Geografie
Ligging van het kamp       Terug naar: Algemeen overzicht

 

omgeving van Sewugalur

Di awal abad ke-19 dari jaman normal itu, "Afdeling KulonProgo", yaitu wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningratyang terhampar di sebelah barat aliran Sungai Progo itu,dibagi dalam dua bagian. Ini terjadi sejak "jaman Raffles", ketika Sir Thomas Stamford Raffles menjabat Letnan Gubernur untuk Jawa dan Daerah Seberang (1811-16). Bagian yang utara, kira-kira dua-pertiga seluruh luas, tetap di bawah kekuasaan pemerintah Kesultanan dengan pejabat tertinggi berpangkat bupati, dan berkedudukan di Sentolo. Sedangkan sepertiga bagian yang selatan, sampai ke Laut Selatan (dengan demikian sama-sama berhak atas serambi Kedatuan Nyai Lara Kidul),dihadiahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa kepada Inggris dan diwisuda sebagai Adipati Paku Alam I. Karenanya wilayah itu selanjutnya disebut Kadipaten Adikarta, diperintah pejabat berpangkat bupati yang berkedudukan di Wates, dan dibagi dalam empat kecamatan (saat itu: onder district): Wates, Temon, Panjatan dan Brosot.

Brosot ketika itu, terkadang juga disebut Galur (Galoer), secara administratif merupakan wilayah setingkat kecamatan (sebutan waktu itu "asistenan"). Walaupun demikian "kota kecamatan" ini merupakan kota terbesar kedua sesudah Wates. Sekitar 2 Km arah baratdaya Brosot, terletak Desa Sewugalur (termasuk wilayah Kelurahan Trayu) yang selain lebih ramai juga lebih "berbau belanda", jika dibanding baik dengan desa-desa selebihnya, maupun dengan Brosot sebagai ibukota wilayah sekalipun! Di Desa Sewugalur ada sebuah pabrik gula, satu-satunya diseluruh wilayah Kadipaten Adikarta. (Saudara Bill tahu, kapan pabrik gula ini mulai bekerja? Aku tidak tahu). Namun ijinkan aku memberanikan diri menduga: Barangkali inilah bentuk penjabaran politik pemerintah kolonial agar Adipati Paku Alaman, di satu pihak, tetap loyal pada "Kangjeng Gubermen", dan di lain pihak, tetap bisa mandiri dari Kasultanan yang terkadang suka memberontak itu.

Dengan adanya pabrik gula itu, Desa Sewugalur mempunyai alun-alun yang asri, dikelilingi barang lima bangunan gedung bergaya bangunan Barat, tempat kediaman tuan-tuan Belanda pembesar pabrik dan keluarga mereka. Pastilah tidak kebetulan jika Pak Lurah Trayu, seorang raden mas yang berlatar belakang pendidikan Belanda. Sehingga oleh karenanya, mampu dan tidak kikuk dia untuk duduk sejajar dengan para pembesar pabrik. Sungguh jauh ia jika dibanding dengan kebanyakan lurah desa dijaman itu, dan bahkan agaknya juga dengan Ndara Seten Brosot sendiri. Tentu oleh adanya pabrik gula itu juga, maka Sewugalur menjadi tempat perhentian terakhir kereta api NIS (Ned.Indische Spoorwegmaatschappij). Itu pertama. Kedua, tak lepas dari pengaruh suasana kebudayaan yang demikian jugalah kiranya, jika Sewugalur mampu menjadi pendukung bagi lahir dan perkembangan Islam Muhammadiyah. Sehingga berdirilah di sana, entah sejak kapan, sebuah pondok modern Madrasah Muhammadiyah Darul 'Ulum.

