klontong terbesar di  Brosot  diambil
alih  menjadi  markas lasykar. Tapi justru  Lasykar  Hisbullah
yang berhasil mendudukinya. Sementara itu markas BODM (Bintara
Onder   Distrik  Militer)  entah  menumpang  di  mana,  markas
Mobilisasi Pelajar di desa Kranggan dekat Sewugalur, di  rumah
seorang  Katekis  (Penginjil  Kristen),  dan  anggota  Lasykar
Rakyat  tersebar menumpang di rumah rumah keluarga. Pada  masa
itu  jugalah Kapten Anu, Komandan Lasykar Rakyat,  pada  suatu
subuh,  mati dirajam peluru di samping pagar bambu  pekarangan
rumah  pondokannya. Konon, desas desus mengatakan,  karena  ia
memungut pajak liar penyeberangan Kali Progo, demi kepentingan
lasykarnya  sendiri;  dan tambahan lagi,  karena  ia  beristri
perempuan bekas pelacur Balokan Yogya ...
      Pada  waktu  pemilihan umum 1955/56, hasil  penghitungan
suara  baik  di Brosot maupun di Lendah, sama seperti  wilayah
DIY  umumnya.  PKI termasuk empat besar, dengan PNI  di  papan
paling atas. Tentu saja ini bukan berkat dukungan kaum priyayi
abangan  yang,  bagaimanapun juga, kecil saja  jumlahnya  jika
dibandingkan  dengan  jumlah penduduk. Dukungan  terbesar  PNI
pastilah  dari  massa "proletar abang-ijo" yang islam-abangan,
yang  berhasil direbutnya dari kontestan bertanda gambar lain,
terutama Palu-Arit dan sedikit banyak juga Cangkul-Kalam  Bulu
Ayam PRN Jody Gondokusumo.
       Sebagai  ilustrasi  sehubungan  itu,  ada  contoh  dari
percakapanku  dengan seorang tani miskin di  Karangmaja,  desa
tandus di Gunung Kidul tahun 1957, antara lain (dengan kursif-
kursif sebagai penegas):
     "Waktu pemilihan umum nyoblos apa, Pak?"
     "Ya Palu-Arit, to Pak. Apalagi? Wong orang kecil ..."
     "Agamanya apa, Pak?"
     "Lha ya Islam wong orang Jawa ...!"
     "Lho! Palu-Arit kok Islam?"
      "Ya  bisa saja to, Pak. Palu-Arit itu kan politik. Islam
itu agama. Politik dan agama itu lain-lain ..."

      Partai  Rakyat  Nasional (PRN) Jody memang  pecahan  PNI
(1950).  Tapi  popularitasnya  di  desa,  selain  oleh   tanda
gambarnya  yang pacul dan (bulu) ayam, benda-benda yang  akrab
bagi  kehidupan tani di Jawa; juga tidak mustahil justru  oleh
identitas  "trah  dalem" (keturunan raja),  seperti  tercermin
dalam  kata belakang "kusumo" pada namanya. Jangan lupa, jaman
itu  masih  belum jamannya "pujakesuma", putra jawa  kelahiran
sumatra,  dan juga belum jamannya "kasno" (maaf:  bekas  cino)
ramai-ramai   ganti  nama,  dengan  mencari  acuan   nama-nama
bangsawan Jawa! Embel-embel "kusumo" pada nama diri  di  jaman
itu,  masih menjadi monopoli para bangsawan Mataram saja, atau
bangsawan  Banten-Pajajaran ("kusumah") yang tak merasa  kalah
pamor dari Mataram.
      Karisma  "pulung"  Pakualaman memang sudah  padam.  Tapi
Hamangku  Buwana tampaknya justru sedikit mencuat,  jika  kita
memperhatikan  berbagai  kejadian sejak  sekitar  dan  sesudah
$uharto  lengser. Maka pada pemilu mendatang massa pemilih  di
Brosot  dan  sekitarnya, seperti juga di kawasan DIY  umumnya,
agaknya   masih   tetap  cenderung  "ndherek   Ngarsa   Dalem"
(mengikuti Sri Paduka Sultan).
      Persaingan  keras  agaknya justru  akan  terjadi  antara
kelompok Islam dan Golkar, yang selama 32 tahun sudah  merebut
kedudukan  PNI sebagai "partai priyayi", yang menjadi  panutan
massa  "proletar  bangjo". Tanpa pandai  membaca,  dan  berani
dengan tegas mengartikulasi amanat "proletar bangjo" di  desa,
PNI  tidak akan mendapat pasaran. Tapi, jika Semangat Ciganjur
(plus  atau  tanpa  plus) bisa dipandang  sebagai  pencerminan
kecenderungan Semangat Empat Besar, pertanyaan besar yang satu
itu juga yang tetap kumandang: "Quo Vadis Reformasi?"***

Catatan:
(1)  Semua kata pada dua baris pertama nama nama etiket  rokok
yang lazim waktu itu.
Terjemahan  baris  baris selanjutnya: Tanam  jarak  Amat  jadi
heiho  /  bercelana bagor / bersarung kedodoran (yang dimaksud
sarung  dari bahan karet lateks) / bubur bekatul upah menumbuk
padi //
(2)  Hari-hari pasaran ada lima: Pon, Wage, Kliwon, Legi,  dan
Paing.
(3)  Sejak  jaman  Jepang jaringan kereta api terhenti  sampai
Palbapang,   2  Km  selatan  Bantul.  Palbapang  -   Sewugalur
disambung dengan munthit, kereta api tebu yang diberi  dinding
gedek dan bangku bangku kayu. Tidak lagi mengikuti jalan  NIS,
tapi  di timur Mangiran membelok ke utara melalui Gesikan  (di
sini  ada  pabrik  gula), terus ke selatan  mendekati  Padokan
(pabrik gula lainnya), baru kembali mengikuti jalan lama NIS.
(4) "Tingwe", akronim dari "nglinting dhewe"; (rokok) gulungan
sendiri.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html






Onder klapperbomen

Terug naar: Top       Terug naar: Lied/voordracht-overzicht