Seorang penyair Angkatan 45 pernah lahir dari madrasah ini, yaitu Raden Suradal Abdul Manan yang bernama pena Mahatmanto. Inilah salah satu sajaknya, yang pernah terbit lebih setengah abad lalu, namun rasanya belum kehilangan aktualitas:

 

Cakar atau Ekor? 
Di mana batas? .... 
semua hendak serba bebas .... 
melanggar meliar. 
Bukankah setiap selalu hendak serba baru, 
jadi menipu, 
memalsu? 
serba aksi jadi imitasi? 
serba kuasa jadi memperkosa? 
Ah, hanya pun kiri, 
kalau selalu hendak serba kiri, 
paling ke kiri dari yang terkiri, 
di sana sayap jadi cakar ...
Sebaliknya pun: kanan, 
kalau serba paling terkanan,
di sana sayap jadi ekor ...
("Mimbar Indonesia", Th.I No.3; 6 Des. 1947)


***

SEWUGALUR.

Stasion terakhir jaringan arah barat daya NIS di daerah Vorstenlanden. Di situ ada sebuah pabrik gula, sandaran utama rumah tangga Kadipaten Paku Alaman. Ada beberapa gedung pemukiman Belanda tuan-tuan pabrik. Ada perguruan Islam Darul 'Ulum yang, karena wataknya yang modern, lebih kondang ketimbang pondok pesantren Krapyak di ujung selatan kotaYogya. Ada lapangan yang asri milik pabrik, tapi juga menjadi tempat salat jumat yang resik. Di situ juga Jepang merasa mendapat tempat yang sesuai untuk menjajakan politik perang fasistis Asia Timur Raya dalam kemasan "perang jihad" dan"perang sabil" untuk menghancurkan si kafir Inggris-Amerika. Tidak jauh dari Sewugalur, kurang dari 1 Km ke arah Brosot, terletak kesatrian tentara Peta, Pembela Tanah Air, dibawah pimpinan Cudanco Pak Danu. Dari kompleks kesatrian inilah selalu bergema berbagai lagu mars Jepang atau Indonesia, antara lain tentu saja:

Awaslah Inggris dan Amerika
musuh seluruh Asia
yang mau memperbudakkan kita
dengan sesuka hatinya

(2 kali): Inggris kita linggis
Amerika kita set'rika

Di tanah lapang ini juga, di jaman Jepang itu, penduduk dan anak-anak sekolah, aku termasuk, pernah dikerahkan untuk mendengarkan sesorah Pak Kaji Jabir (bukan Haji Jabir yang Wong Solo, Digulis, PKI, dan ayah Prof. Baiquni yang ahli atom itu) tentang lahirnya Majelis Syuro Muslimin Indonesia(Masyumi). Tetapi wajah Desa Sewugalur belum cukup tergambar hanya melalui cerobong pabrik gula dan beduk madrasah Muhammadiyah Darul 'Ulum. Wajah Desa Sewugalur juga menampilkan sisinya yang lain dan yang justru utama: sisi kejawen.

Tidak jauh dari lapangan Sewugalur itu ada rumah seorang Denmas yang "orang pandai" yang, melalui azimatnya berupa "Kaca Paesan", mempunyai daya kemampuan tembus pandang. Banyak orang datang pada Denmas ini, masing-masing dengan permasalahannya sendiri: sepeda "fongers" hilang, menderita sakit menahun, suami-istri mandul, hama menthek dan kebo ijo mengganas dsb dsb. Si Denmas akan membantu menemukan jawabnya tentang segala musibah dan bencana itu, dengan jalan bertanya pada Sang Kaca Paesan. Kaca Paesan itu sepertinya kaca pengilon biasa, berbentuk lonjong, tinggi lk 25 Cm dan lebar lk. 15 Cm. Tapi barangkali berkaca cembung. Maka, apabila Denmas berkaca,wajahnya dalam ukuran maksi tercermin di sana. Konon jawaban masalah itu akan terbayang di balik bola matanya sendiri, sehingga memungkinkan baginya untuk "membaca" gambar jawaban persoalan.

Kalau hama menthek ganas, sesaji apa misalnya harus dibikin; kalau sepeda hilang, di mana barang itu sekarang adanya; kalau suami-istri mandul, tirakat macam apa harus dilakukan; dll. dsb. Dulu, entah kapan, di Sewugalur pernah dibuka sekolah HIS. Tapi karena kekurangan murid, sekolah itu ditutup. Murid-muridnya yang tak sebanyak jumlah jari dua belah tangan, pindah bersekolah ke kota dan "nglajo" kereta api Sewugalur -Yogya setiap hari. Ke "negara" istilah rakyat waktu itu. Berangkat pukul setengah lima pagi, dan tiba kembali menjelang senja hari. Sampai menjelang Jepang datang, yang tersisa dari HIS itu tinggal kelas persiapan, voorklas, dan yang agaknya menjadi bagian dari kegiatan Gereja Katolik. Tidak lagi di Sewugalur, tapi di Brosot dan berjalan pada sore hari diruangan kapel, yang terletak di sebelah timur pasar. Selain klas persiapan HIS Brosot punya dua "Sekolah Desa", laki-laki dan perempuan; masing-masing dengan tiga kelas, berpengantar bahasa Jawa dan menggunakan aksara Jawa. Kemudian ada satu "Sekolah Sambungan" dengan dua kelas.

Tamat dari sekolah ini, bagi yang ingin menjadi "abdi dalem priyayi" harus mencari jalan magang pada priyayi, atau bagi yang tak punya akses ke sana, kembali memegang pacul ke sawah atau ladang, atau masuk "Sekolah Penghubung" ("schakel" ke HIS) bagi yang punya akses untuk menjadi "priyayi gubermen". Entah kapan tepatnya dua jenis "sekolah pribumi" itu disatukan, menjadi lima kelas dan bernama "Sekolah Ra'iat". Kemudian pernah bernama "Sekolah Rakyat" dengan enam kelas, pernah pula sebentar menjadi "Sekolah Rakyat Sempurna" dengan tujuh kelas,sampai akahirnya kembali ke enam kelas dan disebut "Sekolah Dasar" sampai sekarang. Letak sekolah itu masih tetap pada tempatnya sampai sekarang. Di antara deretan toko-toko Tionghwa (waktu itu),mulai percabangan jalan di ujung barat, sampai di depan Balai Desa, di bibir aliran Kali Progo di ujung timur.

Halaman sekolah itu luas, dahulu ditanam beberapa batang pohon waru dan melinjo. Satu dua batang diantaranya sekaligus berperanan selaku "pencokan" jika murid-murid berolahraga bermain kasti. Di jaman Jepang pohon-pohon ini ditebangi, diganti pohon-pohon talok yang mendapat sebutan aneh bagi telinga desa: "kersen". Konon kabarnya diperintahkan penanamannya oleh pemerintah militer Jepang, memang karena kemiripan bentuk daun dan warna bunganya dengan pohon sakura itu. Maka penanamannya pun dilakukan dengan upacara dan memilih "saat yang baik". Tanggal 8 Februari, yang pada penanggalan tahun Syowa dicetak merah. Tanggal itu juga mempunyai nyanyian khusus, yang syairnya tak lagi kuingat,tapi dua baris pertama lagunya tersusun dari nada-nada: sol-sol-sol la-mi-mi re mi-sol-sol sol-la-mi ... sol-sol-sol la-mi-mi re-do-re re-re-mi do ...

Sementara itu beredar juga dimasyarakat lagu "Bunga Sakura", entah komposisi siapa, tapi mungkin salah seorang dari Keimin Bunka Shidoso: "Bunga Sakura indah jelita dipandang mata putih kemerahan tampak warnanya Sakura indah jelita ..." dst Barangkali memang begitulah. Sakura indah di musim semi di Jepang. Ketika hamparan tipis selimut salju putih di sana-sini saling membelai dengan lembar lembar sinar matahari terbit. Tapi di tengah warna desa yang compang camping kecoklatan, di manakah letak keindahan kembang talok, walaupun melalui inisiasi kemiliteran, telah diubah menjadi "kersen"? Hanya pasangan-pasangan burung prenjak yang bisa "plenyar-plenyir" menyanyi bersahutan, sambil mematuki buah-buahnya yang seperti berpasir tapi manis.

Het Zuiderkruis
Terug naar: Top       Terug naar: Algemeen overzicht